Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Angka perkawinan anak di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat termasuk yang tertinggi. Survei United Nation Children's Fund (Unicef) dan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 2016 menempatkan Jawa Barat pada posisi ke-9 di Indonesia.
Dalam survei tersebut 30,5 persen perempuan di umur 20 hingga 24 tahun, pernah menikah sebelum umur 18 tahun.
Dilansir dari laman Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pada 2010 saja tercatat, tiap 100 orang perempuan berusia 15 hingga 19 orang di Jawa Barat telah menikah.
Di Indramayu fenomena menikah muda mudah ditemui. BKKBN mencatat alasannya. Banyak dari orang tua yang ingin puterinya menikah di usia di bawah 18 tahun dengan alasan agar tidak menjadi jomblo. Sang anak menuruti perintah itu sebagai bentuk kepatuhan. Agar tidak durharka.
Pernikahan yang dijalani tanpa persiapan tersebut, rentan mengalami perceraian. Bahkan dalam hitungan minggu, remaja tersebut bisa menyandang status janda.
Salah seorang warga, Endang Wasrinah mengaku menikah pada usia 16 tahun dan sekarang sudah memiliki satu anak. Endang berasal dari keluarga nelayan kecil yang hidup pas-pasan.
Suatu ketika dia diminta oleh orang tuanya untuk menikah dengan seorang lelaki. Padahal dia mengaku masih ingin melanjutkan sekolah. Sementara calon suaminya adalah seorang duda beranak satu, Radar Cirebon melaporkan.
“ Saya tidak bisa menolak keinginan orang tua yang menyuruh saya menikah saat usia masih sangat muda,” ujar dia.
Pernikahan dini itu menyebabkan Endang tertekan. Bayangkan, dia kerap diperlakukan tidak baik oleh suami. Dalam satu hari dia hanya diberi uang Rp25 ribu oleh suami. “ Saat itu saya benar-benar minder dan malu kalau ketemu sama teman-teman,” ucap Endang.
Sekretaris Cabang Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Indramayu, Yuyun Khoerunnisa menjelaskan bahwa penyebab perkawinan anak ialah faktor ekonomi. “ Memang sebagian besar karena faktor ekonomi. Yang lebih miris, ada orang tua yang terpaksa mengawinkan anaknya yang masih kecil hanya karena untuk membayar utang,” ujar Yuyun.
Yuyun mengatakan KPI Indramayu sedang membentuk Pusat Informasi Pengaduan dan Advokasi Penghantian Perkawinan Anak (PIPA PPA). “ Yang pasti, KPI bersama para jejaring sepakat untuk menolak perkawinan anak. Kemi mendorong agar ada payung hukum seperti peraturan daerah (perda) untuk menghentikan perkawinan anak,” ucap dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam