Tumpeng Biru Kraton Yogyakarta/ Instagram @kratonjogja
Dream - Hidangan tumpeng selalu hadir dalam banyak perayaan dan syukuran. Berupa nasi berbentuk gunung yang tinggi dengan beragam lauk seperti urap sayur, ayam bakar, tempe, kentang , telur dan masih banyak lagi.
Biasanya, nasi tumpeng berwarna putih atau kuning. Tahukah Sahabat Dream, kalau ada juga tumpeng biru? Tumpeng biru atau disebut juga tumpeng kapuranto, dikutip dari akun Instagram resmi Kraton Yogyakarta @kratonjogja, terbuat dari nasi putih yang diberi pewarna makanan berwarna biru.
Tumpeng ini rupanya biasa dihadirkan sebagai simbol atau media permintaan maaf dari pembuat kepada orang yang diberi. Selain itu, ada juga tumpeng monco warno yang berarti aneka warna.
Pawon keraton biasa menyiapkan tumpeng yang berukuran relatif kecil dalam tujuh warna, seperti merah, biru, hijau, cokelat, dan hitam. Tumpeng ini disajikan di atas ancak atau wadah persegi dari tangkai daun pisang dan potongan bambu yang merupakan simbol agar berbagai keinginan terwujud dengan baik.

Kata ‘tumpeng’ konon merupakan akronim dari ‘tumapaking penguripan-tumindak lempeng-tumuju Pangeran’ yang bermakna bahwa manusia itu harus menuju jalan Tuhan Yang Maha Esa. Penyajian tumpeng menjadi salah satu simbol permohonan atas perlindungan, keselamatan, dan ridha dari Tuhan untuk setiap hajat dalam hidup.
Di Keraton Yogyakarta, terdapat tidak kurang dari 17 jenis tumpeng yang umumnya disajikan dalam momentum tertentu. Nama, bentuk, dan jenisnya pun bermacam-macam tergantung cara pembuatan, lauk pauk pendamping, cara penyajian, serta berbagai bahan pelengkap lainnya.
Dream - Tumpeng merupakan sajian wajib dalam berbagai acara syukuran, baik itu menyambut kelahiran seseorang, ulang tahun atau acara seremonial lainnya. Olahan baik nasi putih atau kuning ini membentuk kerucut, menyerupai gunung.
Budaya di Indonesia, khususnya Jawa dan Bali, sangat menyakralkan kedudukan tumpeng sebagai makanan adat. Hal itu karena unsur-unsur Hindu sangat kental dalam setiap upacara yang menyajikan tumpeng.
Tradisi memotong tumpeng dalam kegiatan perayaan, pesta, atau syukuran yang selama ini terjadi dengan memotong bagian puncak tumpeng boleh dibilang merupakan hal yang keliru. Nasi tumpeng sejatinya menyimpan filosofi atau falsafah yang mendalam.
Falsafah tumpeng adalah lambang gunungan yang bersifat awal dan akhir. Ini mencerminkan manifestasi simbol sifat alam dan manusia yang berawal dari Tuhan dan kembali lagi kepada Tuhan.
Nasi tumpeng berbentuk kerucut menjulang ke atas. Bentuk ini menggambarkan tangan manusia merapat dan menyatu menyembah Tuhan. Tumpeng menyimpan harapan agar kesejahteraan ataupun kesuksesan semakin meningkat.

“ Tumpeng sebagai hidangan yang menyimbolkan komunikasi spiritual masyarakat Jawa kepada Sang Pencipta jika dipotong seakan memotong hubungan
kita dengan sang pencipta kita” ujar Putri Habibie, Youth President Indonesia Gastronomy Association (IGA) beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari rilis yang diterima Dream.
Putri memaparkan bagian puncak tumpeng ditutup daun pisang melambangkan tempat bersemayam Sang Pencipta. Sebelum menyantap tumpeng terdapat tata
caranya.

Tumpeng tidak dipotong melintang dan daun pisang di pucuk tidak dilepas. Tumpeng hanya boleh dikeruk sisi samping dari bawah. Orang pertama yang mengeruk tumpeng akan mengucapkan doa dalam hati.
Selain itu, keruk tumpeng melambangkan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus ajaran hidup kebersamaan dan kerukunan.

Bahkan zaman dahulu para sesepuh yang memimpin doa akan menjelaskan makna tumpeng sebelum dikeruk dan disantap. Kerukan nasi pertama biasanya diberikan kepada orang yang dianggap penting, dicintai atau dituakan.
Ria Musiawan, President Indonesian Gatronomy Association menambahkan bagi para gastronom memaknai tradisi menyantap makanan seperti tumpeng dan tradisi makanan lainnya di setiap daerah memiliki fungsi sosial-budaya yang berkembang dalam suatu masyarakat sesuai dengan keadaan lingkungan, agama, adat, kebiasaan, dan tingkat pendidikan.

“ Sebagai produk budaya, makanan tidak hanya dilihat secara fisik saat dihidangkan, tetapi dipelajari secara menyeluruh di setiap proses pembuatannya, mulai dari penyediaan dan pemilihan bahan baku, memasak, sampai menghidangkannya di meja makan sebagai rangkaian kegiatan budaya,” ungkapnya.
Pembahasan seputar tumpeng ini jadi bagian dalam acara penghargaan Indonesia Gastronomy Association (IGA) yang diberikan kepada Retno Marsudi, Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito, dan Sisca Soewitomo yang gencar mempromosikan makanan Indonesia beberapa waktu lalu di Jakarta.