Tulisan Berani Ki Hadjar Dewantara yang Buat Belanda Berang

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 2 Mei 2018 11:30
Tulisan Berani Ki Hadjar Dewantara yang Buat Belanda Berang
Hari kelahirannya dinobatkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Dream – Sahabat Dream, hari ini, Rabu 2 Mei 2018, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Peringatan hari bersejaraha ini bertepatan dengan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara.

Siapa Ki Hadjar Dewantara?

Pria bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ini digelari sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Tanggal kelahirannya, 2 Mei, dinobatkan sebagai Hari Pendidikan Nasional setelah pemerintah menetapkannya sebagai hari besar nasional melalui Keputusan Presiden (Kepres) No. 316 pada Desember 1959.

Tak hanya itu, Ki Hadjar Dewantara juga masuk ke dalam daftar pahlawan nasional yang tampil di uang rupiah. Sebagai penghormatan, pemerintan menampilkan wajahnya di gambar muka uang kertas Rp20 ribu.

Bagaimana perjalanan karier pria yang terkenal dengan semboyan “ Tut Wuri Handayani” itu?

 

1 dari 4 halaman

Jurnalis Andil yang Berani Sindir Belanda

Dikutip dari Wikipedia, Ki Hadjar Dewantara mulai merintis karier sebagai jurnalis muda di beberapa surat kabar seperti Sediotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Saat menjadi jurnalis, dia termasuk penulis andal. Dengan semangat antikolonial, tulisannya komunikatif dan tajam.

Sebenarnya, pria kelahiran Pakualaman pada 1889 ini bisa menjadi dokter. Sayangnya, dia tidak menamatkan pendidikannya di STOVIA (Sekolah Kedokteran Pribumi) karena sakit.

Dikutip dari Biografiku, Ki Hadjar Dewantara “ dibuang” ke Belanda karena sebuah tulisan yang dianggap menyakiti kolononial. Tulisan ini tayang di surat kabar De Express pimpinan Douwes Dekker.

“ Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan pemikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo, teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yag terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiataan yang tidak ada kepentingannya sedikit pun baginya,” tulis Ki Hadjar Dewantara.

Pengasingannya ke Belanda ini membuat Douwes Dekker dan Dr. Cipto Mangunkusumo geram serta rekan-rekannya geram. Alhasil, Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo juga diasingkan ke Belanda.

2 dari 4 halaman

Aktif sebagai Politisi

Ki Hadjar Dewantara juga termasuk aktivis sosial dan politik. Dia bergabung ke Boedi Oetomo (baca: Budi Utomo)—organisasi sosial dan politik pertama di Indonesia.

Di organisasi itu, suami dari Raden Ayu Sutartinah ini berperan sebagai ahli propaganda untuk menyadarkan pribumi tentang pentingnya semangat kebersamaan dan persatuan sebagai bangsa Indonesia.

Saat Douwes Dekker masuk, Ki Hadjar Dewantara diajak untuk mendirikan organisasi bernama Indische Partij. Di partai ini, ada juga Cipto Mangunkusumo.

3 dari 4 halaman

Jadi Guru dan Dirikan Taman Siswa

Sebelumnya, Ki Hadjar Dewantara dibuang ke Belanda. Di sana, dia mulai bercita-cita untuk memajukan kaumnya dengan pendidikan. Di Negeri Kincir Angin, Ki Hadjar Dewantara berhasil mengantongi ijazah pendidikan paling bergengsi di Belanda, Europeesche Akte. Ijazah inilah yang membantu beliau untuk mendirikan lembaga pendidikan di Indonesia.

Sepulangnya dari Belanda, pada 1919, Ki Hadjar Dewantara langsung bergabung menjadi guru di sekolah saudaranya. Pengalaman mengajar di sekolah itu mendorongnya untuk membuat konsep baru tentang metode pengajaran di sekolah yag didirikannya sendiri pada 1922. Sekolah ini bernama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (sekarang bernama Taman Siswa).

4 dari 4 halaman

Diangkat sebagai Menteri Pendidikan

Setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno menunjuk Ki Hadjar Dewantara sebagai menteri pengajaran (kini lebih dikenal sebagai menteri pendidikan). Ki Hadjar Dewantara pun menjadi menteri pengajaran pertama di Indonesia.

Berkat jasa-jasanya di bidang pendidikan, dia dianugerahi doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada dan gelar Bapak Pendidikan Nasional dan Pahlawan Nasional. 

(Sah)

Beri Komentar