`Trio Hijaber` Pilot Boeing 787 Panen Pujian

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 26 Februari 2016 15:01
`Trio Hijaber` Pilot Boeing 787 Panen Pujian
Tugas pertama adalah menerbangkan Boeing 787 dengan nomor penerbangan BI081.

Dream - Maskapai Brunei Darussalam, Royal Brunei, memperkenalkan trio perempuan berhijab yang menjadi kru pesawat mereka. Bukan sekadar awak biasa, ketiganya merupakan awak kokpit.

Ketiga awak perempuan itu adalah Kapten Sharifah Czarena, dan dua Petugas Senior Pertama atau kopilot, Sariana dan Dk Nadiah. Mereka merupakan trio perempuan pertama yang bertugas di dek burung besi Brunei.

Tugas pertama adalah menerbangkan Boeing 787 dengan nomor penerbangan BI081. Mereka menerbangkan pesawat itu dari Brunei menuju Jeddah, Arab Saudi. Sebelum penerbangan itu, ketiganya berfoto di kokpit pesawat.

Banyak kalangan memberi sanjungan atas kiprah ketiga perempuan berhijab ini. Terutama dari para penumpang yang baru saja menggunakan jasa Royal Brunei dengan dipiloti trio perempuan ini.

" Kru penerbangan pertama yang semuanya perempuan. Semoga Allah memberkati penerbangan kalian. Saya bangga pada generasi perempuan," tulis Zaldy Robles Morata di Facebook.

Kiprah mereka harus diapresiasi. Meskipun mereka bukanlah pilot perempuan pertama yang mengendalikan pesawat.

Di Abu Dhabi ada Mariam Al Mansouri yang menjadi juru terbang jet tempur F16, sementara di Pakistan ada Ayesha Farooq yang menjadi juru terbang jet tempur. (Ism) 

1 dari 4 halaman

Muslimah Berhijab Pertama Pilot Jet Tempur F-16

Muslimah Berhijab Pertama Pilot Jet Tempur F-16 © Dream

Dream - Mariam Hassan Salem al-Mansouri menjadi perempuan pertama yang menjadi pilot pesawat tempur di Angkatan Udara Uni Emirat Arab. Muslimah berhijab ini bahkan mungkin saja menjadi perempuan pertama yang menjadi pilot di negara-negara Teluk.

Usia Kapten Mariam masih relatif muda, baru 35 tahun. Namun dia sudah lihai mengoperasikan jet tempur F-16 Falcon, pesawat tempur bermesin tunggal. Hebatnya lagi, dia adalah komandan skuadron.

Mariam mulai bergabung dengan Angkatan Udara UEA tujuh tahun silam. Sejak kecil dia memang sudah berangan-angan menerbangkan jet tempur. Keluarganya memberi dukungan penuh, dan akhirnya cita-cita itu terwujud.

Selama karier, Mariam telah ambil bagian dalam sejumlah operasi udara, termasuk dengan pilot-pilot dari negara sahabat. Manuver-manuver Mariam sudah tak diragukan lagi.

Karena prestasinya, Wakil Presiden UEA sekaligus peemimpin Dubai, Sheikh Mohamed bin Rashed al-Maktoum, menganugerahi Mariam dengan tanda kehormatan Mohammad Bin Rashid Excellence Award. Sebuah penghargaan untuk orang-orang berprestasi di UEA.

Mariam merasa bangga mendapat penghargaan ini. Namun, dia tidak pernah merasa unggul dari siapa pun, termasuk dengan pilot-pilot pria di Angkatan Udara UEA. Mariam tak pernah merasa bersaing dengan orang lain.

" Ini tidak seperti bersaing dengan orang lain, bersaing dengan diri sendiri merupakan proses yang tidak pernah selesai dan ini merupakan sumber motivasi untuk terus belajar," tutur Mariam dikutip Dream dari Gulf News, Rabu 11 Juni 2014.

