Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
Pusat Belanja Ameyoko Di Tokyo, Jepang. (Foto: Kyodo)
Dream - Gelombang kedua infeksi Covid-19 pasti akan melanda Jepang meskipun negara tersebut telah berhasil mencegah penyebaran virus corona sebelumnya, menurut Kenji Shibuya, seorang profesor di sebuah lembaga kesehatan populasi di Inggris.
Shibuya, direktur Institute for Population Health di King's College London, awalnya merasa puas setelah Jepang mampu mencegah ledakan wabah pada skala yang terlihat di banyak negara Barat.
Namun dalam wawancara baru-baru ini, Shibuya merevisi perasaan puasnya menjadi kekhawatiran bahwa Jepang dipastikan mengalami gelombang kedua infeksi virus corona.
" Akan berbahaya jika memiliki kesan seperti itu ketika gelombang infeksi berikutnya datang. Pertarungan melawan virus ini benar-benar pertempuran jangka panjang, dan meminjam metafora bisbol, ini hanya akhir dari inning pertama," kata Shibuya.
Shibuya memuji langkah pemerintah Jepang untuk menahan laju infeksi selama tahap awal wabah.
Upaya publik untuk tetap di rumah dan pernyataan pemerintah tentang keadaan darurat segera setelah angka infeksi mulai meningkat secara eksponensial, membantu mencegah ledakan penyebaran virus corona di Jepang.
" Kebiasaan Jepang seperti menggunakan masker wajah dan tidak banyak berjabatan tangan mungkin juga berhasil secara positif. Tetapi menjaga jarak fisik juga penting," katanya.
Shibuya menekankan pentingnya untuk membangun sistem medis yang dapat menahan lonjakan jumlah pasien, serta untuk memperketat pemantauan tren infeksi dengan menguji lebih banyak orang terhadap virus corona.
" Meskipun Jepang mampu menahan laju infeksi melalui pembatasan kluster, sistem medis dan sistem pengujiannya tidak memadai.
" Langkah menginvestasikan sumber daya dalam pengujian pasien yang sakit parah itu sendiri sudah benar, namun masalah terbesarnya adalah mereka yang memiliki gejala ringan atau menularkannya kepada orang lain tanpa menyadarinya," jelas Shibuya.
Dia menegaskan perlunya beralih ke sistem pengujian terhadap lebih banyak orang, mengidentifikasi pasien yang terinfeksi dan mengisolasi mereka.
Shibuya juga meminta perusahaan untuk bekerja sama dengan meminta karyawan menjalani tes Covid-19 secara berkala.
" Itu mungkin bisa dilakukan dengan mengambil tes di rumah menggunakan sampel air liur," katanya.
Shibuya mengatakan Inggris terlambat dalam membangun sistem pengujian di tengah penyebaran virus yang cepat di Italia dari Februari hingga awal Maret, yang menyebabkan 34.000 kematian.
" Inggris membuang waktu 6 minggu karena baru menerapkan lockdown pada 23 Maret 2020," pungkas Shibuya.
Sumber: Japan Times
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama
