Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Standar akademik saat ini tentunya sudah jauh berbeda dari lima atau 10 tahun lalu. Anak-anak usia sekolah dasar (SD) kini sudah sangat andal dengan teknologi, menggunakan tablet dan komputer dan mengusai bahasa asing.
Hal ini membuat persaingan mereka di dunia kerja nantinya juga akan semakin sengit. Kondisi tersebut membuat para orangtua berlomba untuk memberi pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Kemampuan akademik anak digenjot secara maksimal.
Kecerdasan intelektual (IQ) dianggap jadi modal yang sangat penting bagi masa depan anak, juga dalam menentukan gengsi. Benarkah demikian? Ternyata menurut Daniel Goleman, seorang psikolog asal Kanada, mengungkap kalau IQ (Intelligence Quotient) hanya membentuk 20 persen dari faktor-faktor yang menentukan kesuksesan hidup,
" Kekuatan lain seperti kecerdasan emosi (EQ), kekayaan, temperamen, tingkat pendidikan keluarga, dan keseimbangan berperan lebih besar. Itu berarti keterampilan kognitif memang akan membantu secara akademis, tapi harus dilengkapi dengan keterampilan sosial-emosional seperti motivasi, ketekunan, kontrol impuls, dan kemampuan untuk menundan kepuasan," ujar Goleman, dikutip dari Todays Parent.
© Dream
Goleman, jadi salah satu orang pertama yang meningkatkan kesadaran tentang pentingnya EQ, Sejak bukunya Emotional Intelligence, dirilis pada 1995, studi demi studi telah membuktikan pentingnya EQ. Bahwa kecerdasan emosional memprediksi kesuksesan masa depan dalam hubungan, kesehatan dan kualitas hidup.
" Telah terbukti bahwa anak-anak dengan EQ tinggi mendapatkan nilai yang lebih baik, lebih lama bersekolah, dan membuat pilihan yang lebih sehat secara keseluruhan," ungkap Goleman.
Memiliki kecerdasan emosional yang tinggi adalah prediktor yang lebih baik untuk kesuksesan karier daripada memiliki IQ tinggi. Oleh para pencari kerja EQ lebih dihargai. Industri lebih mencari kandidat yang dapat menyelesaikan pekerjaan dan bergaul dengan orang-orang di tempat kerja agar semakin kolaboratif.
© Dream
Dream - Pandemi covid-19 membuat semua orang termasuk anak-anak mengalami kondisi emosi yang naik turun. Tak semua anak bisa mengungkapkan perasaan dan emosinya dengan baik.
Padahal menyalurkan emosi sangat penting bagi kesehatan mental anak, terutama dalam situasi seperti sekarang ketika mereka terisolasi secara fisik. Tak hanya itu, kecemasan orangtua juga 'menular' ke anak dalam banyak hal.
" Orangtua perlu mencontohkan manajemen stres dan menurunkan kecemasan yang efektif pada anak-anak. Bagian yang sulit adalah menemukan bahasa untuk membantu orangtua dan anak berkomunikasi tentang emosi yang mereka rasakan. Di situlah bagan perasaan dapat membantu," kata Ellen O'Donnel, Phd, seorang psikolog anak di MassGeneral for Children di Boston, dikutip dari Fatherly.

Bagan perasaan atau gambar emosi adalah alat yang membantu anak mengembangkan kosakata emosionalnya. Ini membantu anak-anak merefleksikan perasaan mereka dan mendeskripsikannya dengan lebih tepat.
" Ini bisa berupa daftar kata-kata perasaan atau bagan gambar kata-kata dan ekspresi, apa pun yang menurut anak lebih mudah digunakan," kata Ellen.
© Dream
Ini adalah ide yang cukup intuitif, saat anak belum bisa menjelaskan apa yang dirasakannya secara gamblang. Perasaan sangat beragam, bisa sedih, marah, takut, bahagia ata kecewa.
Gambar emosi bisa ditaruh di kamar anak, atau ruang keluarga. Minta anak untuk menunjukkan gambar yang dirasakannya. Ini juga dapat membantu mereka memahami bahwa bids engalami lebih dari satu emosi pada satu waktu, bahkan perasaan yang tampaknya saling bertentangan.
" Memahami emosi adalah hal yang kompleks dan anak kecil kurang memiliki kemampuan penalaran kognitif untuk memberi nama emosi mereka dengan benar. Memiliki alat seperti bagan perasaan membantu orang tua dan anak berkomunikasi dengan lebih baik," ungkap Ellen.
© Dream
Banyak anak yang awalnya merasa senang mendapat cuti dari sekolah kini merasa sedih karena merindukan teman-temannya, bosan tanpa aktivitas seperti biasanya, dan mungkin sedikit lebih mudah tersinggung dan marah. “ Jika orangtua dapat membantu mereka secara akurat melabeli perasaan ini, dapat membantu mereka memunculkan keterampilan mengatasi perasaannya," kata Ellen.
Untuk gambar emosi, orangtua bisa mencarinya di internet. Membuat sendiri di rumah juga bisa jadi aktivitas seru bersama si kecil.