Masih Mau Gelar Pernikahan di Masa Pandemi? Begini Aturan Resepsinya

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 9 Juli 2020 06:12
Masih Mau Gelar Pernikahan di Masa Pandemi? Begini Aturan Resepsinya
Namun, di era new normal ini masyarakat boleh menggelar pernikahan, tetapi harus diatur dengan peraturan yang ketat

Dream - Memasuki era adaptasi kehidupan baru (New Normal) membuat sebagian pegawai harus kembali menjalani beraktivitas dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Sebagian masyarakat juga diperbolehkan untuk keluar rumah dengan mengikuti ketentuan menggunakan masker dan menjaga jarak. 

Salah satu aktivitas masyarakat yang juga sudah diperbolehkan adalah menggelar pernikahan. Namun tak seperti di masa normal, masyarakat yang akan menggelar menggelar pernikahan wajib patuh pada peraturan yang sangat ketat. Pernikahan juga boleh digelar jika pengantin berada di wilayah yang dipastikan aman dari Covid-19.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga telah mengeluarkan aturan tentang pedoman tatanan normal baru produktif dan aman Coronavirus Disease 2019 bagi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan kementerian dalam negeri dan pemerintah daerah nomor 440-830/2020.

1 dari 4 halaman

Penyelenggara WO Bikin Kajian Protokol Pernikahan di Masa Pandemik

Kembali dibukanya izin menggelar pernikahan diharapkan Gabungan Perkumpulan Penyelenggara Pernikahan Indonesia (GPPPI) akan membangkitkan geliat industri pernikahan. Penyusunan langkah strategis diwujudkan dalam simulasi pernikahan dengan menerapkan protokol kesehatan di era new normal.

Ketua Umum Himpunan Perusahaan Penata Acara Pernikahan (Hastana), Gandi Priapratama menyebut, masa pandemi COvid-19 membuat industri wedding organizer (WO) berhenti total. Hal ini mengingat pihak penyelenggara terbentur izin keramaian karena pernikahan senantiasa melibatkan banyak orang.

" Karena itu, kami mewakili bidang masing-masing, membuat rumusan protokol acara pernikahan di era new normal nanti setelah pemerintah membuka izinnya. Kami buat protokol ini, dikaji oleh anggota sesuai bidang masing-masing," kata Gandi di Gedung Dhanapala, Jakarta Pusat, Selasa, 7 Juli 2020.

2 dari 4 halaman

Simulasi pernikahan dengan protokol kesehatan ini melibatkan seluruh elemen yang tergabung dalam GPPPI. Terdiri dari Hastana Indonesia, Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI), Asosiasi Pengusaha Jasa Dekorasi Indonesia (ASPEDI), Himpunan Pengusaha Dokumentasi Indonesia (HIPDI), Himpunan Ahli Tata Rias Pengantin Indonesia (Harpi Melati), Himpunan Pembawa Acara Pernikahan Indonesia (HIPAPI), dan Ikatan Pengusaha Jasa Musik Pernikahan Indonesia (HIPAMI).

" Tujuannya adalah kita menunjukkan ke masyarakat untuk nanti seandainya sudah dibuka, masyarakat mengadakan pesta pernikahan sesuai protokol yang sudah ditentukan," ungkap Gandi.

" Protokol ini juga sudah kami sampaikan ke pemerintahan, tak hanya di Jakarta, di beberapa daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan di Jambi juga ada beberapa daerah yang sudah memberikan protokolnya ke pemerintahan," tambahnya.

3 dari 4 halaman

Aturan Buat Tamu Undangan dan Ruang Resepsi

Simulasi ini akan menjadi acuan protokol kesehatan untuk pernikahan new normal. Mulai dari layout ruangan yang hanya diisi dengan 50 persen kapasitas ruangan, penyiapan ruang tunggu untuk mengatur alur tamu di dalam ruang utama, panggung pelaminan berundak untuk prosesi salaman dan foto secara physical distancing.

Selain itu, ketika tamu datang ke venue pernikahan, harus melewati proses pengecekan suhu tubuh, mencuci tangan, dan memakai hand sanitizer. Pengisian buku tamu dapat dilakukan dengan manual atau digital dan memakai hand sanitizer kembali usai mengisi yang manual.

Di dekat area ini, juga disediakan ATM Masker tanpa sentuhan. Tata cara pengambilan masker dimulai dengan membersihkan tangan memakai hand sanitizer tanpa sentuhan, tetapi mendekatkan tangan ke sensor sehingga hand sanitizer keluar dengan sendirinya, cara yang sama diterapkan untuk mengambil masker.

4 dari 4 halaman

Tanpa Kontak Fisik Dengan Mempelai dan Keluarga

Pemberian angpau pun dapat secara manual ataupun disediakan secara digital. Flow kehadiran tamu dilanjutkan dengan tamu memasuki area acara lewat pintu masuk. Berada di jalur salaman dengan menjaga jarak antre dan menggunakan hand sanitizer sebelum naik pelaminan.

Tak ada kontak fisik dengan mempelai dan orangtua, tetapi memberi salam hormat atau namaste. Dari segi penyajian makanan, petugas katering harus menggunakan sarung tangan, masker, dan face shield. Pengambilan makanan dilayani dengan cara disajikan oleh petugas katering.

Berlanjut dengan mengarahkan tamu untuk duduk di kursi atau bila berdiri tetap menjaga jarak. Diharapkan untuk tidak menyumbang lagu, tidak menyentuh properti dekor, dan mengoptimalkan waktu berada di area ruangan resepsi.

Lalu, tamu mengambil souvenir yang sudah disterilkan di area souvenir, menerima hampers (bila menggunakan sistem hampers). Terakhir, tamu menuju akses pintu keluar.

(Sah, Liputan6.com)

 

Beri Komentar