Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

`Penyuluh Profesi Mulia, Kepercayaan Negara dan Agama`

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Jumat, 21 September 2018 14:02
`Penyuluh Profesi Mulia, Kepercayaan Negara dan Agama`
Lukman menyebut penyuluh mengemban amanah luar biasa dan strategis.

Dream - Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin mengingatkan bahwa penyuluh merupakan profesi mulia. Menurut dia, profesi ini menyandang predikat sebagai kepercayaan negara dan Tuhan.

Lukman mengatakan penyuluh agama memiliki peran yang luar biasa bagi bangsa. Mereka, kata dia, mengemban amanah untuk menerangi masyarakat ihwal keagamaan.

" Negara mempercayakan fungsi yang terhormat dan mulia ini kepada para penyuluh. Ini tidak main-main dan tidak semata negara, namun juga kepercayaan dari Tuhan," ujar Lukman, dikutip dari kemenag.go.id, Jumat 21 September 2018.

Para penyuluh, menurut Lukman, adalah orang pilihan yang mengemban amanah sangat mulia. Penyuluh merupakan ujung tombak penyebaran nilai-nilai religius yang penuh kedamaian.

" Saya sengaja menyampaikan ini agar lebih meneguhkan siapa kita, bahwa kita adalah orang pilihan Tuhan dan negara," kata Lukman.

Selanjutnya, Lukman mengajak para penyuluh untuk memuliakan profesi dengan menjalankan tugas sebaik-baiknya. Yaitu dengan menyikapi agama sesuai esensinya.

" Fungsi agama agar manusia bisa tetap terjaga harkat martabat dan senantiasa menjadi manusia sebagai makhluk hidup di muka bumi," terang dia.

Pada Rabu, Lukman menyempatkan diri menyapa para penyuluh agama dan Babinsa se-Provinsi Banten di Serang. (ism)

 

1 dari 2 halaman

Menag: Naskah Kuno Keagamaan Penting untuk Kehidupan Kekinian

Dream - Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin menekankan pentingnya pelestarian naskah kuno terutama di bidang keagamaan di era digitalisasi seperti sekarang ini. Menurut Lukman, beragam naskah kuno mengandung pelajaran penting terkait kehidupan beragama.

" Dalam konteks sekarang, di era digitalisasi, dalam melihat manuskrip, naskah-naskah kuno memberi pelajaran penting bagi kehidupan," ujar Lukman, dikutip dari Kemenag.go.id, Kamis 20 September 2018.

Lukman menyampaikan hal ini dalam Seminar Internasional Penaskahan Nusantara di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat. Seminar tersebut mengangkat tema 'Nilai-nilai Luhur Keagamaan dalam Naskah Nusantara sebagai Acuan Kehidupan Beragama di Indonesia'.

Lukman menyampaikan perlunya pemaknaan ulang terhadap peninggalan masa lalu dengan situasi saat ini. Dengan memaknai kembali pesan-pesan luhur yang tercantum dalam berbagai naskah kuno tersebut.

" Untuk memaknai nilai-nilai luhur, setidaknya dua hal, pertama, mengaitkan antara teks dan konteks, ini mutlak," kata dia.

 

2 dari 2 halaman

Butuh Wawasan yang Luas

Menurut Lukman, kualitas sebuah penafsiran bergantung pada tingkat wawasan seseorang. Tentu membutuhkan penguasaan sejumlah ilmu yang saling terkait.

" Kita punya kebebasan menafsirkannya, tergantung teks dan konteksnya," ucap dia.

Menag Lukman membuka AICIS

Lukman pun memberikan contoh dengan Wayang Beber. Hanya ada satu gambar, namun dapat memberikan cerita yang menyentuh.

" Ini artinya, kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, dan mengkontekstualisasikan dengan situasi dan kondisi. Ini yang lebih penting," terang Lukman.

Beri Komentar