Bocah Indonesia Jadi Mahasiswa Termuda di Kanada

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 4 September 2016 18:01
Bocah Indonesia Jadi Mahasiswa Termuda di Kanada
Ya, mahasiswa cilik itu bernama Diki Suryaatmadja. Dia terpilih sebagai mahasiswa kehormatan jurusan fisika Universitas Waterloo, Ontario.

Dream - Universitas Waterloo, Ontario, Kanada baru memulai akvitas perkuliahan pada bulan ini. Para mahasiswa duduk dan menjalani kelas di masing-masing jurusan.

Ada yang menarik di kelas mahasiswa baru Jurusan Fisika universitas tersebut. Ada satu anak kecil berumur 12 tahun duduk di antara para mahasiswa.

Ternyata, anak itu adalah salah satu mahasiswa baru. Mengagetkan sekaligus membanggakan. Anak itu tidak berasal dari negara lain, melainkan Indonesia.

Ya, mahasiswa cilik itu bernama Diki Suryaatmadja. Dia terpilih sebagai mahasiswa kehormatan jurusan fisika universitas itu. 

" Saya sangat senang, tapi merasa sedikit gugup karena transisi budaya," ujar Diki kepada CTV News.

Diki menempuh jalur akselerasi saat duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah. Semua dia jalani di negara tempat Diki lahir, Indonesia.

Di Universitas Waterloo, Diki tidak hanya belajar fisika. Dia juga mengambil kelas kimia, matematika dan ilmu ekonomi.

Meski Diki baru tiba di Kanada awal pekan ini, dia telah berhasil memukau dunia pada kesan pertama. " Negara ini punya orang-orang yang baik. Mereka sangat ramah dan sopan," kata dia.

Tetapi, Diki mengaku agak khawatir dengan cuaca. Sebab, di negara barunya itu sedang mengalami musim dingin.

Meski dia sangat bersemangat belajar skate, Diki khawatir musim dingin justru membuatnya tidak bisa menghabiskan banyak waktu untuk joging atau melakukan aktivitas luar ruangan lainnya.

Diki akan tinggal di luar kampus bersama keluarganya. Artinya, dia tidak menjadi bagian dari aktivitas asrama kampus.

Pengelola universitas mengatakan mereka akan membantu Diki mengenali aktivitas sosial kampus. Mereka menyadari Diki tidak perlu begitu cepat bergaul bersama mahasiswa lain yang usianya jauh di atasnya.

" Anak 17 tahun sadar akan apa yang ada di sini, tapi terserah mereka jika ingin mengikuti kebiasaan itu," kata salah satu pengelola universitas bagian penerimaan mahasiswa baru, Andre Jardin.

" Tetapi karena dia masih berusia 12 tahun, kami merasa mungkin dia perlu panduan," ucap dia

Jardin menyebut salah satu contohnya mempertemukan Diki dengan pembimbing akademiknya secara langsung.

Bagi mahasiswa lain, pengelola hanya perlu memberitahu siapa pembimbing akademik mereka, yang nantinya para mahasiswa yang akan menghubungi sendiri. Pengelola universitas juga akan berusaha terus menjalin kontak dengan keluarga Diki.

" Kami hanya ingin memastikan dia bisa terintegrasi secara sosial dan memiliki pengalaman luar biasa serta sukses, seperti kebanyakan mahasiswa lain," ucap Jardin.

" Dia sangat siap secara akademik. Apa yang harus kami sadari adalah kenyataan dia adalah anak 12 tahun," lanjut dia.

Diki begitu bersemangat menjalani kuliah. Dia bahkan telah menyiapkan rencana selama kuliah, membuat teknologi pembangkit energi alternatif berbiaya murah.

" Saya ingin mengubah dunia. Saya masih muda, dan saya masih punya banyak waktu untuk dunia ini," kata Diki.

Jardin mengatakan para staf bagian seleksi mungkin telah membuat keputusan tanpa memperhatikan beberapa informasi seperti usia dan jenis kelamin. Dan aplikasi Diki telah diloloskan sebelum mereka menyadari usia anak tersebut.

" Dia punya nilai yang fenomenal," kata Jardin, menambahkan Diki memiliki nilai tertinggi dari siapapun mahasiswa lain yang diterima Universitas Waterloo tahun ini. (Ism) 

1 dari 3 halaman

Siswa Madrasah Kembali Raih Medali di Kontes Robot Dunia

Dream - Siswa Madrasah Pembangunan UIN Jakarta kembali mengharumkan nama bangsa. Kali ini, Syahrozad Zulfa Nadia (Ocha), 10 tahun, berhasil meraih medali emas di ajang International Youth Robot Competition (IYRC) di Korea Selatan.

Tidak tanggung-tanggung, Ocha meraih empat medali sekaligus. Dia berhasil meraih Gold Medal Coding Mission, Exelent Award Steam Mission, Exelent Award Creatif Design A, dan Bronze Medal Creatif Design B.

Penanggung jawab Klub Robotik Madrasah Pembangunan UIN Jakarta Himmatul Laily Waisnaini mengatakan Ocha cukup cepat menyelesaikan tantangan yang diberikan. Salah satunya menyelesaikan track coding mission dalam waktu singkat.

