Hukum Berboncengan yang Bukan Muhrim dalam Islam

Reporter : Dwi Ratih
Jumat, 21 September 2018 07:01
Hukum Berboncengan yang Bukan Muhrim dalam Islam
Ketahui jawabannya di sini.

Dream - Dalam Islam, baik laki-laki dan perempuan tidak boleh sembarang bergaul apalagi bersentuhan satu sama lain.

Sering banget ucapan seperti " Bukan muhrim" terlontar dari mulut masyarakat yang mengisyarakatkan, laki-laki dan perempuan tanpa ada hubungan darah atau keluarga dilarang bersentuhan.

Hal tersebut dilakukan agar tidak timbul fitnah.

shutterstock© dream.co.id

Tapi bagaimana jika berboncengan di motor termasuk ketika menggunakan jasa ojek?

Dengan sopir ojek yang tentu belum dikenal, namun jasa itu lumrah digunakan di lingkungan kita.

Bahkan di zaman nabi dulu, situasi membonceng lawan jenis sudah ada. Namun tetap hukum Islam terhadap " Bukan muhrim" dijalankan.

Apa bunyi hukum itu? Baca selengkapnya di sini.

Kirimkan cerita inspiratif kamu ke komunitas.dream@kly.iddengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin di-publish
2. Sertakan link blog/web
3. Foto dengan ukuran high-res (tidak blur)

(ism)

1 dari 2 halaman

Ingatlah Ayat Ini Jika Kamu Suka Menunda, Naudzubillah

Dream - " Ayo sholat, sudah azan!" " Nanti dulu, tanggung lagi nonton film."

Sahabat Dream pernah mendengar percakapan seperti itu? Atau mungkin kalian sendiri yang mengalaminya bersama suami atau anak-anak?

Menunda pekerjaan, apalagi ibadah wajib, merupakan kebiasaan buruk yang sangat tak disukai Allah SWT.

shutterstock© dream.co.id

Walau pada akhirnya tetap dijalankan, menunda pekerjaan tetap tidak disarankan. Ingatlah, tak ada yang tahu kapan ajal mendekat kecuali Sang Kuasa yang mengetahui semua rahasia di dunia..

Menghindari hal-hal yang buruk terjadi, lebih baik diutamakan. Seperti firman Allah SWT dalam Surat Luqman ayat 34, " Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati."

Untuk itu, Allah SWT juga mengingatkan jika amalan baik sekecil apapun yang kamu lakukan hari ini akan diterima-Nya. Sedangkan sebesar apapun amalan baik yang kita berikan nanti setelah kematian, tidak akan berarti apa-apa.

Baca penjelasan lengkapnya di siniyuk!

2 dari 2 halaman

Haid di Tengah Puasa Asyura, Hilangkah Pahalanya?

Dream - Umat Islam mendapat perintah dari Rasulullah Muhammad SAW untuk melaksanakan puasa Asyura. Perintah yang merupakan anjuran ini untuk memberikan perlakuan istimewa untuk tanggal 10 Muharram yang juga istimewa.

Sebagian saudara kita sangat bersemangat menjalankan anjuran ini. Mereka bahkan jauh-jauh hari menyiapkan diri untuk melaksanakan puasa Asyura, termasuk kaum hawa.

Tetapi, para wanita terkadang menghadapi kendala meski sudah berniat atau sedang menjalankan puasa asyura. Di tengah hari, bahkan beberapa menit sebelum azan maghrib mereka mengalami haid.

Jika hal ini terjadi, apakah pahala ibadah puasa asyura pada wanita yang haid di tengah jalan menjadi hilang?

Puasa Jadi Sia-sia?

Dikutip dari bincangsyariah, persoalan ini dibahas dalam fatwa ulama Mesir pada Darul Ifta' Al-Misriyyah.

" Jika wanita itu disyariatkan berpuasa di hari Asyura, lalu tiba-tiba ada udzur yang memaksanya untuk berbuka (haid). Maka, pahalanya adalah telah berada di sisi Allah, tidak berkurang dengan izin Allah. Dan Allah Maha Pemurah terhadap hamba-Nya terkait masalah ganjaran dan pahala. Allah Yang Maha Suci dan Luhur yang lebih tahu."

Kaum hawa tidak perlu khawatir jika mengalami haid secara tiba-tiba padahal sedang puasa asyura. Insya Allah, puasa yang sudah dikerjakan tetap dicatat tanpa pengurangan meskipun tidak selesai sehari penuh.

Karena jika puasa dilanjutkan justru berdosa. Sebab, wanita haid terlarang untuk melaksanakan puasa.

Selengkapnya...

Beri Komentar