Kisah Pengemudi Ojol Lulus Cumlaude dari Undip

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 9 Agustus 2019 07:00
Kisah Pengemudi Ojol Lulus Cumlaude dari Undip
Menjalani tiga aktivitas sekaligus.

Dream - Ini kisah inspiratif. Cerita tentang mahasiswa lulus dengan prestasi cemerlang, meski selama menuntut ilmu harus pontang-panting mencari uang tambahan untuk menggenapi biaya kuliah.

Leony Panjaitan. Dialah mahasiswi Universitas Diponegoro, Semarang, yang memberi teladan untuk kita semua. Dia lulus dengan predikat cumlaude dari Fakultas Hukum. Saat kuliah, dia harus menjadi driver ojek online untuk menambal kebutuhan.

Kisah mahasiswi yang karib disapa Lele ini diunggah ke Twitter oleh akun @nehasman. Dalam unggahan itu, Leony terlihat didampingi oleh kawan-kawannya sesama pengemudi ojek online saat wisuda.

" Sampai beberapa hari sebelum sidang skripsi Lele bela-belain tetap nge-gojek. Katanya, biar nggak jelek performanya dan nggak kena suspend," tulis @nehasman, pengemudi ojol.

Foto Lele muncul pertama kali dari unggahan @gizayeolsung. Dia membagikan foto Lela berjaket ojol dan pakaian toga. Lele merupakan adik kelas Giza.

" Dari semester lima udah ngegojek sampai dia lulus hari ini (Rabu, 7 Agustus 2019)," tulis Giza.

1 dari 5 halaman

Ayahnya Sakit

Menurut Giza, Leony merupakan mahasiswa yang aktif berkegiatan. Dia kerap mengikuti lomba dan organisasi.

Aktivitas Leony di dunia akademik sempat terhalang karena kondisi keluarganya. Ayah Leony sakit.

Meski demikian, dia tetap tergabung di forum debat. " Terus ngegojek. Gue aja pas semester 6, ngelepas organisasi buat fokus sama skripsi. Lah dia jalanin tiga-tiganya," ujar dia.

2 dari 5 halaman

Mencintai Pekerjaannya

Di jalan akademik, Leony mengambil jurusan hukum dan masyarakat. Jurusan yang, menurut Giza, paling dihindari.

Meski sibuk dan mengambil jurusan paling berat di Undip, Leony mampu membuktikan diri. Dia kerap mengharumkan Undip.

Lantas bagaimana dengan ojol? Lele tak pernah memandang sebelah mata aktivitasnya di ojol. " Dia sangat mencintai pekerjaannya sebagai driver di @gojekindonesia. Sampai gue lulus pun gue sering lihat IG story dan postingan IG dia tentang pekerjaan ini. Dia selalu membanggakan pekerjaannya," tulis dia.

3 dari 5 halaman

Putri Tukang Becak Lulus S2 ITB, Gelar Master Diraih Cuma 10 Bulan

Dream - Tahun lalu, Herayati Sawitri, menyedot perhatian publik. Putri tukang becak asal Kota Cilegon, Banten ini menorehkan prestasi membanggakan. Dia meraih gelar sarjana (S1) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan predikat Cum Laude.

Kali ini, Herayati kembali menorehkan prestasi. Hera lulus dari jenjang S2 di almamaternya pada 20 Juli 2019 lalu.

Sama seperti saat kuliah tingkat Sarjana, kali ini Herayati mengukir prestasi dengan menghabiskan pendidikan master hanya dakan waktu 10 bulan.

" Saya ambil S2 Kimia. Masa studi kurang lebih 10 bulan. Hera lulus sidang Magister 15 Mei lalu," kata Hera, dikutip dari BantenNews.co.id.

Setelah lulus S1 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,77, Hera mendapat kesempatan menempuh studi S2 melalui program beasiswa Fast Track ITB. Dia mengambil Program Pascasarjana Kimia.

4 dari 5 halaman

Mengabdi Sebagai Dosen di Banten

Usai meraih gelar Magister, Hera punya keinginan mengabdi di Banten sebagai dosen. Dia sudah diminta menjadi pengajar oleh pihak rektorat Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).

" Setelah wisuda saya ingin mengabdi di Banten," kata Hera.

Selain menjadi dosen, Hera masih punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Tetapi, mimpi itu akan dia wujudkan beberapa tahun lagi setelah dia resmi mengajar di Untirta.

" Pengennya nanti setelah resmi jadi dosen, mungkin 2021 akan ambil studi S3," kata Hera.

Sumber: Bantennews.co.id

5 dari 5 halaman

Putri Pengayuh Becak Lulus ITB dengan Predikat Cum Laude

Dream - Gadis kelahiran Cilegon, Banten, Herayati, membuktikan kekurangan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Gadis putri seorang tukang becak ini lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan predikat Cumlaude.

Herayati menamatkan pendidikan sarjana di Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna yaitu 3,77. Bahkan sat menjalani kuliah semester V, IPK Herayati masuk kategori sempurna, 4,00.

Selama kuliah, Herayati tidak mengandalkan uang dari orangtua. Mahasiswi berprestasi ini mendapatkan beasiswa Bidik Misi.

Herayati mengaku sudah lama ingin kuliah di ITB dengan beasiswa. Dia terinspirasi oleh salah satu alumni di sekolahnya yang bisa kuliah di kampus yang sama tanpa uang pribadi sepeserpen, sepenuhnya dari beasiswa.

" Saya juga ingin berkuliah tanpa membebankan biaya ke orang tua," kata Herayati dikutip dari itb.ac.id, Kamis 26 Juli 2018.

Meski begitu, dia tidak sepenuhnya menggantungkan pembiayaan dari beasiswa. Herayati juga mencari yang tambahan dengan menjadi guru les privat untuk mahasiswa tingkat pertama ITB.

Meski sibuk dengan tugas kuliah dan mengajar, nyatanya Herayati tetap bisa berprestasi. Awal tahun 2017, gadis ini mendapatkan penghargaan dari Dosen FMIPA karena IP yang selalu sempurna sejak semester I sampai semester V.

Tak hanya itu, Herayati juga pernah menjadi delegasi Indonesia dalam Asia Pasific Future Leader Conference 2017 di Kuala Lumpur. Dia merasa sangat bangga menjadi wakil Indonesia.

" Ini salah satu momen yang tak terlupakan selama menjadi mahasiswa karena bertemu dengan orang-orang dari negara lain," ucap Herayati.

Prestasi tersebut membuat Herayati mendapat banyak dana bantuan pendidikan. Beberapa di antaranya seperti dari Pemerintah Kota Cilegon, Kepala Staf Presiden Moeldoko, dan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan.

Saat ini, Herayati tercatat sebagai mahasiswi program fast track yang dicanangkan ITB. Program ini memungkinkan seorang mahasiswa menempuh pendidikan S1 sekaligus S2 selama lima tahun.

(Sah)

Beri Komentar
ANGRY BIRDS 2, Animasi Lucu dengan Pesan Tersembunyi - Wawancara Eksklusif Produser John Cohen