Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Arif Satria Menjadi Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) 2017-2022 (Foto: Alumni IPB)
Dream - Arif Satria resmi menjabat rektor Institut Pertanian Bogor periode 2017-2022. Arif ditetapkan secara musyarawarah mufakat oleh Majelis Wali Amanat (MWA) di Kampus IPB, Bogor, Jawa Barat, pada Rabu, 15 November 2017.
Arif dinilai lebih layak oleh 16 anggota MWA. Pakar kebijakan perikanan dan kelautan ini mengungguli dua calon rektor lainnya, Prof Yonny Koesmaryono dan Rinekso Soekmadi.
Dikutip dari laman alumniipb, Arif lahir di Pekalongan, 17 September 1971. Meski usianya tergolong muda, Arif sudah mampu menunjukkan kepemimpinan dan prestasi akademik.
Pada 2010, Arif telah didapuk menjadi Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB. Arif mencatatkan sejarah di IPB sebagai dekan termuda, 39 tahun.
Sejak menjabat dekan, Arif mengaplikasikan manajeman modern berbasis teknologi informasi. Alhasil, FEMA menjadi salah satu fakultas berprestasi.
Di bidang akademik, Arif memiliki segudang prestasi. Arif merupakan lulusan Marine Policy di Kagoshima University, Jepang. Beberapa karya ilmiah lahir di tangannya, antara lain,
Pengantar Sosiologi Pesisir, Pesisir dan Laut Untuk Rakyat, Ekologi Politik Nelayan, Globalisasi Perikanan: Reposisi Indonesia, serta buku internasional berjudul Managing Coastal and Inland Waters yang diterbitkan Springer, Belanda.
Dia juga terlibat aktif dalam penyusunan berbagai kebijakan kelautan dan perikanan sejak tahun 2002. Penyusunan UU Perikanan No 31/2004, Revisi UU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Penyusunan Konsep Ekonomi Biru, dan sejumlah Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri.
Pada 2009, Arif meraih penghargaan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Bidang Ilmu Pengetahuan dari Menteri Pendidikan Nasional. Setahun sebelumnya, dia juga mendapatkan penghargaan bergensi dari Yamamoto Award di International of Fisheries Economics and Trade (IIFET) Conference, di Nha Trang, Vietnam. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya