Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Siswa Muslim di sebuah sekolah di kawasan utara Switzerland, tepatnya di Therwil diizinkan tidak bersalaman dengan guru wanita. Kebijakan dikeluarkan pada Senin lalu.
Pihak sekolah memberlakukan kebijakan ini setelah mendapat keluhan dari dua siswa Muslim berusia 14 dan 15 tahun. Dua siswa Muslim itu mengeluh karena salaman dengan guru wanita bertentangan dengan ajaran agama.
Mereka berpendapat Islam tidak membolehkan adanya kontak fisik dengan seseorang yang bukan merupakan mahram. Dewan Pendidikan Therwil menyatakan tidak mendukung kebijakan tersebut.
" Tapi juga tidak akan mengintervensi, karena itu merupakan tanggung jawab sekolah yang membuat aturan," ujar juru bicara Dewan Pendidikan Thurwil Monika Wiss kepada AFP.
Keputusan sekolah memicu kecaman publik di seluruh Switzerland. Menteri Kehakiman Simonetta Sommaruga dalam sebuah siaran televisi mengatakan, " Jabat tangan adalah budaya kita."
Ketua Komisi Sains, Pendidikan, dan Budaya Parlemen Switzerland Felix Muen menyebut jabat tangan sebagai 'bentuk perwujudan dari sikap hormat dan sopan santun'.
Sementara Kepala Swiss Conference of Cantonal Ministers of Education, Christoph Eymann berkeras menyatakan kebijakan itu mendiskriminasi kaum wanita.
" Kami tidak bisa mentolerir kaum wanita diperlakukan berbeda dari pria di ruang publik," kata dia.
Terkait polemik ini, komunitas Muslim Switzerland memandangnya sebagai tanggapan yang berlebihan.
" Orang pasti berpikir nilai-nilai tradisi Switzerland sedang dipertaruhkan. Hanya karena dua siswa yang sebenarnya ingin menyapa dan menghormati gurunya dengan cara yang berbeda," demikian pernyataan Dewan Muslim Pusat Switzerland.
Dewan Muslim kemudian menerangkan dalam fikih klasik dan ulama kontemporer, jabat tangan dengan lawan jenis bukan mahram merupakan sebuah larangan.
Sementara Federasi Organisasi Islam Swiss (FIOS) menjelaskan tidak berjabat tangan antara pria dan wanita, merupakan aturan berdasarkan ajaran agama dan lazim dijalankan di sejumlah negara Muslim. Menurut mereka, seharusnya ini tidak dipermasalahkan di Swiss.
(Ism, Sumber: alarabiya.net)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya