Usai Erupsi, Gunung Anak Krakatau Munculkan Temuan Mengejutkan

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 2 Januari 2019 13:01
Usai Erupsi, Gunung Anak Krakatau Munculkan Temuan Mengejutkan
Ketinggian Gunung Anak Krakatau berkurang.

Dream - Erupsi disertai longsoran Gunung Anak Krakatau menyebabkan tsunami Selat Sunda pada Sabtu, 22 Desember 2018. Hampir 500 orang meninggal dunia akibat bencana tsunami tersebut.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, mencatat hingga H+9 tsunami, terdapat 437 korban meninggal dunia. Sementara itu, 16 orang masih dinyatakan hilang.

" 14.059 orang luka-luka dan 33.719 orang mengungsi," kata Sutopo.

Data seismogaf yang didapat BNPB menunjukan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mengalami penurunan. Aktivitas ini juga dibarengi dengan berkurangnya ketinggian Gunung Anak Krakatau dari 338 meter menjadi 110 meter.

Selain informasi tersebut, terdapat dua temuan lain mengenai Gunung Anak Krakatau. Salah satunya yaitu terdapat pendangkalan dasar laut.

 

1 dari 2 halaman

Pendangkalan Dasar Laut

 Anak Krakatau Semburkan Lava Pijar© MEN

Dilaporkan Liputan6.com, temuan tersebut didapat dari survei dan investigasi yang dilakukan KRI Rigel-933. Kepala Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Kapushidrosal), Laksda Harjo Susmoro, mengatakan, dari data survei hidro-oseanografi Pushidrosal 2016 dan data Multi Beam Echosounder (MBES), pada 29 dan 30 Desember 2018, perairan di selatan Gunung Anak Krakatau mengalami pendangkalan 20 hingga 40 meter.

" Ini dikarenakan adanya tumpahan magma dan material longsoran Gunung Anak Krakatau yang langsung jatuh ke laut," ujar Harjo.

 

2 dari 2 halaman

Bentuk Gunung Anak Krakatau Berubah

 Gunung Anak Krakatau Erupsi, Status Tetap Waspada© MEN

Selain pendangkalan, erupsi pada 22 Desember 2018 juga mengubah bentuk Gunung Anak Krakatau. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) merilis citra satelit Gunung Anak Krakatau. Peta citra satelit itu menunjukkan perubahan bentuk Gunung Anak Krakatau sejak 1 Agustus hingga 23 Desember 2018.

" Berdasarkan pengamatan pada citra Sentinel-A1 1 Agustus sampai 23 Desember 2018, diketahui bahwa telah terjadi perubahan morfologi yang signifikan pada daerah kawah dan sekitarnya akibat erupsi tanggal 22 Desember 2018," tulis Lapan, Kamis, 27 Desember 2018.

Sentinel-A1 merupakan satelit milik Badan Antariksa Eropa-ESA.

Dari citra satelit itu, 401.000 meter2 sisi barat Gunung Anak Krakatau berubah menjadi cekungan kawah. Cekungan kawah ini menyemburkan magma Gunung Anak Krakatau dari laut.

Beri Komentar