Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Menag Lukman Hakim Saifuddin (kemenag.go.id)
Dream - Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin menekankan pentingnya pelestarian naskah kuno terutama di bidang keagamaan di era digitalisasi seperti sekarang ini. Menurut Lukman, beragam naskah kuno mengandung pelajaran penting terkait kehidupan beragama.
" Dalam konteks sekarang, di era digitalisasi, dalam melihat manuskrip, naskah-naskah kuno memberi pelajaran penting bagi kehidupan," ujar Lukman, dikutip dari Kemenag.go.id, Kamis 20 September 2018.
Lukman menyampaikan hal ini dalam Seminar Internasional Penaskahan Nusantara di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat. Seminar tersebut mengangkat tema 'Nilai-nilai Luhur Keagamaan dalam Naskah Nusantara sebagai Acuan Kehidupan Beragama di Indonesia'.
Lukman menyampaikan perlunya pemaknaan ulang terhadap peninggalan masa lalu dengan situasi saat ini. Dengan memaknai kembali pesan-pesan luhur yang tercantum dalam berbagai naskah kuno tersebut.
" Untuk memaknai nilai-nilai luhur, setidaknya dua hal, pertama, mengaitkan antara teks dan konteks, ini mutlak," kata dia.
Menurut Lukman, kualitas sebuah penafsiran bergantung pada tingkat wawasan seseorang. Tentu membutuhkan penguasaan sejumlah ilmu yang saling terkait.
" Kita punya kebebasan menafsirkannya, tergantung teks dan konteksnya," ucap dia.

Lukman pun memberikan contoh dengan Wayang Beber. Hanya ada satu gambar, namun dapat memberikan cerita yang menyentuh.
" Ini artinya, kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, dan mengkontekstualisasikan dengan situasi dan kondisi. Ini yang lebih penting," terang Lukman.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya