Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Virus Corona (Foto: Shutterstock)
Dream - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menegaskan meningkatnya kasus Corona di Indonesia tidak terkait dengan varian virus corona B117 asal Inggris. Virus yang berkembang di Tanah Air saat ini lebih banyak berasal dari varian virus corona D614G.
Hal tersebut diketahui setelah dilakukan hasil pelacakan whole genome sequencing oleh Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman.
Diketahui jika jenis mutasi Virus Corona yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah D614G.
Kepala LBM Eijkman, Amin Soebandrio mengatakan, berdasarkan isolat yang telah dikumpulkan sejak Oktober 2020 hingga saat ini, 99 persen virus SARS-CoV-2 telah membawa mutasi D614G.
" Di Indonesia sejauh ini D614G ini masih sekitar 69 persen, tetapi juga kalau kita lihat di bulan-bulan yang sama misalnya Oktober hingga belakangan mungkin persentasenya agak lebih banyak," kata Amin kepada Health Liputan6.com pada Jumat 22 Januari 2021.
Terkait penularan, Amin mengatakan bahwa belum ada data yang dapat membuktikan mutasi Virus Corona D614G jauh lebih menular.
" Kata teman-teman di luar juga biasanya penyebaran lebih banyak karena pergerakan manusia. Artinya, virusnya sendiri tidak beterbangan ke sana kemari," ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa mutasi tersebut sesungguhnya sudah ada sejak awal tahun lalu namun masih terlokalisasi di satu negara. Namun pada Maret 2020 jumlahnya menjadi sekitar seribu dan naik cepat hingga menyebar ke benua lain.
" Itu orang-orang bilang lebih banyak karena pergerakan manusia. Itu yang didasarkan pada temuan di laboratorium, bahwa virusnya lebih cepat menginfeksi, tapi secara epidemiologi di lapangan apakah memang seperti itu, kita belum punya datanya," ujarnya.
Selain itu, mutasi virus corona lain yang juga ditemukan di Indonesia adalah Q677H. Terkait hal ini Amin mengatakan mereka bukan termasuk mutasi yang major.
" Di Indonesia cuma lima," katanya.
Sementara untuk varian baru virus corona B117 yang disebut-sebut jauh lebih mudah menular, Amin mengatakan mereka belum diidentifikasi di Tanah Air.
" Virus yang digolongkan virus under investigation itu di Indonesia belum ada," kata Amin.
Sumber: liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya