Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Penyebaran Covid-19 di DKI Jakarta hingga saat ini masih meninggi. Bahkan muncul sejumlah klaster baru penyebaran virus corona, khususnya rumah ibadah.
" Rumah ibadah sembilan klaster dengan 114 kasus," ujar anggota Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, dikutip dari Merdeka.com.
Menurut Dewi, sembilan klaster tersebut terdiri dari tiga klaster di gereja dengan 29 kasus, tiga klaster masjid dengan 11 kasus, satu klaster asrama pendeta dengan 41 kasus, satu klaster pesantren dengan 4 kasus dan satu klaster tahlilan dengan 29 kasus.
Dewi menyatakan klaster rumah ibadah ini harus menjadi perhatian bersama. Warga yang hadir dalam kegiatan sosial keagamaan diharuskan patuh menjalankan protokol kesehatan.
" Ini yang harus kita ingatkan, kalau ada kegiatan sosial berkumpul bersama, entah arisan, kumpul ibu PKK, pengajian, tahlilan, protokol kesehatan harus tetap diterapkan, jangan sampai lengah," kata Dewi.
Selain rumah ibadah, klaster pasar juga muncul di DKI Jakarta. Ada sekitar 107 klaster di 173 pasar di seluruh DKI Jakarta, dengan 555 warga dinyatakan positif.
" Lebih dari 11.766 orang yang diambil swabnya, 555 orang di antaranya positif Covid-19 di 173 pasar. Positivity ratenya di angka 4,71 persen," ucap Dewi.
Sumber: Merdeka.com/Supriatin.
Dream - Indonesia sedikit menemukan titik terang dalam penanggulangan pandemi Covid-19 yang memakan banyak korban jiwa. Biofarma, perusahaan farmasi asal Indonesia bersama Sinovac Biotech asal China, sedang melakukan tahap uji klinis.
Selama tahap uji klinis tersebut, terdapat 1.600 relawan akan diberikan vaksin tersebut. Uji coba tersebut telah dipastikan aman oleh pihak Sinovac Biotech.
Sebelumnya, Ketua Tim Riset Fakultas Kedokteran Unpad, Profesor Kusnandi Rusmil, dipanggil ke Istana oleh Presiden Joko Widodo terkait hasil riset vaksin tersebut.
Berikut wawancara dengan Prof. Kusnandi, sebagaimana dikutip dari Merdeka.com:

Jadi kalau kita mau uji klinis vaksin itu ada tahapannya. Pertama preklinik kemudian klinik. Preklinik kita mencari bahan vaksinnya. Sudah ketemu bahan vaksinnya itu disuntikkan pada binatang. Disuntik pada binatang, binatang itu harus aman dan timbul zat anti. Sudah selesai pada binatang baru fase I. Sudah fase satu masuk fase II, fase III.
Fase satu adalah uji klinis untuk yang penting adalah keamanan vaksin ini. Fase I yang dilakukan di China diberikan pada 1400-1500 orang. Ternyata vaksin ini aman.
Aman itu dilihat dari dua aspek, reaksi lokal dan reaksi sistemik. Reaksi lokal itu kalau disuntik apakah timbul merah atau bengkak atau yang lainnya. Reaksi sistemik, apakah timbul panas atau pingsan atau lemas atau alergi (di) 30 menit pertama.
Pada vaksin ini dia disuntik memang ada timbul panas dan ada kemerahan. Tapi 30 menit pertama enggak ada yang pingsan, lemas, cuma nyeri di tempat suntikan yang ternyata nyeri itu hilang sendiri dan yang nyeri di tempat suntikan yang hilang sendiri setelah dua hari hanya 30 persen dari sampel yang ada. Yang lainnya aman. Fase dua, disuntikkan kepada kurang lebih 400 orang. Itu ternyata aman juga. Lulus lah vaksin ini untuk izin klinis fase III.
Fase III iti harus 1.000-an. Karena di samping untuk lihat aman kan sudah pasti. Terus mempunyai efek baik sudah pasti. Tapi dilihat efektivitasnya. Efektivitasnya dibandingkan yang dapat vaksin sama yang dapat tidak vaksin. Yang dapat vaksin berapa yang sakit (positif Covid-19), yang tidak dapat vaksin berapa orang yang sakit selama enam bulan diikuti.
Jadi dibandingkan. Dalam perhitungan kita dengan hitungan statistik, yang sakit selama 6 enam bulan itu kurang lebih 20 (orang). Tapi sebagian terutama semuanya yang bukan dapat vaksin.
Disuntik, (diikuti) selama 6 bulan ada 1.620, 810 dapat vaksin dan 810 dapat plasebo (tidak dapat vaksin) diikuti semuanya. Setelah 6 bulan berapa yang sakit berapa yang tidak. Terus berapa kadarnya terbentuk bagus atau tidak. Di samping keamanannya dilihat lagi. Itu secara garis besar.
Kan itu ada 1.620. 810 dapat vaksin 810 tidak dapat vaksin. Dari perhitungan pasti ada yang sakit dan yang sakit secara statistik ada 20 orang, dari total 1.620 itu.
Kemungkinan semua dari yang tidak dapat vaksin akan sakit. Setelah dapat vaksin, orang itu hidup normal saja. Mau ke mana kek silakan saja. Tidak ada hambatan.
Terkait 1.620 relawan, apa ada pantangan yang tidak boleh dikonsumsi setelah mereka disuntik vaksin?
Enggak ada. Hidup sehari-hari seperti biasa saja. Kalau ada apa-apa kan dia telepon. Kalau sakit dia berobat, nanti kan akan menghubungi kita dia sakit apa. Nanti akan dianalisa. Enggak ada (pantangan tidak boleh makan ini, itu).
Sejauh ini bagaimana soal keamanan vaksin Sinovac bagi para relawan?
Kan sudah diuji coba. Pasti aman. Sudah dua kali izin klinis kan sudah aman. Tidak mungkin saya kasih yang tidak aman. Sekarang saja sudah yang mau divaksin, saya belum mau karena belum mulai.
Memangnya sudah berapa orang yang mengajukan permohonan menjadi relawan?
Yang sudah minta saja dari satu puskesmas, kayak puskesmas Garuda yang daftar sudah 350 orang. Exited. Belum yang dari perusahaan-perusahaan, pemerintah, belum dari dosen, dari mahasiswa.

Enggak. Begini, kan Pak Jokowi dengar bahwa saya ditunjuk oleh Unpad untuk meneliti vaksin. Beliau dengar Unpad mau bikin vaksin. Kerja sama dengan Biofarma sehingga saya diundang sama Pak Jokowi, sama Pak Erick Thohir, Menkes Terawan, sama yang terkait untuk diskusi.
Dari diskusi itu pengen untuk bagaimana caranya orang Indonesia enggak kena yang besar, yang banyak. Tanya lah bagaimana proses bikin vaksin saya ceritakan. Target beliau, kan yang banyak kena sekarang kan orang Jakarta, Surabaya, Jawa Tengah, Jogja, Makassar. Daerah itu dulu yang dapat. Untuk mengurangi angka kematian.
Setelah itu baru di tempat-tempat yang lain. Karena kapasitas produksi Biofarma kan terbatas. Mula-mula cuma 40 juta dulu yang dibikin. Setelah itu baru 100 juta. Penduduk kita kan 200 sekian juta. Jadi bertahap. Jadi di daerah yang high risk dulu. Dibilangin sama Pak Jokowi begitu jadi kita semua ngerti.
Vaksin Sinovac itu kan itu kerja sama Biofarma sama Sinovak. Kemudian Biofarma menunjuk saya untuk melakukan uji klinis. Kan begitu ceritanya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya