Menurut Peta Langka Abad ke-17, Begini Penampakan Indonesia

Reporter : Eko Huda S
Selasa, 5 Juli 2016 09:02
Menurut Peta Langka Abad ke-17, Begini Penampakan Indonesia
Peta ini dibuat oleh Antoine de Winter, seniman Amsterdam dan diterbitkan oleh pembuat peta asal Prancis, Nicolas Sanson da`Abbeville pada 1600-1667.

Dream - Ini sebuah peta langka wilayah timur Indonesia. Dibuat pada akhir abad ke-17. Uniknya lagi, peta kuno ini sudah menggunakan banyak warna. Tak hanya hitam dan putih saja, seperti kebanyakan peta yang dibuat zaman itu.

Peta ini dibuat oleh Antoine de Winter, seniman dari Amsterdam, Belanda. Gambar ini diterbitkan oleh pembuat peta asal Prancis, Nicolas Sanson d’Abbeville pada 1600-1667.

Dalam edisi Belanda peta ini terbit dalam Pocket Atlas of Asia c. 1653. Berikut penampakan wilayah Indonesia bagian timur dalam peta tersebut:

 Menurut Peta Langka Abad ke-17, Begini Penampakan Indonesia

Dalam peta ini terlihat kepulauan Indonesia bagian tmur dan Papua Nugini, termasuk Maluku Utara (Ternate dan Tidore) serta Kepulauan Banda yang menghasilkan vanili dan pala.

Peta itu sekarang masih dalam kondisi sangat bagus. Menurut laman bartelegallery.com, peta ini dihargai US$ 590 atau sekitar Rp 7,8 juta. Anda berminat?

1 dari 2 halaman

Segitiga Bermuda Bergeser ke Asia Tenggara?

Dream - Kecelakaan AirAsia QZ8501 di penghujung 2014, bisa dibilang sebagai tahun terburuk bagi industri penerbangan dunia. Terutama untuk Malaysia.

Awal 2014, dunia tertegun ketika Malaysia Airlines MH370 menghilang pada 8 Maret 2014, yang merenggut nyawa 239 penumpang di dalamnya.

Hingga saat ini, dunia tidak memiliki petunjuk tentang hal itu. Pencarian masih terus berlangsung untuk MH370.

Beberapa bulan setelahnya, pesawat Malaysia Airlines lainnya, Boeing 777 MH17 ditembak jatuh di atas udara Ukraina pada 17 Juli 2014. Semua 283 penumpang dan 15 kru pesawat tewas.

Saat 2014 hampir berakhir, tragedi lain terjadi dan pesawat AirAsia QZ8501 dengan 155 penumpang dan 7 kru-nya jatuh. Kecelakaan QZ8501 adalah insiden kedua dalam satu tahun bagi maskapai penerbangan Malaysia.

Segera setelah MH370 raib, banyak teori yang dikemukakan di balik hilangnya penerbangan termasuk faktor Segitiga Bermuda.

Segitiga Bermuda di bagian barat Samudera Atlantik Utara telah menjadi misteri bagi dunia. Beberapa pesawat dan kapal dilaporkan telah menghilang secara misterius saat terbang atau melintas Segitiga Bermuda.

Setelah hilangnya MH370, banyak orang mengunggah gambar di media sosial yang menguatkan teori adanya Segitiga Bermuda di Teluk Thailand. Bahkan politisi Malaysia Mohammad Nizar Jamaluddin berkicau di Twitter " Segitiga Bermuda baru terdeteksi di perairan Vietnam, perangkat canggih tidak berguna" .

MH370 telah menghilang dari radar saat di atas Laut Cina Selatan. Sementara AirAsia QZ8051 ditemukan jatuh di Laut Jawa.

Apakah Segitiga Bermuda bergeser ke lautan Asia Tenggara? Kita tidak tahu, tapi hilangnya pesawat secara misterius dari radar mengarah ke spekulasi tersebut.

(Ism, Sumber: india.com)

2 dari 2 halaman

Misteri Keangkeran Segitiga Bermuda Terkuak?

Dream - Segitiga Bermuda menjadi salah satu tempat paling misterius di muka bumi. Banyak kapal dan pesawat yang melintas raib tanpa sebab yang diketahui.

Namun, saat ini para ilmuwan yakin sebentar lagi mampu menguak misteri di Segitiga Bermuda itu, setelah mereka menemukan kawah di dasar Laut Barents, di perairan Norwegia.

Laut Barents memang jauh dari Segitiga Bermuda, yang membentang dari Florida, Amerika Serikat; Puerto Rico, hingga kepulauan Bermuda di Atlantik. Tapi kawah atau lubang yang ditemukan di Laut Barents itu juga diyakini menjadi kunci penjelasan misteri di Segitiga Bermuda.

Kawah yang lebarnya sekitar 800 meter dengan kedalaman 45 meter itu diyakini terbentuk karena adanya kebocoran gas metana yang tersimpan di bawah lapisan dasar laut. Daerah Norwegia itu memang dikenal sangat kaya akan gas.

Para ilmuwan yakin gas tersebut bocor dan “ muncul” melalui dasar laut dan kemudian hinga ke permukaan atas lautan. Dan daerah kawah tersebut cenderung berada pada lautan dangkal.

“ Banyak kawah raksasa terdapat di dasar laut area barat Laut Barents, dan mungkin menyebabkan semburan gas yang sangat besar,” kata peneliti dari Universitas Arctic, Norwegia.

Detail penemuan ini akan diumumkan pada pertemuan tahunan European Geosciences Union pada bulan depan. Dalam laporan itu para ilmuwan menganalisa bagaimana gelembung-gelembung pelepasan gas metana itu sangat berbahaya bagi kapal yang melintas.

Analisa ini sama dengan yang pernah dikemukakan oleh peneliti Igor Yelstov dari Institut Trofimuk pada tahun lalu.

“ Ada versi (teori) bahwa Segitiga Bermuda merupakan konsekuensi dari reaksi gas hidrat,” kata Yelstov.

Menurut dia, peristiwa itu terjadi saat metan yang membeku kemudian terurai menjadi es. Reaksi itu menghasilkan gas dalam jumlah yang sangat besar.

“ Yang membuat laut panas dan kapal tenggelam di perairan yang dicampur dengan gas dalam jumlah besar,” ujar Yelstov. (Ism, Sumber: news.com.au)

Beri Komentar
Video Polisi Tes Kandungan Sabu Cair dalam Mainan Anak-anak