Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Urip Saat Melayani Pembeli Bensin Dagangannya (pppa.or.id)
Dream - Pria itu berdiri di pertigaan Jalan Pasirjaya RT 01/04, Jatiuwung, Tangerang. Dia berusaha mengatur arus lalu lintas kendaraan dan mencoba mengurai kemacetan. Beberapa di antara pengguna jalan memberinya recehan, meski tidak semuanya berlaku seperti itu.
Di sela-sela aktivitasnya sebagai 'Pak Ogah', pria itu duduk di sebuah kios tak jauh dari tempatnya beroperasi. Kios itu hanya menjual bahan bakar minyak Premium, lazimnya disebut bensin. Menjadi 'Pak Ogah' dan berjualan bensin adalah aktivitas yang dilakukan pria bernama Urip, 55 tahun, untuk terus menyambung hidup.
Urip bukan sosok yang normal. Sekujur tubuhnya dipenuhi banyak benjolan menyerupai kutil. Dia mengidap Neurofibromatosis, penyakit langka yang menumbuhkan benjolan di sekujur tubuh.
Kondisi itu membuat Urip tidak bisa bekerja laiknya orang normal. Hasilnya menjadi Pak Ogah dan berjualan bensin menjadi biaya hidup sehari-hari. Terkadang, dia kerap mendapat bantuan dari tetangga berupa makanan.
" Saya juga masak sendiri, masak apa saja yang ada di rumah. Yang penting ada nasinya," ujar Urip.
Urip menderita penyakit langka tersebut sejak dia berusia sekitar 18 tahun. Awalnya, benjolan-benjolan tersebut muncul seperti bintik-bintik. Tetapi, benjolan tersebut semakin membesar hingga membuat tubuhnya seperti melepuh.
Benjolan itu telah menutupi 90 persen bagian tubuhnya. Wajahnya pun hampir sulit dikenali. Bahkan tangan, kaki, dan badannya terlihat seperti membengkak.
" Alhamdulillah, saya tak pernah merasa sakit, panas atau yang lainnya. Seperti biasa saja, makan biasa, tidur pun biasa," kata dia.
Kelainan yang ia alami memang kerap membuat banyak orang mengejeknya. Tetapi, Urip memilih bertahan dan mengabaikan cercaan orang lain. Dia pun mengaku tidak pernah sekalipun berhenti untuk mengucap syukur.
" Saya hidup apa adanya yang Allah kasih ke saya. Karena, tak ada yang bisa saya lakukan selain bersyukur, biarlah orang lain berkata apa," ucap dia.
Urip sendiri sebenarnya menyimpan keinginan hidup layaknya orang normal. Meski begitu, harapannya harus pupus lantaran tidak adanya biaya berobat.
Dia berkisah pernah menjalani pengobatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) atas biaya yang didapat dari sumbangan warga sekitar. Lantaran harus menjalani pengobatan rutin dan dianjurkan tinggal di dekat RSCM, Urip merasa keberatan. Dia tidak punya biaya cukup untuk berobat.
Meski dalam kondisi hidup sebagai pengidap kelainan, ditambah serba kekurangan, Urip tidak pernah berhenti salat dan terus menjaga silaturahim dengan tetangga. Dia punya keinginan untuk bisa mengaji, tetapi tidak ada yang mau mengajarinya sejak kecil.
" Jadi kalau salat bacanya yang saya ingat saja, seperti Qulhu," ucap Urip.
Senyum itu kembali tergurat di wajah saat ia mendapat bantuan dari para Muzakki yang terkumpul melalui PPPA Daarul Quran melalui program Senyum Mustahik. Meski sedikit, bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban Urip untuk memenuhi kebutuhan hidup dan berobat.
Sumber: pppa.or.id
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya