Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Inovasi-inovasi teknologi yang dilakukan mahasiswa Indonesia terus berkembang. Yang terbaru, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta menciptakan mesin `pemetik` air bersih bernama Magic Water Harvester.
“ Magic Water Harvester ini dikembangkan untuk menjadi alternatif solusi dalam mengatasi persoalan kelangkaan air di beberapa daerah Indonesia,” kata salah satu pengembang, Amalia Adinugraha Arisakti, diakses dari laman resmi UGM, Minggu, 8 Juli 2018.
Amalia dan rekan sejurusannya di Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknik Pertanian (FTP), Arjuna Maulana Rifqi dan Dimas Sandy D R, menciptakan alat ini karena potensi air bersih dari udara. Dalam iklim tropis, kelembapan udara rata-rata mencapai 80 persen.
“ Hal ini menunjukkan bahwa udara di Indonesia mempunyai kandungan air dalam udara yang banyak,” kata Amalia.

Dalam sehari, kebutuhan akan air bersih semakin meningkat. Saat ini, rata-rata penggunaan air masyarakat berjumlah 169,11 hingga 247,36 liter per orang per hari.
Diprediksikan pada 2025 mendatang Indonesia akan mengalami kelangkaan air bersih akibat ketersediaan air tanah yang tak sebanding dengan penggunaan manusia.
“ Dengan mesin ini diharapkan bisa sebagai solusi mendapatkan air bersih,” ucap dia.
Mesin ini dapat menghasilkan air yang berasal dari udara bebas, bukan air tanah. Dibuat dengan empat komponen utama, yaitu peltier, heat sink, fan, dan power supply.
Alat ini bekerja menggunakan prinsip titik embun. Untuk mengubah udara menjadi air dilakukan dengan mengkontakkan udara lingkungan dengan plat (heat sink) bersuhu di bawah titik embunnya. Dengan begitu, akan terjadi pengembunan dan embun-embun yang ada menggumpal menjadi tetes-tetesan air.

“ Alat sudah kami ujikan di Laboratorium FTP dan bisa menghasilkan sebesar 70 mililiter air bersih,” ujar dia.
Kesulitan yang dihadapi Amalia saat ini yaitu alat ini belum dapat menghasilkan air dalam jumlah besar. Kondisi ini disebabkan karena alat yang mereka kembangkan masih berupa prototipe.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya