Ayah Bunda, Jangan Lontarkan 6 Kalimat 'Haram' Pada Anak Remaja

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 6 Desember 2022 17:36
Ayah Bunda, Jangan Lontarkan 6 Kalimat 'Haram' Pada Anak Remaja
Psikolog ingatkan hal ini!

Dream - Mau belajar, mendengarkan, berusaha mengerti dan meninggikan empati, bukanlah hal mudah. Bagi orangtua yang memiliki anak dengan beragam usia, seluruh hal tersebut harus dilakukan seumur hidup, bahkan saat anak sudah dewasa.

Salah satu fase yang sangat menantang bagi orangtua adalah ketika anak-anaknya beranjak remaja. Pikirannya sudah mulai kritis, suka mendebat, gejolak hormon, semuanya membuat sikap anak jadi sangat berbeda dari sebelumnya.

Satu hal yang sangat penting ketika menghadapi remaja di fase ini adalah jangan pernah mengecilkan perasaan anak. Menganggap masalah yang dihadapinya merupakan hal ringan, tidak ada apa-apanya dibandingkan persoalan orangtua.

" Sadar atau nggak, kita para orang tua seringkali mengucapkan kalimat yang ternyata bisa mengecilkan perasaan anak. Kita, hanya karena adalah orang tua mereka dan merasa jauh lebih berpengalaman seringkali mencoba memanipulasi atau “ membatalkan” emosi yang dirasakan anak," ungkap Irma Gustiana, seorang psikolog keluarga dalam akun Instagramnya @ayankirma.

1 dari 5 halaman

Banyak orangtua atau orang dewasa, menurut Irma sering mengatakan " hey, masalahmu itu kecil, nggak usah terlalu dipikirkan" . Hal tersebut dampaknya sangat besar, malah bisa membuat anak remaja merasa semakin stres dan merasa bersalah.

" Padahal yang namanya emosi itu valid. Sementara yang dilakukan dengan menganggap sepele emosi anak anak adalah emotional invalidation, berupa tindakan mengabaikan atau menolak pikiran, perasaan, atau perilaku seseorang.

Jadi Anak Remaja Itu Berat, Pastikan Ayah Bunda Penuhi Kebutuhan Psikologisnya© MEN

" Hal ini menunjukkan kalau 'perasaanmu nggak penting, perasaanmu salah," ungkap Irma.

Irma menjelaskan, penting bagi orangtua untuk mengerti kalau di usia remaja awal sampai remaja akhir pergolakan batin anak sangat naik turun. Pengaruh hormonal, tekanan akademik, kehidupan dan pergaulan sosial, media sosial dan sebagainya.

" Satu satunya harapan mereka adalah orang tuanya, untuk bisa menjadi sound board tempat mencurahkan perasaan. Harapannya agar mendapatkan feedback yang positif bukan mengecilkan emosinya," ungkap Irma.

 

2 dari 5 halaman

Hindari Melontarkan 6 Kalimat Ini Pada Remaja

Untuk menjaga kualitas hubungan dengan anak remaja, selalu validasi emosi anak. Berusahalah mengerti ketika anak remaja berada dalam situasi tertentu. Menurut Irma, hindari melontarkan enam kalimat ini.

1. " Kenapa jadi marah? Nggak ada alasan buatmu marah, orang lain saja nggak merasa seperti itu"

2. " Jangan didramatisir, nggak usah drama atau dibuat-buat"

3. " Berhenti nangisnya, nggak usah nangis karena nggak ada alasan untuk nangis"

4. " Kenapa kamu nggak bisa lebih baik daripada saudaramu"

5. " Orang lain bisa kenapa kamu nggak? Apa susahnyanya sih?"

6. " Semua sudah kami berikan sekarang begini balasanmu ke kami sebagai orangtua" .

3 dari 5 halaman

4 Momen Paling Stres Saat Hadapi Anak Remaja

Dream - Seiiring bertambahnya usia anak, pola asuh orangtua akan berbeda. Tetnunya kita tak bisa bersikap seperti ketika anak balita, saat mereka sudah memasuki usia sekolah dasar.

Begitu pun ketika anak beranjak remaja, sikap dan pemikirannya akan jauh berbeda. Seringkali orangtua lupa hal tersebut dan tak menyesuaikan diri dengan perubahan anak.

Sebuah penelitian terhadap 1.000 orangtua dari remaja mengungkap, sebanyak 75% orangtua berpendapat bahwa usia 13-19 adalah tahun-tahun paling menantang dalam membesarkan anak-anak, dengan satu dari tiga (32%) mengakui bahwa mereka “ tidak siap" .

Ternyata mengasuh remaja tidak semudah yang dipikirkan orangtua. Ada momen yang paling menguras emosi dan dianggap memicu stres tinggi pada orangtua. Apa saja?

1. Menghadapi Perubahan Suasana Hati Remaja
Perubahan suasana hati atau mood anak remaja adalah hal yang paling menantang. Remaja bisa diam saja, menarik diri, selalu membantah dari yang awalnya bersikap baik namun moodnya berubah drastis. Hal ini jadi kondisi yang sering terjadi.

Kabar baiknya adalah seiring bertambahnya usia remaja, penelitian menunjukkan bahwa mereka mendapatkan kemampuan yang lebih baik untuk mengendalikan emosi. Konflik dengan orangtua mereda dan mereka umumnya belajar cara yang lebih adaptif untuk menghadapi suasana hati mereka.

4 dari 5 halaman

2. Membantu Remaja Membuat Pilihan Hidup yang Penting

Membantu anak remaja mereka membuat pilihan hidup yang penting membuat mereka stres. Apa yang membuat masalah ini semakin menantang adalah bahwa selama masa remaja, anak-anak harus membuat keputusan yang tak terhitung banyaknya tentang sekolah, teman-teman mereka, dan masa depannya.

Faktanya di usia remaja, bagian otak yang mengontrol pengambilan keputusan tidak sepenuhnya berkembang sampai awal masa dewasa. Dengan demikian, otak remaja yang sedang berkembang menempatkan mereka pada risiko yang lebih besar untuk membuat keputusan yang buruk dan kurang mampu mempertimbangkan konsekuensi dari pilihan mereka.

 

5 dari 5 halaman

3. Membiarkan Remaja Membuat Kesalahan

Menahan komentar, mencegah hal buruk, dan membiarkan anak remaja mereka melakukan kesalahan sendiri juga sangat memicu stres orangtua. Para ahli setuju itu adalah bagian penting dari perkembangan remaja. Membiarkan anak-anak belajar dari kesalahan mereka membantu membangun ketahanan dan sangat penting bagi perkembangan kemampuannya menangani masalah.

4. Perubahan Hormon
Adanya perubahan hormon merupakan bagian penting dari perkembangan fisik dan seksual remaja. Lonjakan hormon menguasai tubuh mereka dan memengaruhi segalanya mulai dari emosi dan suasana hati hingga perasaan seksual dan perilakunya. Beberapa orang tua mengakui bahwa ketika anak mereka memasuki masa remaja, rasanya seperti mengasuh anak yang sama sekali berbeda.

Dalam situasi ini penting untuk memperhatikan asupan gizinya setiap hari. Beri makanan kaya protein sehat dan pastikan anak memiliki aktivitas fisik yang baik. Sangat dianjurkan mereka memiliki jadwal olahraga rutin, seperti futsal, basker, ikut dance class dan semacamnya. Hal ini sangat membantu membuat mood remaja jadi lebih baik.

Sumber: RaisingTeenToday

Beri Komentar