Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Jenis-jenis pakaian dewasa ini berkembang begitu pesat. Bahkan, tren pakaian selalu berubah dari tahun ke tahun.
Hal ini juga terjadi pada pakaian wanita Muslim. Pelbagai macam model pakaian hijab muncul sedemikian rupa.
Pakaian sejatinya mencerminkan tingkat peradaban di suatu daerah. Demikian pendapat Sejarawan Mesir, Khalil Abdul Karim dalam karyanya, Syadw Ar Rababah bi Ahwal Mujtama' Ash Shahabah.
Dikutip dari Islami.co, tentu pakaian muslimah saat ini jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Bahkan di masa Rasulullah Muhammad SAW.
Khalil Abdul Karim mencatat ada beberapa jenis pakaian yang digunakan wanita di masa Rasulullah. Catatan itu berdasarkan sejumlah hadis.
Jenis pertama adalah Al Marth. Ini adalah pakaian berbentuk selendang besar yang tidak dijahit. Dalam sebuah hadis, Aisyah RA berkata,
"Ketika Rasulullah SAW hendak (mengimami) sholat Subuh maka perempuan-perempuan berangkat (ke masjid) dengan berselimut al marth, mereka tidak dikenal karena petang."
Dalam riwayat lain, Umar bin Khattab pernah membagikan muruth (jamak dari marth) kepada para perempuan Madinah. Pakaian ini berbahan sutera, bulu domba, dan pohon rami.
Jenis kedua, ad dir'. Pakaian ini adalah kain yang tengahnya dilubangi dan dijahit kecuali pada sisi kanan dan kirinya. Bagian yang tidak dijahit berfungsi untuk lubang lengan. Bentuknya lebih menyerupai qamish.
Dalam hadis riwayat Thabrani, Samra' binti Nahik menggunakan ad dir' ketika bertemu Rasulullah Muhammad SAW.
Jenis ketiga yaitu qamish yang bentuknya sama dengan ad dir'. Rajab Ibrahim dalam kitab Al Mu'jam Al 'Arabi Lil Asma' Al Malabis menyebut pakaian ini masuk ke Arab sebelum datangnya Islam.
Pakaian ini merupakan hasil interaksi antara masyarakat Arab pra-Islam dengan orang-orang Romawi di Syam. Qamish diambil dari Bahasa Romawi 'Camisia'.
Jenis selanjutnya adalah al khimar, yaitu kain penutup kepala pada wanita. Di masa Rasulullah, khimar ada dua macam yaitu sadzij (polos) dan masbugh (khimar yang berwarna).
Dalam sebuah riwayat Ibnu Majah, Aisyah pernah mengenakan khimar yang dicelup za'faran.
Sedangkan jenis terakhir adalah al izar dan ar rida. Al izar adalah pakaian tak dijahit untuk menutupi bagian bawah tubuh sedangkan ar rida' yang merupakan pasangannya adalah pakaian yang menutupi bagian atas.
(ism)
Advertisement

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia

3 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Olahraga, Menurut Ahli Gizi

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan

Deforestasi Amazon Brasil Turun ke Level Terendah, Ini 5 Pelajaran yang Bisa Ditiru Indonesia

Mengapa Ada Pusar Bodong dan Pusar Masuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Mau Nonton Grand Final AXIS Nation Cup 2026? Ini Cara Daftar dan Datang ke Istora Senayan