Selain pilot, Mariam juga merupakan lulusan sastra Ingris di Universitas UEA. Untuk lebih mengembangkan kemampuannya, dia juga bergabung dengan Khalifa Aviation College. (Ism)

2 dari 4 halaman

Saarah Hameed Ahmed, Pilot Muslimah Pertama India

Saarah Hameed Ahmed, Pilot Muslimah Pertama India © Dream

Dream - Kaum wanita masih dianggap sebagai kelas kedua dalam kebiasaan di India. Hal ini menyebabkan para wanita India jarang mendapat masa depan yang cerah.

Tetapi, hal itu dibantah oleh Saarah Hameed Ahmed, 25 tahun. Wanita Muslimah kelahiran Bengaluru di Negara Bagian Karnataka, India ini mendobrak tradisi dengan menjadi pilot. Sebuah profesi yang dianggap lazim dilakukan kelompok pria India.

" Orang-orang awalnya berpikir saya Kristen dan kemudian terkejut saat saya memberitahu mereka nama lengkap saya. Saya suka raut wajah mereka ketika tahu saya seorang Muslim," ujar Saarah, dikutip dari Hindustan Times, Senin, 9 Maret 2015.

Mayoritas warga di India menganggap wanita lebih layak menjadi ibu rumah tangga. Jikapun bekerja, maka mereka tidak boleh jauh dari rumah.

Hal itu dibenarkan oleh ayah Saarah, Hameed Hussain Ahmed. " Dalam masyarakat kami, seorang gadis biasanya tidak mengambil profesi yang mengharuskan mereka tinggal jauh dari rumah tanpa pendamping," katanya.

Sebagai keturunan India, kebiasaan itu juga mempengaruhi Hameed. Tetapi semua berubah tatkala ia mendapat penjelasan dari temannya, Atif Fareed.

" Fareed mengatakan seharusnya saya menanggap diri saya beruntung karena kebanyakan gadis Muslim tidak memiliki mimpi menjadi pilot. Jika ia tidak yakin, mungkin saya sudah mengambil keputusan yang salah dan membunuh mimpi Saarah," terangnya.

Kisah ini bermula pada tahun 2007, ketika Saarah berusia 18 tahun. Ia terdaftar menjadi salah satu murid sekolah penerbangan di Amerika Serikat.

Hameed mengaku saat itu seperti mendapat pertanda bahwa ia tengah mendapat keberuntungan dari Tuhan. Ini lantaran putrinya dengan mudah mendapatkan Visa Amerika Serikat, padahal kebanyakan pelajar Muslim tertolak saat mengajukan Visa tersebut.

" Hari-hari itu, kebanyakan Visa Amerika Serikat yang diajukan oleh para pelajar Muslim ditolak. Ketika ia (Saarah) bisa mendapat Visa tanpa kesulitan, saya melihatnya sebagai pertanda dari Tuhan," ungkapnya.

Bahkan sang ibu, Naseema Ahmed, mengaku cukup bangga atas prestasi yang diraih putrinya. Ia tidak menyesal telah mengirim putrinya belajar ke Amerika Serikat.

Menurut Naseema, ia merasa begitu bangga saat melihat putrinya dikelilingi gadis-gadis Muslim di sebuah pernikahan. Kebanyakan mereka meminta Saarah memberikan tips menjadi seorang pilot. (Ism)

3 dari 4 halaman

Perkenalkan Myriam Adnani, Pilot Muslimah Pertama di Eropa

Perkenalkan Myriam Adnani, Pilot Muslimah Pertama di Eropa © Dream

Dream - Gadis Maroko Myriam Adnani siap untuk menjadi pilot wanita muslim pertama di Eropa.

Gadis 23 tahun kelahiran Belanda itu baru saja menyelesaikan pendidikan untuk menjadi pilot pesawat komersial.

Melalui halaman Facebooknya, dikutip Dream dari Moroccoworldnews.com, Kamis 21 Mei 2015, Myriam mengumumkan berita kelulusan tersebut bersama teman-temannya.

