Sejarah Penyusunan Mushaf Alquran

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 11 Desember 2017 11:02
Sejarah Penyusunan Mushaf Alquran
Saat diturunkan, Rasulullah menyampaikan setiap ayat kepada para sahabat, lalu ditulis dalam lembaran-lembaran.

Dream - Alquran merupakan kumpulan firman Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Setiap firman disampaikan melalui perantara Malaikat Jibril.

Ketika diturunkan, Rasulullah menyampaikan ayat-ayat tersebut kepada para sahabat, yang kemudian mereka tulis dalam lembaran-lembaran. Ada yang menulisnya di kertas, ada pula di kulit hewan.

Meski hanya dalam bentuk lembaran, maka sudah dinyatakan suci dan harus dihormati. Ini lantaran di atas lembaran itu terdapat tulisan berupa ayat-ayat dari Allah SWT.

Menyentuhnya pun harus dalam keadaan suci dari hadas dan najis. Hal ini seperti tertuang dalam Surat Al Waqiah ayat 79.

Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.

Lembaran-lembaran itu kemudian dikumpulkan menjadi satu mushaf di masa para sahabat sepeninggal Rasulullah. Tepatnya ketika Abu Bakar As Shiddiq memegang jabatan sebagai Khalifah.

Di masa itu, terjadi perang Yamamah yang membuat banyak sahabat penghafal Alquran gugur sebagai syuhada. Muncul kekhawatiran ayat Alquran akan hilang bersama dengan gugurnya para sahabat.

Menurut pengakuan Zaid bin Tsabit dalam sebuah riwayat, Umar bin Khattab menghadap Abu Bakar mengadukan apa yang terjadi. Dalam benak Umar muncul kekhawatiran lenyapnya Alquran karena semakin banyak sahabat yang gugur.

Dia kemudian menyampaikan usul agar Alquran yang masih dalam lembaran-lembaran disusun dalam sebuah kitab. Abu Bakar sempat menolak usulan ini karena Rasulullah tidak pernah melaksanakan maupun mengamanatkan hal itu.

Tidak sekali Abu Bakar menolak usulan itu. Seiring berjalannya waktu, jiwa dan pikiran Abu Bakar dibukakan oleh Allah sehingga akhirnya menyetujui usulan Umar untuk membukukan ayat-ayat Alquran.

Abu Bakar kemudian mengundang Zaid bin Tsabit dan rencananya ditunjuk sebagai ketua pelaksana pengumpulan lembaran-lembaran Alquran. Tetapi, reaksi Zaid sama seperti Abu Bakar sebelumnya.

Zaid menolak dengan berkata di depan Abu Bakar dan Umar, " Bagaimana kalian akan melakukan satu hal di mana Rasulullah SAW sendiri tidak pernah melaksanakan serta memberikan janji apapun tentang itu?"

Abu Bakar kemudian berusaha terus memberikan pemahaman kepada Zaid mengenai ide penyusunan mushaf. Akhirnya, Zaid pun bisa sepaham dengan Abu Bakar dan Umar.

Meski demikian, Zaid merasa pengumpulan lembaran-lembaran Alquran bukanlah tugas ringan. Bahkan, Zaid sampai mengandaikan tugasnya jauh lebih berat daripada memindahkan gunung.

" Demi Allah, jika mereka menyuruhku untuk memindahkan gunung-gunung, pasti lebih mudah dari pada menjalani satu hal yang mereka kehendaki pada diriku ini."

Dibantu sejumlah sahabat, Zaid mencurahkan perhatiannya secara penuh terhadap pengumpulan ayat-ayat Alquran, baik yang tertulis di kertas, kulit, tulang-tulang hewan dan lain-lain. Lembaran demi lembaran yang berhasil dia kumpulkan kemudian diserahkan kepada Abu Bakar hingga sang Khalifah wafat.

Misi tersebut kemudian dilanjutkan oleh Umar yang menjadi Khalifah kedua. Sepeninggal Umar, mushaf yang sudah dikumpulkan dijaga oleh Hafsah.

Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Syihab, ada kisah dari Anas bin Malik, yang menyatakan Hudzaifah ibnul Yaman pernah menemui Khalifah Utsman bin Affan. Di hadapan Utsman, Hudzaifah menyampaikan kegelisahannya mengenai banyaknya sahabat yang berselisih mengenai Alquran.

" Ya Amirul Mu'minin, Sungguh aku telah mendapatkan informasi, banyak orang yang berselisih tentang masalah Alquran sebagaimana perselisihan orang Yahudi Nasrani. Hingga ada orang yang berani berdiri dengan lantang, 'Ini adalah bacaan fulan'," kata Hudzaifah.

Mendengar hal itu, Utsman meminta Hafsah, istrinya yang juga putri Rasulullah, untuk membawakan mushaf yang sudah selesai dikumpulkan. Utsman kemudian mengutus lima orang sahabat yaitu Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Ibnu Abbas, dan Abdullah bin Haris untuk menyalin redaksi Alquran menjadi satu, yang kemudian dikenal dengan kaidah Rasm Usmani (gaya penulisan Alquran ala Khalifah Utsman).

Selengkapnya... 

(ism) 

 

Beri Komentar