Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Penerapan Jaga Jarak Dan Pakai Masker Selama Pandemi Covid-19 (Foto: Pixabay.com)
Dream – Jaga jarak dan selalu memakai masker sepertinya harus menjadi kebiasaan baru masyarakat dalam beraktivitas.
Kehidupan mungkin belum akan kembali normal hingga setidaknya pada tahun 2022. Hal ini disampaikan oleh Kepala Ilmu Pengetahuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dr Soumnya Swaminathan.
Pada saat pertemuan online yang diselenggarakan oleh United Nations Foundation di Jenewa, Swis, dr Swaminathan mengatakan langkah-langkah seperti jaga jarak dan memakai masker harus diterapkan dalam jangka panjang.
Langkah ini harus dilakukan sampai kira-kira 60 hingga 70 persen masyarakat dunia telah melakukan vaksinasi, seperti dikutip dari laman Daily Star.

Kepala Ilmu Pengetahuan WHO tersebut juga mengatakan ia tidak bisa mengira mungkin virus corona akan menjadi virus musiman seiring berjalannya waktu, sebaliknya virus telah terlihat pasang surut dalam kasus penularannya.
“ Saya pikir aman untuk mengatakan bahwa pandemi bisa terjadi hingga setidaknya tahun 2022 ketika kita akan mulai berpikir untuk kembali ke kehidupan normal setelah Covid-19 usai,” tuturnya.
Ia melanjutkan pada tahun 2022 tersebut kemungkinan masih banyak orang yang belum mendapatkan vaksin untuk mendapatkan kekebalan tubuh terhadap virus corona.
“ Jadi dalam waktu yang lama ini kita harus mempertahankan kebiasaan yang sama saat ini dengan jaga jarak, memakai masker, dan menghirup udara bersih,” tambahnya.

Menurutnya, kebiasaan ini dilakukan hingga vaksin mulai diluncurkan. Namun pihaknya tidak mampu mengetahui secara pasti berapa lama vaksin mampu memberikan kekebalan tubuh dari serangan virus corona penyebab Covid-19.
“ Kami juga tidak mengetahui berapa lama vaksin yang diluncurkan ini akan melindungi tubuh, itulah bahaya besar lainnya. Berapa lama kekebalan tubuh bertahan? Dan mungkin saja kita membutuhkan booster,” kata Swaminathan.
Seluruh petugas medis dan ahli kesehatan saat ini tengah berusaha mengendalikan penyebaran virus penyebab Covid-19 daripada menghilangkannya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya