Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bung Karno (Shutterstock)
Dream - Lebaran identik dengan kebahagiaan. Semua orang merayakan kemenangan, setelah selama sebulan menjalankan puasa. Makanan lezat terhampar, baju baru disandang. Penuh ceria.
Tapi ada pula saudara-saudara kita yang melewatkan Lebaran dengan balutan kesedihan. Mereka dirubung kekurangan. Tak ada menu enak di meja. Baju pun masih pakai yang lawas, yang digunakan sehari-hari.
Pengalaman sedih berlebaran juga pernah dialami oleh presiden pertama Indonesia, Sukarno, saat masih kanak-kanak. Dalam buku “ Bung Karno, Penayambung Lidah Rakyat”, dibeberkan masa-masa sulit yang dialami proklamator bangsa itu.
Kala itu, Sukarno yang masih berumur enam tahun orangtuanya pindah ke Mojokerto. Di kota yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Surabaya itu, mereka tingal di perkampungan kumuh. Meski para tetangga Sukarno berada dalam kekurangan, mereka masih mampu beli jajanan, pepaya dan permen.
“ Tapi aku tidak. Tidak pernah,” kata Sukarno dalam buku yang ditulis oleh wartawan asal Amerika Serikat, Cindy Adam, itu.
Lebaran, kata Sukarno, merupakan hari besar bagi umat Islam, hari penutup bulan Puasa. Lebaran tak beda dengan hari Natal bagi penganut agama Kristen. “ Orang-orang makan besar dan memberi hadiah. Tapi kami tak pernah makan besar atau pun memberi hadiah. Karena kami tidak punya uang.”
Sudah menjadi kebiasaan anak-anak zaman itu, saat malam menjelang Lebaran mereka bermain petasan. Semua anak melakukan kebiasaan itu. “ Semua, kecuali aku,” ujar Sukarno.
Pada hari Lebaran, setengah abad sebelum diwawancara oleh Cindy Adam untuk menyusun buku ini, Sukarno berbaring sendirian di kamar tidur. Kamar itu sempit, hanya muat untuk satu ranjang saja.
“ Dengan pilu mengintip ke arah langit melalui tiga buah lubang udara yang kecil-kecil pada dinding bambu. Lubang udara itu berukuran sebesar batu bata,” Sukarno menggambarkan kamar sederhananya.
Di atas ranjang itu, Sukarno merasakan berapa malang nasibnya. Hatinya teriris. Sementara, dia mendengar petasan yang meletus bersahutan, disusul teriakan gembira kawan-kawannya.
Dia sedih. Saat kawan-kawannya bisa membeli petasan, dia tidak. “ Satu-satunya cara yang bisa dilakukan seorang anak untuk mengatasai perasaan itu ialah dengan menangis terisak-isak sepuas-puasnya di atas tempat tidurnya.”
Sukarno masih teringat, bagaimana dia menangis kepada sang bunda, " Dari tahun ke tahun aku selalu berharap, tapi tidak sekalipun aku bisa menyalakan mercon. Aku merasa begitu menyesal pada diriku sendiri,” tutur Sukarno.
Kemudian pada malam hari, datanglah seorang tamu menemui bapaknya. Sang tamu membawa bingkisan kecil dan menyodorkannya kepada Sukarno. Sukarno mengaku gemetar karena bahagia. “ Sehingga hampir tak sanggup membukanya. Isinya petasan,” tutur dia.
Bagi Sukarno kala itu, tak ada harta, lukisan, atau pun istana di dunia ini yang dapat memberinya kegembiraan seperti waktu itu. “ Aku tidak bisa melupakan peristiwa itu selama hidupku,” ucap Sukarno.
Itulah Sahabat Dream, jangan lupa selalu bersyukur. Bila kita merayakan Lebaran dalam kondisi kecukupan, jangan lupa kepada saudara-daudara kita yang masih kekurangan. Mari berbagi dengan sesama dalam Idul Fitri ini. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya