Potensi Gempa Megathrust, Lebih Parah dari Tsunami Jepang 30 Meter

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Minggu, 13 Januari 2019 11:30
Potensi Gempa Megathrust, Lebih Parah dari Tsunami Jepang 30 Meter
Gempa tersebut diprediksi terjadi di Selandia Baru bagian Utara.

Dream - Indonesia bukan satu-satunya kawasan yang terancam gempa megathrust berkekuatan dahsyat. Belum lama ini, para ilmuwan mendeteksi adanya potensi gempa 8,9 magnitude di patahan Selandia Baru.

Para ilmuwan sampai pada tahap yakin gempa itu pasti terjadi di masa depan. Gempa yang bisa muncul itu diprediksi memiliki dampak yang mirip dengan gempa Hikuragi di Jepang pada 11 Maret 2011 silam, bahkan bisa lebih parah.

Dikutip dari Newshub, gempa berkekuatan 9 magnitude menggentarkan pesisir timur Pulau Honshu. Gempa tersebut menimbulkan gelombang tsunami setinggi 30 meter, memakan 16 ribu korban jiwa dan kerugian sebesar US$346 miliar, setara Rp4.859,5 triliun. 

Sebagai antisipasi gempa di patahan Selandia Baru, Civil Defence Emergency Management (CDEM) dari North Land tengah mengembangkan rencana tanggap darurat.


1 dari 6 halaman

Kekuatan Gempa Terus Bertambah

Martha Savage, profesor geophysics dari Victoria University of Wellington's School of Geography, Environment and Earth Sciences mengatakan, gempa akan menjadi semakin besar seiring dengan waktu berjalan.

" Yang terjadi di Jepang saat itu karena retakan yang berlangsung selama hampir 1.000 tahun lamanya," papar Savage.

Para ilmuwan percaya Selandia Baru berpotensi mengalami gempa 'megatrhust' seperti yang terjadi di Jepang. Bahkan, dampaknya bisa jauh lebih besar.

" Karena zona subduksi kita yang lebih dekat dibanding dengan Jepang saat itu, tsunami bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan. Bahkan bisa berlangsung selama enam menit," ujarnya.


2 dari 6 halaman

Pengalaman Buruk Jepang Jadi Bahan Pembelajaran

Penduduk Tokyo kala itu hanya mendapat peringatan sekitar 80 detik sebelum gempa melanda, disusul dengan tsunami yang menerjang 15 menit kemudian.

CDEM berupaya untuk memasang alat deteksi seismometer di dasar laut, namun hal itu akan memakan biaya besar. 

Mereka akan fokus pada beberapa titik rawan seperti Gisborne, Bay of Plenty, Hawke's Bay, Munawatu-Whanganui dan Wellington.

3 dari 6 halaman

Mengerikan, Ilmuwan Temukan Potensi Baru Gempa Magnitud 8,9 dan Tsunami

Dream - Ancaman tsunami besar ternyata tak hanya terjadi di Indonesia. Para ilmuwan tengah bersiap menghadapi gempa " megathrust" berkekuatan 8,9 magnitude di patahan Selandia Baru.

Gempa yang bisa muncul kapan saja ini dapat memicu terjadinya tsunami dahsyat.

" Thrust" merujuk pada salah satu mekanisme gerak lempeng yang menimbulkan gempa dan memicu tsunami, yaitu gerak sesar naik.

Para pakar yakin pecahnya zona subduksi Hikurangi pasti terjadi di masa depan. Zona subduksi memiliki bentuk lempeng tektonik dalam posisi masuk ke bawah yang lainnya.

" Artinya, batas antara lempeng-lempeng itu membentuk patahan raksasa," kata Ilmuwan Masyarakat Geosains Selandia Baru, Dr Laura Wallace, dikutip dari The Sun.

Gempa bumi Kaikoura yang mengguncang South Island pada 2016 memberikan informasi penting. Para ilmuwan kemudian bergerak mempelajari bukti geologis peninggalan gempa prasejarah di area tersebut.

