Lihat Suasana Tingkeban Penuh Filosofi di Kraton Yogyakarta

Reporter : Mutia Nugraheni
Kamis, 8 Juli 2021 10:05
Lihat Suasana Tingkeban Penuh Filosofi di Kraton Yogyakarta
Kraton baru saja mengunggah dokumentasi Tingkeban salah satu putri.

Dream - Upacara Tingkeban biasa dilakukan masyarakat Jawa saat ibu hamil sudah memasuki usia kandungan tujuh bulan. Merupakan bagian dari upacara daur hidup manusia sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah SWT sebagai Sang Maha Pencipta.

Gelaran upacara ini selalu menarik disimak, terutama jika digelar di lingkungan Kraton Yogyakarta. Penuh dengan filosofi, pengharapan dan doa. Mungkin Sahabat Dream penasaran bagaimana upacara ini digelar di lingkungan Kraton.

Kraton Yogyakarta lewat YouTube channelnya, baru saja mengunggah dokumentasi saat upacara Tingkeban GKR Hayu saat mengandung anak pertamanya. Mungkin Sahabat Dream penasaran bagaimana suasananya.

Sesaji Tingkeban

Disiapkan berbagai sesaji dalam wadah anyam dengan makanan yang beragam khas Kraton. Dekorasi pun dibuat dengan penuj bunga segar. Upacara tingkeban ini dihadiri kalangan keluarga, kerabat dekat dan abdi dalem.

Tingkeban Kraton Yogyakarta

" Tujuan mitoni itu mengharapkan agar bayi mendapat kebaikan, keselamatan dalam kelahirannya. untuk mendapatkan jangkep, genep dan slamet. Jangkep itu untuk pikiran, genep untuk badan seperti tangan, kaki, telinga dan hidung. Selamet untuk orangtua atau ibu dan bayi yang dilahirkan selamat," ujar Nyi RW Retna Adiningtyas, Abdi Dalem Kraton Yogyakarta.

 

1 dari 4 halaman

Rangkaian Doa

Rangkaian Doa © Dream

Para ulama di kraton juga membacakan lantunan doa bagi keselamatan ibu dan janin. Seluruh ritual juga dilakukan dengan maksud memanjatkan syukur pada Allah SWT dan memohon kesehatan ibu dan bayi hingga persalinan tiba.

Tingkeban Kraton Yogyakarta

" Rangkaian mitoni itu terkandung banyak doa. Terutama untuk keselamatan ibu dan bayi terutamanya pada proses kelahiran. Rangkaian upacara ini penuh dengan makna seperti itu. Kami memang ingin melaksanakan tradisi ini sebagai wujud pelestarian tradisi," kata KPH Notonegoro, suami GKR Hayu, Mantu Dalem Kraton Yogyakarta.

Lihat suasana Tingkebat di Kraton Yogyakarta dalam video ini.

 

 

2 dari 4 halaman

Doa yang Tak Boleh Terlupa Saat Jalani Ritual 'Nujuh Bulan'

Doa yang Tak Boleh Terlupa Saat Jalani Ritual 'Nujuh Bulan' © Dream

Dream - Seluruh kehidupan yang terjadi di muka bumi tak mungkin terjadi tanpa kehendak Allah SWT. Termasuk hadirnya janin dalam rahim seorang ibu.

Ucapan syukur rasanya tak berhenti diucapkan ketika sepasang suami istri dikaruniai keturunan yang merupakan buah cinta mereka.

Salah satu ungkapan syukur yang dilakukan masyarakat Jawa atas kehamilan adalah dengan menggelar doa bersama dan upacara tingkeban atau nujuh bulan. Rupanya tradisi ini berawal dari zaman Raja Jayabaya. Anda tahu ceritanya?

Berdasarkan literatur kuno tradisi ini dimulai dari sepasang suami istri bernama Niken Satingkeb dan Sadiya. Niken sudah hamil sebanyak 9 kali namun tak satu pun anaknya yang bertahan hidup. Suami istri lalu menghadap Raja Kediri yang terkenal sakti, yaitu Prabu Widayaka (Jayabaya).

 

3 dari 4 halaman

Bacaan Surah Yusuf dan Maryam

Bacaan Surah Yusuf dan Maryam © Dream

Mereka disarankan agar menjalankan tiga hal yaitu, setiap Rabu dan Sabtu pukul 17.00, diminta mandi menggunakan tempurung kelapa (bathok). Setelah mandi, berganti pakaian yang bersih dengan menggembol kelapa gading yang dihiasi Kamajaya dan Kamaratih/Wisnu dan Dewi Sri yang diikat dengan daun tebu tulak lalu digelindingkan ke bawah.

Setelah kelapa gading tadi dibrojolkan, lalu diputuskan menggunakan sebilah keris oleh suaminya. Setelah itu Niken Satingkeb dapat hamil dan anaknya hidup. Sejak itu tradisi ini banyak dilakukan masyarakat Jawa sebagai langkah permohonan dalam bentuk selamatan.

Ritual Tingkeban saat ini digelar bukan hanya dengan tata cara budaya tapi juga dilengkapi dengan pembacaan doa bersama atau pengajian untuk mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa. Ada surah khusus yang dibacakan dalam acara Tingkeban yaitu Surah Yusuf dan Maryam.

 

4 dari 4 halaman

Doa yang Dilantunkan

Doa yang Dilantunkan © Dream

Selain itu ada doa tertentu yang bisa dibacakan saat gelaran Tingkeban. Salah satunya doa berikut yang dikutip dari buku Menembus Gerbang Langit, Lajnah Ta’lif Pustaka Gerbang Lama, Pondok Pesantren Lirboyo.

Doa Tingkeban


Artinya: Ya Allah Sang Pemberi Berkah, berkahi kami dalam umur, rizqi, agama, dunia, dan anak. Ya Allah Sang Penjaga, jaga anakku selama dia berada di perut ibunya, beri kesehatan pada dia dan ibunya. Engkau Sang Pemberi Kesehatan. Tiada kesehatan kecuali dari-Mu, tiada yang bisa mentakdirkan sakit dan bahaya. Ya Allah, bentuklah janin yang ada di perut ibunya dengan rupa yang baik, indah, dan sempurna. Tetapkan dalam hatinya keimanan pada-Mu dan rasul-Mu di dunia dan akhirat. Ya Allah, panjangkan umurnya, sehatkan jasadnya, baguskan akhlaknya, fasihkan lisannya, merdukan suaranya untuk membaca Al-Qur’an yang mulia dan hadits, dengan berkah derajat sang penghulu para utusan.”

Sumber: NU Online

 

Beri Komentar