CONNECT WITH US!

Lebaran di Kampung Halaman

Reporter : Ahmad Baiquni | Sabtu, 24 Juni 2017 21:02
Sumber Foto: Merdeka.com
Jutaan orang mudik, meninggalkan tanah rantau ke kampung halaman.

Dream – Pontianak mulai meremang, dibungkus senja. Ratusan orang meriung di tepi Sungai Kapuas. Tua, muda, laki, dan perempuan. Beberapa memegang obor. Berdiri di dekat kayu gelondongan yang rebah ke tanah.

Matahari sudah benar-benar tenggelam. Hanya tersisa semburat merah di ufuk barat. Seketika itu suasana makin riuh. Obor-obor yang sejak siang padam, mulai disulut. Bergantian, kepala obor ditempel ke pangkal kayu gelondongan.

Semua orang menutup telinga. Rapat, hingga kedap. Beberapa bahkan lari menjauh. Dalam sekejap suara menggelegar membelah langit Pontianak. Benar-benar memekakkan telinga. “ Duar….

Di seberang, cahaya berkilatan. Disusul rentetan dentuman. Ledakan satu disusul gelegar berikutnnya. Sahut-menyahut. Bak meriam pada zaman perang. Duar.. duar.. duar...

Orang boleh saja terkejut. Namun tak ada amarah. Apalagi takut. Semua bergembira. Sorak-sorai membahana. Menyambut dentuman-dentuman itu dengan pekik Takbir, Tahmid, dan Tahlil. “ Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaaha ill-Allah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillah il-hamd.

Itulah kemeriahan festival meriam karbit warga Pontianak. Gelegar meriam itu menandai akhir Ramadan. Sekaligus menyambut Idul Fitri yang jatuh pada pagi hari berikutnya. Semua orang bersuka cita. Menyambut hari kemenangan.

Lebaran memang selalu istimewa. Penuh makna. Pada hari itu, manusia kembali suci setelah menempa dan menahan diri selama sebulan penuh.

Sehingga, tak heran jika umat Muslim menggelar perayaan. Salah satunya dengan festival meriam karbit sebagaimana dilakukan warga Pontianak, Kalimantan Barat, itu.

***
Tradisi-tradisi seperti itulah yang selalu dikenang. Dikangeni orang-orang yang berada di rantau. Sehingga tak heran, saban jelang Lebaran, banyak orang pulang kampung. Lebih dikenal dengan istilah mudik. Jutaan orang bermigrasi.

Lihat saja data Kementerian Perhubungan. Tahun lalu tercatat jumlah penggunaan mobil pribadi saat mudik mencapai 2.478.069. Angka ini meningkat 4,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, 2.371.358.

Itu masih mobil, belum pasukan motor. Pemudik motor tahun lalu 5.638.683 unit. Meningkat 50 persen dari tahun sebelumnya, 3.759.122.

Keseluruhan pemudik tahun lalu mencapai 26,11 juta orang dengan pelbagai moda transportasi. Rinciannya, 5,63 juta orang mudik menggunakan sepeda motor, 17,99 juta pemudik dengan kendaraan umum, dan sisanya sebanyak 2,47 juta orang dengan mobil pribadi.

Orang bersedia menempuh perjalanan berhari-hari. Bergulat dengan kemacetan. Tentu masih segar dalam ingatan kita, lalulintas yang mampat selama berhari-hari di exit tol Brebes Timur. Setidaknya 18 pemudik meningal dalam peristiwa yang dikenal dengan sebutan Brexit itu. Dunia bahkan dibuat gempar.

Semua itu, demi kampung halaman. Bisa bersilaturahmi, berkumpul bersama keluarga. Dan tradisi-tradisi di daerah, seperti festival meriam karbit di Pontianak itu selalu menjadi kenangan. Terutama bagi mereka yang tumbuh dan besar di daerah.

***
Dan tradisi unik Lebaran di Tanah Air tak hanya festival meriam karbit itu. Tiap daerah punya kebiasaan berbeda. Dan pastinya, semua membekas dalam kehidupan para penduduk, terutama kaum perantau.

Cobalah singgah ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, saat Idul Fitri. Di sana kita akan menemukan Lebaran Topat. Hari Raya ini digelar setelah enam hari puasa di bulan Syawal.

Bagi masyarakat Lombok, hari raya ini dikenal dengan Lebaran Nine atau Lebaran Wanita. Berbeda dengan Idul Fitri yang dianggap sebagai sebagai hari raya kaum laki-laki atau yang dikenal oleh warga di sana sebagai Lebaran Mame.

Saat Lebaran Topat, warga akan sibuk sejak subuh. Menyiapkan ketupat yang sudah dimasak hari sebelumnya. Nasi berbungkus janur itu kemudian didoakan di masjid maupun di rumah-rumah warga. Setelah itu, warga beramai-ramai berkunjung ke makam-makam leluhur.

Makam Loang Baloq dan Makam Batu Layar di kawasan Pantai Senggigi jadi tujuan banyak orang. Areal pemakaman yang sehari-hari sepi pun menjadi ramai. Ribuan orang berjubel. Selain ke makam leluhur, warga banyak mendatangi tempat-tempat wisata dengan berbekal ketupat.

Tak ada catatan jelas sejak kapan tradisi ini ada. Namun cerita masyarakat sekitar menyebut perayaan ini sudah berlangsung sejak pertama kali Islam masuk ke Lombok. Saat putra Sunan Giri, Sunan Prapen, menjejakkan kaki di Lombok pada abad XVI-XVIII. Yang jelas, tradisi ini tetap bertahan hingga kini.

Atau terbanglah ke Aceh. Di Serambi Mekah itu, ada Meugang. Tradisi ini berlangsung di awal Idul Fitri. Di hari terakhir Ramadan, warga dari penjuru kampung berbondong ke pasar. Atau ke lapak-lapak yang menjamur di sepanjang jalanan. Mereka memborong daging sapi.

Daging-daging itu diolah. Dimasak dengan racikan bumbu tradisional. Aroma masakan pun meruap dari setiap dapur. Beradu nikmat di udara. Saat berbuka tiba, berbagai menu daging pun tersaji di meja.

Tradisi ini ada sejak Sultan Iskandar Muda memimpin Kerajaan Aceh Darussalam. Rentang tahun 1607-1636. Istilah Makmeugang diatur dalam Qanun Meukuta Alam Al Asyi atau Undang-Undang Kerajaan. Pada zaman itu, Kerajaaan memerintah perangkat desa mendata warga miskin untuk mendapatkan hadiah daging dari Sultan.

Saat Belanda menguasai Aceh pada 1873, kerajaan kalah dan bangkrut. Kerajaan tak lagi membagikan daging. Tapi rakyat Aceh tetap memperingati tradisi dengan membeli sendiri daging.

Bagi warga Aceh, makan daging sapi saat Idul Fitri menjadi keharusan. Kaya maupun miskin harus menikmatinya. Bahkan, serasa menjadi aib bagi laki-laki Aceh jika keluarga tak makan daging sapi saat Lebaran.

Di manapu Anda berada, Sahabat Dream, semoga Idul Fitri ini tak kurang suatu apapun. Semoga kita semua kembali fitri. Selamat berlebaran. Minal 'aidin wal-faizin, mohon maaf lahir dan batin.

#MovieTalk Warkop DKI Reborn [Part 1]