 

4 dari 6 halaman

Bencana Dahsyat Pasti Terjadi

Zona subduksi Hikurangi ini membentang dari timur Gisborne hingga puncak South Island. Dr Wallace meyakini gempa hebat pasti terjadi suatu saat di kawasan tersebut.

" Kita tahu zona subduksi Hikurangi dapat menghasilkan gempa dan tsunami dahsyat, dan bencana ini terjadi di masa lampau," kata Dr Wallace.

" Sementara kami sedang mengadakan penelitian lebih lanjut untuk mendapat gambaran lebih jelas mengenai bahaya yang timbul akibat guncangan Hikurangi, kita tahu pecahan bakal terjadi di masa depan," kata Dr Wallace melanjutkan.

5 dari 6 halaman

Siapkan Skenario Tanggap Darurat

Kelompok Five Civil Defence Emergency Management (CDEM) Selandia Baru menyusun skenario tanggap darurat. Proyek ini mencakup lima kawasan di North Island yang diprediksi sebagai area terdampak paling parah meliputi Gisborne, Bay of Plenty, Hawke's Bay, Manawatu-Wanganui dan Wellington.

Tujuan proyek ini adalah melindungi masyarakat dari potensi kerusakan besar akibat bencana gempa dan tsunami.

Pimpinan proyek, Natashaa Goldring, menggambarkan pentingnya meningkatkan kepekaan masyarakat mengenai bagaimana merespon ancaman semacam itu.

" Skenario yang kami gunakan mendukung pengembangan rencana menanggapi bencana merupakan contoh yang sangat realistis mengenai apa yang bisa kita hadapi di kehidupan kita, anak dan cucu kita," kata Goldring.

Proyek ini mulai dijalankan setelah penelitian dalam beberapa tahun yang menunjukkan penguatan potensi guncangan di zona subduksi Hikurangi.

Pada 22 Februari 2011, gempa dahsyat berkekuatan 6.3 magnitude mengguncang kota terbesar kedua Selandia Baru, Christchurch. Bencana ini menewaskan 185 jiwa, 6.000 orang mengalami luka-luka dan 170 ribu unit bangunan hancur.(Sah)

6 dari 6 halaman

Sejarah Gempa Besar Jakarta dan Ancaman `Megathrust`

Dream - Gempa Banten berkekuatan 6,1 SR kemarin merambat hingga ke Jakarta. Gempa diketahui berpusat di selatan Kota Muarabinuangeun, Kabupaten Cilangkahan, dengan kedalaman 61 kilometer di dalam laut. 

Guncangan yang dirasakan warga Jakarta tentu membuat kepanikan karyawan di gedung-gedung tinggi. Tangga darurat penuh sesak para karyawan yang ingin menyematkan diri.

Bagi perkantoran tapak, ratusan karyawan keluar ruangan. Gempa itu tak berdampak signifikan pada kerusakan pada gedung-gedung pencakar langit.

Tetapi, ancaman gempa semacam itu tak dapat dinafikan. Sebab dari sejarahnya, Batavia pernah menjadi `sasaran` gempa. Tepatnya lebih 3 abad lalu. 

Pada penelitian Ngoc Nguyen, Jonathan Griffin, Athanasius Cipta dan Phil R. Cummins berjudul Indonesia's Historical Earthquakes, pada 5 Januari 1699, Batavia mengalami " gempa hebat dan kuat... dengan getaran sangat parah dan terjadi selama 45 menit."

Dalam jurnal itu disebutkan 21 rumah, 29 lumbung padi, dan 28 jiwa hilang akibat gempa tersebut. Pusat gempa diduga terjadi di antara Cisalak dan Lampung atau segmen sunda megathrust.

Pusat gempa yang `hanya` sekitar 150 sampai 200 kilometer ini yang bisa dirasakan Jakarta begitu kuat. Banyak bangunan yang bakal runtuh bila gempa besar terjadi pada masa ini. 

Catatan lainnya, gempa bumi yang pernah dirasakan di Jakarta yaitu pada 22 Januari 1780. Dilaporkan suara `ledakan besar` terdengar dari Gunung Salak, 2 menit usai gempa. Gunung Salak juga dikabarkan mengeluarkan asap.

 Gempa Batavia

Intensitas gempa terasa di Jakarta dan Bogor (dulu bernama Buitenzorg). Peristiwa ini terjadi karena patahan Baribi yang berlokasi di bagian utara Pulau Jawa, membentang dari Purwakarta hingga bukit Baribis, Majalengka.

Gempa ketiga yang dirasakan yaitu terjadi pada 10 Oktober 1834. Serangkaian guncangan kecil terjadi pada malam hari, diakhiri guncangan hebat di pagi yang dirasakan di Batavia, Bantam (Banten), Krawang (Karawang), Buitenzorg, dan Karesidenan Preanger (Priangan).

Diperkirakan gempa tahun 1834 itu berkekuatan mencapai Modified Mercalli Intensity (MMI) VIII di Bogor dan Jakarta. 

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) MMI VIII didefinisikan kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat. Retak-retak pada bangunan dengan konstruksi kurang baik, dinding dapat lepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen-monumen roboh, air menjadi keruh.

Dua gempa yang terjadi pada 1780 dan 1834 mendapat sorotan khusus dari penelitian A. Koulali. Bersama peneliti dari Intitut Teknologi Bandung dan Badan Informasi Geospasial, Koulali menyebut, " Gempa 1780 dan 1834 memerlukan perhatian khusus karena kedekatannya dengan segmen yang pecah ke Jakarta, salah satu kota terbesar di dunia."

Khusus untuk Jakarta, dengan tiga pengamatan dan perkiraan getaran gempa yang mencapai MMI 8, Nguyen memiliki kesimpulan yang berbeda dengan temuan tim riset Indonesia.

Tim Indonesia menyebut dengan PSHA, input parameter yang berupa seismic hazard parameter, yang mencapai 95 persen.

Dengan perkiraan gempa pada 1699, Nguyen menyebut jika Jakarta digoyang gempa, kemungkinan korban meninggal dunia mencapai 100.000 orang.

 Gempa Batavia

Ancaman ini, kata Nguyen, ditujukan agar rencana manajemen bencana Indonesia dapat lebih ditingkatkan.

Berkaca pada gempa Selasa, 23 Januari 2017, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut korban jiwa muncul bukan karena gempa.

" Tapi, karena (tertimpa) bangunannya. Bangunan yang tidak kuat lalu roboh dan menimpa penghuninya," ucap Sutopo, dalam keterangan tertulisnya.

Sutopo mengatakan gempa merupakan keniscayaan. Dalam setahun rata-rata kejadian gempa di Indonesia mencapai 6.000 kali gempa. Begitu juga gempa di selatan Jawa yang merupakan zona sepi gempa besar.

" Zona selatan Jawa khususnya dari segmen Pangandaran hingga Pacitan dan Banyuwangi adalah zona seismic gap. Lempeng Indo Australia dan Eurasia di selatan Jawa ini aktif bergerak rata-rata dengan kecepatan 6,6 centimeter per tahun," ucap dia.

Tak terjadinya gempa dalam ratusan tahun, juga perlu diwaspadai. Kata Sutopo, kondisi tersebut menyimpan potensi besar bangkitnya tsunami. Tapi, kapan waktunya tak dapat diprediksi.

" Untuk itu perlu meningkatkan kewaspadaan. Persiapan dan mitigasi menghadapi gempa harus ditingkatkan. Tata ruang, building code, kesiapsiagaan, dan lainnya harus ditingkatkan agar kita tidak selalu siap menghadapi kondisi yang terburuk," ujar dia.

" Oleh karena itu jika menerima informasi akan terjadi gempa bahkan dengan spesifik mengatakan besar, waktu dan lokasi itu adalah hoax. Jadi jangan ikut-ikutan menyebarkan di medsos," kata dia. 

Beri Komentar
Yenny Wahid Rilis Produk Kecantikan Halal