" Setelah hampir dua tahun, akhirnya aku berhasil menyelesaikan pendidikan untuk menjadi pilot komersial. Dari mempelajari teori di Hoofddorp, terbang di Amerika Serikat dan Belgia hingga berlatih mengemudikan Boeing 737. Aku merasa sangat bahagia dan bersyukur," tulis Adnani.

Myriam lahir pada bulan Juli 1991 di Belanda. Setelah lulus SMA, ia mendaftar di akademi penerbangan Amsterdam Oxford Aviation Academy.

Dia juga mengambil teori penerbangan di Hoofddorp, Belanda, serta kursus pelatihan di Amerika Serikat dan Belgia.

Myriam Adnani menjadi wanita Maroko dan wanita Arab kedua yang masuk dalam sejarah penerbangan. Lebih dari enam puluh tahun sebelumnya, seorang wanita Maroko lainnya juga menjadi pilot pada 1950-an.

Pada tahun 1952, ketika Maroko masih di bawah protektorat Perancis, Touria Chaoui adalah wanita Maroko dan wanita Arab pertama yang menjadi pilot.

4 dari 4 halaman

Rahmani, Pilot Cantik `Top Gun Afghanistan`

Rahmani, Pilot Cantik `Top Gun Afghanistan` © Dream

Dream - Seorang perempuan menjadi pilot mungkin sudah menjadi hal yang biasa di beberapa negara di dunia. Namun akan sangat luar biasa jika itu terjadi di negara seperti Afghanistan.

Saat masih dikuasai Taliban, Afghanistan adalah negara yang sangat membatasi gerak kaum perempuan. Mereka dilarang bersekolah, apalagi melakukan pekerjaan laki-laki, seperti menjadi pilot militer.

Namun sejak Taliban tumbang pada 2001, seorang perempuan bernama Niloofar Rahmani membuktikan ia mampu menjadi pilot militer Angkatan Udara Afghanistan.

Perempuan 23 tahun ini bermimpi untuk menerbangkan sebuah pesawat saat masih kecil.

" Sejak masih kecil, saat melihat burung di langit, saya ingin menerbangkan sebuah pesawat," katanya dikutip Dream dari Emirates 24/7, Minggu 3 Mei 2015.

" Banyak gadis Afghanistan yang punya impian tapi tersandung banyak masalah dan ancaman yang menghalangi."

Rahmani, yang lahir dan besar di Kabul ini, mendaftar di AU Afghanistan pada 2010 lalu dan merahasiakannya dari keluarga.

Dua tahun setelah menempuh pendidikan, Rahmani menjadi penerbang perempuan pertama dalam sejarah Afghanistan. Dia juga menjadi pilot militer perempuan pertama sejak rezim Taliban terguling.

Lewat perjuangan yang keras, ia mendapat penghargaan International Women of Courage Award dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat pada pekan lalu.

Dia juga mendapat julukan 'Top Gun dari Afghanistan' di media sosial. Julukan tersebut diambil dari film Top Gun yang dibintangi Tom Cruise pada 1986 yang bercerita tentang kehebatan pilot Angkatan Laut AS.

Perjalanan Rahmani menjadi pilot dilalui dengan cukup keras. Dia pernah menerima panggilan telepon dan surat ancaman dari Taliban agar berhenti menjadi pilot.

Ancaman semakin memburuk hingga pada 2013 dia terpaksa meninggalkan negaranya selama dua bulan.

" Mereka mengancam akan menyakiti saya dan keluarga. Namun satu-satunya pilihan saya adalah menjadi kuat dan mengabaikan mereka," katanya.

Rahmani adalah satu dari tiga perempuan Afghanistan yang telah dilatih untuk menjadi pilot sejak 2001. Sayangnya salah satu dari mereka telah keluar dari AU Afghanistan.

Ketika ditanya berapa lama AU Afghanistan akan memiliki jumlah pilot laki-laki dan perempuan yang seimbang.

" Tidak dalam waktu dekat. Mungkin 20 atau 30 tahun lagi," katanya. (Ism) 

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More