Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Masjid Kuno Bayan, Lombok (Sumber: Www.indonesia.travel)
Dream - Masyarakat Sasak, etnis asli yang mendiami Pulau Lombok, NTB sebagian besar memeluk agama Islam. Namun Islam di Lombok memiliki keunikan tersendiri.
Di Lombok Islam 'terpecah' menjadi 2 golongan, yakni Islam lima waktu (sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW) dan Islam 'Wetu Telu' yang dibawa oleh Sunan Perapen. Islam Wetu Telu merupakan ajaran Islam yang masih berpadu dengan praktik-praktik ritual agama Hindu, Buddha, dan animisme.
Penyebaran Wetu Telu sekitar 1 persen di seluruh wilayah Lombok, di antaranya terdapat di beberapa desa di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, seperti Loloan, Anyar, Akar-akar, Mumbul Sari dan Desa Senaru.
Istilah Wetu Telu sendiri bermakna 'waktu tiga', yang artinya dalam hidup ini terdapat tiga waktu kemunculan yaitu melahirkan (manganak), bertelur (menteluk), dan berbiji (mentiuk).
Tiga sistem reproduksi tersebut digambarkan di dalam Masjid Kuno Bayan dalam wujud sebuah patung kayu yang disebut Paksi Bayan. Budaya Wetu Telu mempengaruhi masyarakat Bayan dalam bertindak.
Mereka percaya hidup pada dasarnya memiliki siklus dan tingkatan mulai dari kelahiran, beranak pinak hingga kematian. Penganut Wetu Telu meyakini bahwa saat memasuki status atau tingkatan yang lebih tinggi, haruslah dilaksanakan ritual tertentu yang dapat menghindarkan mereka dari gangguan-gangguan hidup.
Mereka pun sangat menjaga warisan leluhur seperti rumah, tanah maupun benda pusaka lain. Karena menurut kepercayaan akan ada bencana jika tidak menjaganya.
Bahkan, yang paling menarik, kaum Muslim Wetu Telu masih mendokumentasikan garis silsilah keluarga pada lembaran daun lontar dengan huruf Jawa Kuno yang hanya boleh dibaca oleh tokoh adat dan dibacakan pada saat-saat tertentu. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya