Perjuangan Haru Si Kakek Pemulung Pergi Haji

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 21 Maret 2016 08:02
Perjuangan Haru Si Kakek Pemulung Pergi Haji
"Impian saya adalah pergi ke Mekah menunaikan haji menggunakan uang hasil peluh sendiri".

Dream - Usianya sudah sangat tua, 78 tahun. Tapi tak mengendurkan semangat Mansur Arifin, kakek pemulung yang tinggal di Seremban, ibukota Negeri Sembilan, Malaysia, untuk menunaikan ibadah haji.

" Impian saya adalah pergi ke Mekah menunaikan haji menggunakan uang hasil peluh sendiri," kata Mansur.

Untuk mengumpulkan uang bekal pergi berhaji, Mansur menjadi pemulung dengan memungut kaleng, plastik, besi dan koran lama menggunakan troli yang dimodifikasi setiap hari.

Meski usianya sebenarnya tak menunjang, kakek yang akrab dipanggil Pak Mansur ini tetap bekerja mencari uang. Dia tidak ingin merepotkan anaknya.

Pak Mansur mengatakan anak-anaknya punya tanggung jawab dengan keluarga masing-masing. Sementara sang istri, Aminah Talib, 75, menderita lumpuh separuh badan sejak lima tahun lalu dan tinggal bersama anak keduanya yang terletak tidak jauh dari rumahnya.

" Memang ada bantuan dari Departemen Kesejahteraan Masyarakat (JKM) sebesar 300 ringgit Malaysia sebulan. Tapi uang itu digunakan untuk membeli popok sekali pakai istri," katanya.

(Sumber: Harian Metro)

1 dari 3 halaman

Menabung 31 Tahun, Tukang Pijat Akhirnya Berangkat Haji

Dream - Kisah Ponisah binti Dirjo ini bisa menjadi inspirasi. Terutama bagi umat muslim yang bercita-cita menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Ya, warga Lumajang, Jawa Timur, ini bukan orang yang kaya raya. Perempuan 64 tahun ini hanyalah tukang pijat khusus anak yang membuka praktik di Gang Mangga, Kelurahan Kepuharjo.

Berangkat haji memerlukan biaya puluhan juta. Jika dilihat sepintas, Ponisah tidak mungkin bisa berangkat menunaikan rukun Islam ke lima itu. Namun nyatanya, dia mampu. Dan bulan ini akan terbang ke Tanah Suci.

Kesungguhan niat menjadi kuncinya. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Seperti itulah. Ponisah menabung sedikit demi sedikit uang hasil memijat. Selama 31 tahun, Ponisah menabung uang hasil memijatnya. Dan akhirnya cukup untuk biaya berangkat haji.

Bu Temo, demikian karib disapa, mulai bekerja sebagai tukang pijat sejak tahun 1980-an. Sejak 1984, sebagian penghasilan itu mulai dia tabung. Dia persiapkan untuk cita-cita mulia ini.

Warga sekitar mengenal Bu Temo sebagai sosok yang baik. Dia tidak pernah mematok tarif untuk pasien. Setiap pasien hanya membayar suka rela dengan memasukkan uang pada sebuah kotak yang telah disiapkan di depan rumah.

“ Awal saya memijat bahkan tidak dibayar, mereka hanya memberi saya sembako, seperti gula,” kata Bu Temo sebagaimana dikutip Dream dari laman Lumajang News, Selasa 1 September 2015.

Ibu tiga anak ini semula menabung secara tradisional. Lembar demi lembar uang dia masukkan ke kaleng dan tabungan plastik berbentuk ayam. Dia baru menyimpan uangnya di bank pada 2005. Dan pada 2009, istri anggota TNI –suaminya sudah wafat– ini mendaftar sebagai calon jamaah haji.

“ Saya baru memantapkan hati dan berniat pergi ke tanah suci di tahun 2009,” jelas Bu Temo. Bagaimana kisah kegigihan Bu Temo untuk berangkat haji? Baca selengkapnya di sini.

Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi

Ayo berbagi traffic di sini!

 

2 dari 3 halaman

Gendong Ibu Selama Berhaji, Jemaah Indonesia Jadi Inspirasi

Dream - Jemaah haji Indonesia, Badri, menjadi inspirasi di Tanah Suci. Sebab, selama pelaksanaan ibadah haji, pria 53 tahun ini selalu menggendong sang ibu, kemana pun dia pergi.

Sebenarnya, Badri bisa saja membawa sang bunda yang sudah berusia 85 tahun dengan kursi roda. Namun dia memilih mengendongnya. Kata dia, ini semata-mata untuk mencari rida Allah.

Selama proses ibadah haji dari Arafah maupun di Muzdalifah dan bahkan hingga sampai acara lempar jumrah, Badri tidak terlihat lelah.

Ingin tahu kisah Badri, baca selengkapnya di sini.

Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi

Ayo berbagi traffic di sini! 

3 dari 3 halaman

Menabung 15 Tahun, Kuli Panggul Ini Akhirnya Naik Haji

Dream - Berhaji ke Tanah Suci menjadi impian setiap muslim di penjuru Bumi. Banyak yang rela menabung selama belasan, bahkan puluhan tahun, untuk bisa menunaikan Rukun Islam ke lima itu. Menabung sejak muda untuk berhaji saat usia sudah tua.

Seperti yang dilakukan oleh Sunaryo. Kuli Panggul di Pasar Bendungan, Wates, Kulonprogo, Yogyakarta, itu menabung selama 15 tahun. Sebagai buruh, dia hanya mendapat bayaran Rp1.000 hingga Rp2.000 untuk mengangkut barang seberat 25 hingga 50 kilogram. Namun dalam sehari, dia mampu menabung Rp10 ribu.

Pria yang karib disapa Sunar ini akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci tahun ini. Pria 53 tahun ini berulang kali mengucapkan rasa syukur ketika ditanya soal perjuangan untuk naik haji.

Awalnya, dia berpikir ibadah haji adalah hal mustahil bagi kuli panggul sepertinya. Namun, dukungan keluarga membuatnya bertekat bulat untuk menabung setiap hari.

" Setiap hari harus saya sisihkan Rp10.000 buat tabungan haji. Sisanya buat kebutuhan keluarga," ungkap Sunar yang rumahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari Pasar Bendungan.

Seperti apa kisah perjuangan Pak Sunar? Baca selengkapnya di sini.

 

Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi

Ayo berbagi traffic di sini!

Beri Komentar