'Pak Ustaz, Bagaimana Hukum Left Group WhatsApp?'

Reporter : Eko Huda S
Selasa, 31 Mei 2016 15:42
'Pak Ustaz, Bagaimana Hukum Left Group WhatsApp?'
Terkadang terbersit dalam pikiran kita untuk keluar dari grup WhatsApp. Ada saja yang mendorong kita untuk left. Bagaimana hukumnya?

Dream - Terkadang terbersit dalam pikiran kita untuk keluar dari grup WhatsApp. Ada saja yang mendorong kita untuk left. Merasa terganggu dengan pesan yang masuk bertubi-tubi, tak cocok dengan orang-orang di dalam grup, hingga memori ponsel yang tak memadai.

Namun bagaimana hukumnya meninggalkan grup WhatsApp, apakah termasuk perbuatan dosa karena dianggap memutus silaturahmi? Pertanyaan inilah yang diajukan kepada Ustaz Azhar Idrus.

Pendakwah asal Malaysia itu pun memberi jawaban atas pertanyaan tersebut. “ Bila kita 'left group' bukan kita putus silaturahim,” demikian penjelasan Ustaz Azhar.

“ Putus silaturahim ini haram dosa besar, berat sangat itu sebagai contoh kalau putus silaturahim ini ada bapak saudara buang bapa saudara 'left group' bukan sampai tahap begitu.” 

Menurut dia, seseorang punya banyak alasan untuk memutuskan keluar dari grup WhatsApp. “ Kadang-kadang sebab kita tidak suka keadaan orang yang bercakap di dalam itu, kadang-kadang kita rasa grup itu tiada faedah, dan kadang-kadang terlalu banyak grup.”

Namun, Azhar Idrus menambahkan, apabila seseorang hendak 'left group' mereka disarankan agar memberitahu terlebih dahulu agar tidak menimbulkan prasangka. “ Bila orang sudah tahu mereka tidak tertanya-tanya.”

“ Bila kita ingin keluar minta maaf, nyatakan sebab, jadi boleh 'left group' tidak masalah,” tambah Azhar.

Dia juga berpesan kepada pengguna media sosial untuk menyebarkan dakwah dan perkara-perkara yang baik.

“ Bukan membagikan hadis dan dakwah-dakwah saja, berbagi tentang ilmu seperti 'bagaimana untuk memasak dengan baik' juga boleh dibagikan di media sosial,” kata Azhar.

Baca selanjutnya, deretan cerita unik soal Ponsel..

1 dari 3 halaman

Haram Periksa Ponsel Orang Lain Tanpa Izin?

Dream - Memeriksa ponsel milik orang lain mungkin merupakan aktivitas yang menyenangkan. Namun sebaiknya aktivitas itu dihentikan, apalagi jika kamu berada di Uni Emirat Arab (UEA).

Sebab, memeriksa ponsel orang lain tanpa izin pemilik ponsel adalah perbuatan haram. Fatwa haram itu dikeluarkan Mufti Agung pada Departemen Urusan Islam dan Kegiatan Amal (IACAD) Ali Ahmed Mashael.

Dasarnya, Islam sangat melarang memata-matai kegiatan orang lain meski itu adalah pasangan, teman, saudara, maupun dua orang dalam hubungan apapun.

" Islam merampas kecurangan semacam itu bahkan sebelum peraturan yang dibuat manusia muncul. Petunjuk agama mendahului hukum manusia," ujar Ali.

Dia mengatakan seorang Muslim harus menghindari pelbagai bentuk kecurangan maupun spionase. Memeriksa ponsel milik orang lain juga termasuk dalam kategori yang sama.

Memata-matai atau memeriksa ponsel seseorang tanpa izin merupakan tindakan yang terlarang. Ali mengatakan hal tersebut dapat menghilangkan rasa percaya diri dan meningkatkan kecurigaan dan ketidakpercayaan, yang hanya akan mengarahkan pada masalah.

Jika ragu, pendekatan yang tepat adalah mengingatkan orang yang dicintai dan menyarankan mereka agar dapat segera berhenti sebelum membuat kesalahan atau dosa.

Dalam Undang-undang Pidana Uni Emirat Arab (UAE) telah termuat hukuman bagi aktivitas memata-matai ponsel atau gadget milik orang lain tanpa sepengetahuan dan persetujuan mereka.

Pasal 380 Hukuman Federal mengkriminalkan tindakan memeriksa ponsel seseorang tanpa izin, yang dapat mengarahkan pada hukuman penjara dan juga denda.

Pasal tersebut terkait dengan hak privasi seseorang. Pasal ini juga berlaku bagi tindakan seseorang mengungkap atau menyebar informasi yang terdapat dalam ponsel korban.

Di samping itu, Pasal 14 Hukum Kejahatan Cyber juga mengancam seseorang yang mendapatkan sejumlah kode pengaman rahasia yang digunakan untuk mengakses situs elektronik tanpa izin. Pelaku kejahatan ini dapat dihukum dengan hukuman penjara dan atau denda tidak kurang dari 200.000 dirham, setara Rp739 juta, dan tidak lebih dari 500.000 dirham, setara Rp1,8 miliar.

Sumber: emirates247.com

2 dari 3 halaman

Istri Dicerai Cuma Karena Bawa Ponsel

Dream - Seorang pria di Arab Saudi memilih menceraikan istrinya. Penyebabnya sederhana, istrinya kedapatan membawa telepon seluler (Ponsel).

Pasangan suami istri yang tidak disebut namanya ini pergi ke daerah selatan Provinsi Jazan. Sebelum berangkat, pria tersebut melarang istrinya membawa peralatan komunikasi apapun termasuk ponsel.

Mereka memutuskan menginap di sebuah hotel. Istrinya ternyata mengabaikan larangan pria tersebut.

Sebelum menuju ke meja penerima tamu untuk memesan kamar, pasangan ini harus melewati mesin pemindai. Alarm mesin tersebut menyala ketika sang istri masuk ke dalam kolong.

" Layar mesin menunjukkan wanita tersebut membawa Ponsel di tasnya. Ketika sang suami melihatnya, dia marah dan bergegas keluar dari hotel," tulis harian berbahasa Arab Sada.

" Istrinya mengikutinya dan meminta maaf, tapi dia segera menceraikan istrinya setelah curiga sang istri telah menggunakan ponsel tersebut untuk sesuatu yang tidak dia tahu," tulis harian tersebut.

Sumber: emirates247.com

3 dari 3 halaman

`Bila Beli Ponsel China, Saya Akan Tertimpa Musibah`

Dream - Dalam beberapa hal kita kadang mengucapkan sumpah. Bahkan kita bersumpah menggunakan nama Allah. Padahal sesuatu yang menyebabkan kita bersumpah itu termasuk sepele.

Namun, namanya sumpah, jika sudah terucap pasti akan memunculkan konsekuensi hukum, menurut agama. Apalagi sumpah itu dengan menggunakan nama Allah.

Seperti yang dilakukan oleh seorang penanya pada Redaksi Bahtsul Masail NU Online. Penanya itu mengaku pernah bersumpah: " Bila membeli telepon genggam made in Cina, saya akan tertimpa musibah atau penyakit yang berbahaya dan mematikan."

Sang penanya meminta pertimbangan. Bertanya apakah boleh melanggar sumpah tersebut. Dan apabila melanggarnya, apakah ada konsekuensi atau tertimpa musibah sebagaimana isi sumpah tersebut.

Menurut Bahtsul Masail NU Online, sumpah disebut " yamin" . Ulama mendefinisikan sumpah sebagai pernyataan tekad untuk mewujudkan sesuatu yang mungkin bisa dilanggar.

Sumpah biasanya diperlukan pada saat-saat tertentu demi sebuah kepentingan. Sumpah dianggap mengikat kalau menyebut nama Allah atau sifat-sifat-Nya dan harus dilakukan dengan niat untuk sumpah, bukan maksud main-main.

Dalam keadaan terikat ini, pelanggaran sumpah memiliki konsekuensi. Pelanggar sumpah akan dikenakan kafarah, tebusan atas pelanggaran sumpahnya sendiri.

Bagaimana pendapat para ulama tentang masalah ini? Baca ulasan selengkapnya di tautan berikut ini. (Ism)

Beri Komentar
Roger Danuarta Ogah Lihat Cut Meyriska Tampil Modis