" Hanya butuh waktu sepuluh detik," kata Laily, dikutip dari laman kemenag.go.id, Senin, 15 Agustus 2016.

Kemenangan tidak hanya diraih oleh Ocha. Tim Robotic Senior Madrasah Pembangunan yang digawangi Azka Hafizh meraih Silver Medal Coding Mission.

Sementara untuk grup, Tim Robotic Madrasah Pembangunan UIN Jakarta meraih Bronze Medal dan Exelent Award dalam kategori robot kreatif.

" Tema yang diusung dalam robot kreatif adalah Mesin Cap Batik Otomatis," kata Laily.

Tim robot mesin cap batik terdiri dari Ocha, siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI), Azka Hafizh, siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Andi Faiz Naufal Zain, siswa MTs. Dewan juri menilai ketiganya menunjukkan kekompakan.

" Kerja tim kreatif sangat kompak, memadukan unsur nilai budaya bangsa dan teknologirobot," ucap Laily.

Lebih lanjut, selaku wali murid, Laily menyampaikan terima kasih kepada para pendidik dan pembina Madrasah Pembangunan. Dia mengaku pilihannya menyekolahkan anaknya di madrasah tidaklah keliru.

" Selain belajar pelajaran umum dan agama, di madrasah anak-anak saya juga belajar sainsdan teknologi," kata dia. (Sah)

2 dari 3 halaman

Siswa Madrasah Jakarta Juara Olimpiade Matematika Dunia

Dream - Siswa madrasah kembali menorehkan prestasi tingkat internasional. Kali ini giliran Lutfi Bima Putra, siswa kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 9 Petukangan, JakartaBarat. Pelajar cilik ini meraih medali emas dalam ajang International Mathematics Competition (IMC) yang digelar di Singapura, pada 30 Juli lalu.

Kepala MIN 9 Petukangan, Asyim, mengatakan IMC merupakan ajang kompetisi matematika yang digelar hampir setiap tahun oleh IMC Union. Kompetisi ini diadakan dengan tujuan mempopulerkan pendidikan matematika.

Tidak hanya itu, kompetisi tersebut juga memiliki tujuan mengubah pandangan generasi muda tentang matematika. Hingga saat ini, banyak pelajar memandang matematika sebagai ilmu yang sukar.

" Perlombaan ini diikuti oleh negara Singapura, Filipina, China, Malaysia, Vietnam, Iran, Korea Selatan, Hongkong, dan Myanmar," ujar Asyim, dikutip dari laman kemenag.go.id,Rabu 3 Agustus 2016.

Asyim merupakan salah satu pendamping Lutfi dalam kompetisi matematika bergengsi tersebut. Asyim mengatakan Lutfi telah menjalani persiapan cukup intensif sebelum mengikuti kompetisi tersebut.

Menurut dia, putra pasangan Billy Zusmaily dan Marini Rasyidin ini berlatih soal-soal matematika bertaraf nasional maupun internasional.

" Saya pribadi berharap siswa-siswi madrasah akan lebih banyak lagi terlibat pada event-event seperti ini. Sebab saya yakin, siswa-siswi madrasah juga memiliki kemampuan yang sama dengan siswa-siswi di luar negeri. Buktinya adalah Lutfi Bima Putra," kata Asyim.

3 dari 3 halaman

Berlaga di Singapura, Siswa Madrasah Borong Medali

Dream - Prestasi siswa madrasah semakin mengkilai. Kali ini lima siswa madrasah memborong medali pada ajang kompetisi matematika internasional. Mereka berhasil meraih juara pada Singapore International Mathematic Olympiad Challenge (SIMOC) di Singapura, 12-15 Agustus 2016.

Sebelumnya, siswa madrasah berhasil membawa pulang medali dalam ajang kompetisi robotic di Korea Selatan. 

Dikutip dari laman kemenag.go.id, Selasa, 16 Agustus 2016, para siswa tersebut yaitu Anisa Hayati dari Madrasah Aliyah (MA) Matholibul Huda Mlongo Jepara yang meraih medali emas, Septiana Rohmawati (MA Abadiyah Pati), M Ulin Nuha (Madrasah Tsanawiyah (MTs Abadiyah) dan Kholida Nailil Muda (MAN Wonokromo Yogyakarta) yang sama-sama meraih medali perak, dan Dedi Wahyudi dari MTs Matholibul Huda Mlongo Jepara dengan menggondol medali perunggu.

Kepala MAN Wonokromo Ali Asmui mengatakan SIMOC ini diikuti 700 peserta dari 15 negara. Indonesia sendiri mengirim 97 siswa terbaiknya untuk berlaga di ajang ini.

Para peserta merupakan perwakilan tiap negara yang sebelumnya sudah menjalani proses seleksi dan dinyatakan lolos. Seleksi tersebut digelar di masing-masing negara.

" Kelima siswa-siswi tersebut dan sejumlah rombongan lainnya akan sampai di Bandara Djuanda Surabaya," kata Ali.(Sah)

Beri Komentar
Potret Aktifitas Prisia Nasution Saat Jelajahi Alam