Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Sumber Foto: Our Better World
Dream - Semua umat manusia pasti menginginkan kehidupan yang damai meski di antara mereka terdapat banyak perbedaan. Hidup tanpa saling curiga atau merasa diintimidasi adalah dambaan setiap orang.
Kehidupan yang harmonis itulah yang coba ditampilkan oleh gerakan kemanusiaan bernama SabangMerauke. Gerakan yang dibangun setelah muncul konflik bernuansa SARA di Maluku ini mengajarkan tentang toleransi, pendidikan, dan ke-Indonesiaan.
Melalui SabangMerauke, salah satu penggagas, Ayu Kartika, ingin membuka hati dan pikiran mereka yang memiliki perbedaan keyakinan, etnis, dan budaya untuk melihat bahwa kita semua sebenarnya menginginkan kehidupan yang damai.
Semua ini berawal ketika dirinya menjadi guru sekolah dasar di Pulau Bacan, Maluku Utara.
© Dream
Ayu mengisahkan, dia sebelumnya adalah guru sebuah sekolah dasar di Pulau Bacan yang merupakan salah satu wilayah terpencil di Indonesia.
Sepuluh tahun sebelum Ayu tiba di sana, ada kerusuhan antara Muslim dan Kristen, dengan ribuan korban. Setelah kerusuhan, pemerintah memisahkan desa-desa menjadi desa Muslim dan desa Kristen.
Ayu kebetulan dikerahkan ke sebuah desa yang penduduknya 100 persen Muslim. Suatu sore, ketika ada kekhawatiran bahwa kerusuhan lain mungkin akan terjadi, murid-muridnya berlari dengan panik ke rumah Ayu. Mereka mengatakan, " Bu, hati-hati! Mereka bisa membakar rumah kita!"
Ketika Ayu mengatakan kepada mereka bahwa kerusuhan itu jauh, mereka berkata, " Kerusuhan akan menjalar ke sini!"
Ayu berpikir, murid-muridnya itu bahkan tidak pernah bertemu orang Kristen selama hidup mereka. Mereka bahkan tidak mengerti arti dari 'kerusuhan'. Tapi mereka punya begitu banyak kebencian dan kemarahan terhadap orang-orang Kristen.
" Saya percaya hal yang sama juga dirasakan oleh anak-anak Kristen di luar sana," kenang Ayu. Jadi Ayu tahu ada hal yang harus dilakukannya untuk meluruskan pandangan tersebut.
© Dream
Setelah setahun di Pulau Bacan, Ayu kembali ke Jakarta. Dia dan beberapa temannya mendirikan SabangMerauke. Ini adalah program pertukaran siswa intra-bangsa di Indonesia.
SabangMerauke mengajak anak-anak dari seluruh Indonesia untuk tinggal dengan keluarga angkat yang berbeda agama di Jakarta. Jadi, seorang anak Hindu dari Bali akan tinggal dengan keluarga Muslim; seorang anak Kristen dari Kalimantan hidup dengan keluarga Jawa Muslim; dan anak Muslim dari Maluku tinggal dengan keluarga Katolik Tionghoa.
" Dan kami memprioritaskan anak-anak dari daerah pasca-konflik," kata Ayu.
Ayu percaya bahwa interaksi dalam kehidupan nyata akan membuka hati dan pikiran anak-anak itu dan orang tua angkatnya. Membuat mereka melihat bahwa kita sebenarnya adalah sama-sama manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Program tersebut pada gilirannya akan menciptakan duta perdamaian di kalangan mereka sendiri.
" Dari perjalanan saya dan setelah mengalami menjadi minoritas di luar negeri, saya percaya bahwa keragaman tidak hanya diajarkan di kelas - tetapi harus dirasakan dan dialami," kata Ayu.
Untuk mengenalkan SabangMerauke, Ayu dan rekan-rekannya membuat video yang mengisahkan tentang gadis Muslim bernama Apipa. Awalnya Apipa takut tinggal dengan keluarga Kristen Tionghoa.
Begitu juga dengan keluarga yang ditinggali Apipa yang merasa tidak bisa memberikan yang terbaik untuk seorang Muslim. Namun seiring bertambahnya waktu, kedua pihak yang berbeda agama, ras, dan budaya itu bisa saling menerima dan memahami.
Baik Apipa dan keluarga yang ditinggalinya bisa saling belajar satu sama lain untuk lebih hidup secara harmonis.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya