Baca Alquran Atau Jawab Azan, Lebih Utama Mana?

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 20 Desember 2017 16:03
Baca Alquran Atau Jawab Azan, Lebih Utama Mana?
Membaca Alquran maupun menjawab azan adalah amalan yang sama-sama dianjurkan.

Dream - Membaca Alquran sudah menjadi kebiasaan bagi umat Islam. Tadarus kerap kita jalankan di waktu-waktu tertentu, terutama usai sholat subuh dan usai sholat maghrib.

Ada kalanya, kita begitu nikmat dalam membaca Alquran. Sampai-sampai, kita tidak sadar sudah bertadarus cukup lama dan menyelesaikan banyak halaman.

Di tengah kenikmatan bertadarus, tiba-tiba terdengar azan penanda waktu sholat. Ada anjuran untuk menjawab panggilan sholat tersebut.

Dalam kondisi demikian, apakah kita berhenti atau melanjutkan membaca Alquran?

Dikutip dari laman Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama, membaca Alquran merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Demikian pula dengan menjawab azan.

Hal ini seperti penjelasan Abu Ishaq Asy Syairzi yang tertulis dalam kitab Al Muhadzdzab.

" Disunahkan (dianjurkan) bagi orang yang mendengar senandung suara azan muazin untuk mengucapkan hal sama dengan yang disenandungkan kecuali ketika muazin sampai pada ucapan hayya 'alas sholah dan hayya 'alal falah, maka orang yang mendengar senandung suara azan tersebut mengucapkan la hawla wala quwwata illa billah."

Sementara ketika kita mendengarkan azan di tengah kenikmatan membaca Alquran, Imam An Nawawi menerangkan lebih utama menghentikan bacaan Alquran kita lalu menjawab azan.

Pendapat ini disampaikan Imam An Nawawi dalam kitab Al Majmu' Syarhul Muhadzdzab.

" Seandainya seseorang yang sedang membaca Alquran mendengar azan dikumandangkan oleh muazin atau iqamah, maka ia (sebaiknya) menghentikan bacaan Alqurannya dan kemudian mengikutinya (menjawab suara azan atau iqamah)."

Dasar pertimbangannya adalah masing-masing kesunahan memiliki waktunya sendiri. Sunah membaca Alquran memiliki cakupan waktu yang luas, sementara menjawab azan adalah ketika panggilan sholat itu dikumandangkan.

Hal ini merujuk pada penjelasan Al Bakri Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam kitab I’anatut Thalibin.

" Karena setiap kesunahan itu memiliki waktu khusus, begitu juga menjawab senandung adzan muazin memiliki waktunya sendiri, belajar, membaca tasbih dan membaca Alquran memiliki waktunya sendiri. Sebagaimana tidak ada bagi hamba menjadikan posisi membaca surat Al Fatihah sebagai ajang untuk untuk istighfar, sujud sebagai kesempatan untuk membaca Alquran, atau posisi tasyahud untuk yang lainnya."

Selengkapnya...

(ism) 

Beri Komentar