Sudah Ada Klarifikasi, Wamenag Minta Polemik Kemenag Hadiah NU Disudahi

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 26 Oktober 2021 17:00
Sudah Ada Klarifikasi, Wamenag Minta Polemik Kemenag Hadiah NU Disudahi
Wamenag mengajak masyarakat untuk menahan diri.

Dream - Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Saadi, meminta polemik seputar pernyataan Kemenag hadiah negara kepada NU yang dilontarkan Menag Yaqut Cholil Qoumas untuk disudahi. Sebab Gus Yaqut telah memberikan klarifikasi.

" Saya kira penjelasan itu bisa dipahami. Penjelasan sudah disampaikan dan pro kontra semestinya disudahi," ujar Zainut.

Dalam klarifikasinya, Gus Yaqut mengaku menyamoaikan pernyataan itu pada forum internal. Tujuannya, memberikan motivasi dan semangat kepada para santri.

Dengan adanya klarifikasi tersebut, Zainut meminta semua pihak dapat menahan diri. Serta tidak mengeluarkan pernyataan yang membuat suasana panas, apalagi menariknya ke dalam isu SARA.

" Saya mengajak dengan sepenuh hati agar kita semua lebih mengedepankan semangat persaudaraan, kerukunan, dan menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat meretakkan pembangunan kebangsaan kita," kata dia.

Lebih lanjut, Zainut mengajak masyarakat untuk menyalurkan energi dengan bersinergi membangun bangsa. Dia juga mengatakan Islam mengajarkan umatnya untuk bertabayun.

" Islam mengajarkan agar kita saling menasihati untuk menaati kebenaran, dan saling menasihati untuk tetap di atas kesabaran. Semoga kita semuanya dapat melaksanakan ajaran Islam yang sangat luhur tersebut," kata dia, dikutip dari Kemenag.

1 dari 5 halaman

Klarifikasi Menag Soal Pernyataan Kemenag Hadiah Buat NU

Dream - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas akhirnya memberikan klarifikasi terkait pernyataannya menyebut Kementerian Agama hadiah Negara untuk Nahdlatul Ulama (NU). Dia menyatakan pernyataan itu sebenarnya bersifat internal bagi kalangan NU saja.

" Itu saya sampaikan di forum internal. Intinya, sebatas memberi semangat kepada para santri dan pondok pesantren," ujar Gus Yaqut dalam keterangan tertulisnya.

Gus Yaqut mengibaratkan pernyataannya seperti perbincangan sepasang suami istri. Ucapan tersebut hanya untuk kalangan pesantren, bukan untuk masyarakat di luar konteks tersebut.

" Ibarat obrolan pasangan suami istri, dunia ini milik kita berdua, yang lain cuma ngekos, karena itu disampaikan secara internal," kata dia.

 

2 dari 5 halaman

Untuk Forum Internal

Dia pun menganggap ucapannya merupakan hal wajar sebagai motivasi di forum internal. Gus Yaqut tidak menyadari jika pernyataannya bisa tersebar ke mana-mana.

" Memang saya juga tidak tahu sampai keluar lalu digoreng ke publik. Itu forum internal, konteksnya untuk menyemangati," kata dia.

Selanjutnya, Gus Yaqut menjamin Kemenag tidak hanya untuk NU namun semua agama. Ini dibuktikan melalui program Kemenag yang memberikan afirmasi kepada semua agama.

" Semuanya diberikan hak secara proporsional. Ormas tidak hanya NU saja," ungkap dia.

 

3 dari 5 halaman

Sebut Ada Pejabat Kemenag Bukan dari NU

Untuk memperkuat pandangan, Gus Yaqut mencontohkan beberapa jabatan di lingkungan Kemenag yang diampu oleh anggota ormas lain. Salah satunya, jabatan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh.

" Bahkan di Kemenag ada Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh, itu kader Muhammadiyah. Ada juga Irjen Kemenag yang bukan dari NU," terang Gus Yaqut.

Lebih lanjut, Gus Yaqut menyatakan NU memiliki karakter yang terbuka dan inklusif. Kehadiran NU diabdikan bagi kepentingan dan kemaslahatan yang lebih besar.

" Karena keterbukaan dan mengedepankan kemaslahatan itu sifat dasar NU," ucap dia.

4 dari 5 halaman

Reaksi Muhammadiyah dan PBNU Soal Gus Yaqut Sebut Kemenag Hadiah untuk NU

Dream - Pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang menyebut Kementerian Agama merupakan hadiah khusus dari negara untuk Nahdlatul Ulama menuai reaksi banyak pihak. Banyak yang menilai pernyataan tersebut tidak bijak.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menyayangkan pernyataan tersebut. Dia menilai seharusnya Gus Yaqut dapat bijak dalam berbicara.

" Seharusnya Menag berlaku bijak dan adil kepada semua agama dan organisasi keagamaan," ujar Abdul Mu'ti.

Abdul Mu'ti merasa pemahamannya soal sejarah Kemenag sangat berbeda dengan yang disampaikan Gus Yaqut. Dia mengaku tidak memahami tujuan Gus Yaqut menyampaikan pernyataan tersebut.

" Saya tidak tahu apa maksud dan tujuan Menteri Agama membuat pernyataan tersebut. Setahu saya, sejarah Kementerian Agama berbeda dengan yang disampaikan oleh Menteri Agama," kata dia.

Meski demikian, Abdul Mu'ti menegaskan Muhammadiyah tidak akan mengajukan keluhan atas pernyataan itu. Menurut dia, Muhammadiyah masih punya banyak tugas untuk diselesaikan.

" Tidak perlu (mempertanyakan kembali). Banyak hal lebih penting yang harus diurus Muhammadiyah," kata dia.

5 dari 5 halaman

PBNU: Kemenag Hadiah Negara Untuk Semua Agama

Pendapat senada juga muncul dari internal NU. Petinggi NU bahkan menyampaikan pendapat yang berkebalikan dengan pernyataan Gus Yaqut.

Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faishal Zaini, menyatakan, Kemenag bukanlah hadiah Negara untuk NU atau umat Islam saja. Dia mengatakan Kemenag adalah hadiah untuk semua agama.

" Pertama adalah bahwa Kemenag hadiah Negara untuk semua agama, bukan hanya untuk NU atau hanya untuk umat Islam," kata dia.

Helmy membenarkan NU memang punya peran besar terhadap penghapusan tujuh dalam Piagam Jakarta. Meski demikian, NU tidak boleh semena-mena dengan merasa berkuasa atas Kemenag.

Apalagi, NU sejak sebelum kemerdekaan sudah menempatkan pesantren sebagai pilar pembentukan karakter bangsa dengan berpijak pada akhlakul karimah. Secara tegas, dia menyatakan NU tidak punya hal istimewa atas Kemenag.

" NU tidak memiliki motivasi untuk menguasai ataupun memiliki semacam 'privilege' dalam pengelolaan kekuasaan dan pemerintahan, karena NU adalah jamiyyah diniyah ijtimaiyyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan)," terang Helmy.

Selanjutnya, Helmy menyatakan semua elemen punya peran strategis dalam berdirinya Republik Indonesia. Sedangkan prinsip NU, siapapun boleh berkuasa berlandaskan kepemimpinan yang melahirkan kemaslahatan.

" Dengan segala hormat dan kerendahan hati, tentang pernyataan Pak Menteri Agama tentu itu hak beliau, meski saya pribadi dapat menyatakan bahwa komentar tersebut tidak pas dan kurang bijaksana dalam perspektif membangun spirit kenegarawanan," kata dia, dikutip dari Merdeka.com.

Beri Komentar