CONNECT WITH US!

MUI: Indonesia Netral dalam Proses Perdamaian Afghanistan

Reporter : Maulana Kautsar | Selasa, 13 Maret 2018 06:01
Pelajar Berkerudung Orange Dengan Mimik Serius Di Sekolah ADRA Di Afghanistan (Foto: Shutterstock)
Kelompok Taliban sempat menuding Indonesia sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Afghanistan.

Dream - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempertegas posisi Indonesia dalam upaya penciptaan perdamaian di Afghanistan. Hal ini untuk meyakinkan kelompok Taliban agar mau menghadiri pertemuan ulama tiga negara (Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan) untuk membicarakan proses perdamaian di Afghanistan.

“ Ada kesan dari pihak Taliban seakan-akan Indonesia menjadi kepanjangan pemerintah Afghanistan dan kekuatan asing, khususnya Amerika Serikat,” ujar Ketua MUI Bidang Luar Negeri Muhyiddin Junaidi kepada Anadolu Agency di Jakarta, Senin, 12 Maret 2018.

Ulama kelompok Taliban menolak hadir pada pertemuan yang digelar akhir Maret nanti. Ini karena mereka menuduh Indonesia membawa kepentingan Pemerintah Afghanistan.

" Kita tidak pro pemerintah Afghanistan dan juga Taliban,” kata Muhyiddin.

Saat ini MUI masih mengkaji penolakan Taliban. Muhyiddin ingin memastikan penolakan tersebut merupakan pernyataan resmi atau jawaban spontan.

“ Atau [penolakan] ini hanya test the water untuk mengetahui respon jika Taliban tidak ikut,” ucap Muhyiddin.

Hingga kini MUI masih tetap berencana mengundang langsung kelompok Taliban dan menjelaskan maksud pertemuan tiga ulama tersebut. Tetapi, rencana tersebut masih menunggu sinyal dari Pemerintah Pakistan yang banyak memberikan tempat kepada Ulama Taliban.

“ Pakistan memegang kartu truf,” kata Muhyiddin.

Dikabarkan sebelumnya, Taliban telah menyuarakan penolakan terhadap pertemuan ulama tiga negara yang akan digelar di Jakarta.

" Dengan memberikan legitimasi kepada pemerintahan di Kabul dan dengan upaya propagandanya, AS ingin menipu negara-negara Muslim. Pertemuan para ulama di Indonesia atau beberapa negara Islam lainnya merupakan langkah yang menyesatkan," ujar Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid, Sabtu, 10 Maret 2018.

(Beq/Sah)

 

Jajal kereta tidur super mewah pertama di Indonesia