Semangat Polisi Tanpa Kaki Kebanggaan Keluarga

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 10 April 2015 15:44
Semangat Polisi Tanpa Kaki Kebanggaan Keluarga
Dwi Retno Wulandari, 35 tahun, begitu bangga melihat suaminya, yang tidak lagi bertubuh normal, begitu semangat menjalani hidup dan bekerja.

Dream - Aipda Beni Hendrik harus merelakan kedua kakinya diamputasi akibat kecelakaan yang dialaminya saat bertugas mengevakuasi kecelakaan di kawasan Nagreg, tahun 2005 silam. Tetapi hal itu tidak mematahkan semangatnya untuk tetap bertugas di Polsek Rancaekek, Kabupaten Bandung. 

Semangat itu membuat keluarga, terutama sang istri, Dwi Retno Wulandari, 35 tahun, merasa bangga. Menurut Dwi, Beni tidak pernah merasa malu dengan kondisinya saat ini.

" Kalau saya bisa angkat jempol empat, saya akan angkat jempol empat," ujar Dwi saat berbincang dengan Dream.co.id, Jumat, 10 April 2015.

Dwi mengatakan meski sang suami kini tidak lagi memiliki tubuh normal, ia tak pernah melihat Beni mengeluh. Suaminya tampak selalu ceria dalam menjalankan tugas.

" Dia tidak merasa minder. Ke mana-mana dia pakai kursi roda, dilihat banyak orang, dia tidak malu," ungkapnya.

Dwi pun mengaku pernah bertanya apakah Beni malu dengan kondisinya. Jawaban sang suami membuatnya begitu bangga.

" Kenapa harus malu, sudah begini keadaannya," kata Dwi menirukan jawaban suaminya. " Dia bisa menerima keadaan, itu jadi semangat saya," lanjutnya.

Beni dan Dwi memiliki dua orang anak. Putri sulungnya kini duduk di bangku kelas IX SMP 1 Cileunyi, sedangkan putra keduanya duduk di bangku kelas V SD Cikalang. Dwi juga berencana selepas Ujian Nasional akan membawa anaknya tinggal serumah dengan Beni di Asrama Polisi Rancaekek.

" Yang pertama ingin mengikuti jejak ayahnya, jadi Polwan. Yang kedua ingin jadi tentara," tuturnya.

Terkait posisi keduanya yang kini tidak serumah, Dwi menerangkan hal itu bukan karena ia tidak menerima kondisi suaminya. Alasan yang paling mendasar adalah karena kedua anak mereka bersekolah di dekat rumah ibunya di Cileunyi.

Awalnya memang keduanya tinggal di Cileunyi. Kondisi yang dialami Beni tidak memungkinkan baginya berangkat dari rumah. Hal itu menjadi alasan keduanya memutuskan tidak tinggal serumah untuk sementara waktu.

" Kalau dari rumah ibu saya ke Rancaekek harus naik angkot dengan ongkos Rp75.000 sekali jalan. Kalau dengan pulang, berarti Rp150.000. Selain itu, kondisi suami saya tidak memungkinkan naik angkot," terangnya. (Ism)

Beri Komentar