Mirip Cacar, Dokter Anak Ingatkan Keluhan Khas Flu Singapur

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 28 Juni 2022 08:12
Mirip Cacar, Dokter Anak Ingatkan Keluhan Khas Flu Singapur
Seringkali orangtua mengira anak terkena penyakit cacar padahal hand, foot, mouth disease (HFMD).

Dream - Liburan sekolah seperti sekarang biasanya orangtua melakukan perjalanan khusus memboyong anak-anaknya untuk berlibur bersama. Saat liburan seperti sekarang pastikan kesehatan anak terjaga dengan baik.

Rupanya dalam situasi sekarang kasus hand, foot, mouth disease (HFMD) atau penyakit tangan kaki mulut cukup banyak terjadi. Menjaga kebersihan saat liburan sangat penting agar anak tak tertular penyakit yang juga dikenal sebagai Flu Singapur ini.

depresi-220816t.html" id="link-box-terkait-1" data-position="1">Mona dan Indra Brasco Ungkap Awal Ketahui Putrinya Mengalami Depresi

Dikutip dari IDAI.or.id, HFMD disebabkan oleh virus dari genus Enterovirus. Spesies enterovirus yang paling sering menyebabkan HFMD adalah Coxsackievirus dan Human Enterovirus 71 (HEV 71).

HFMD umumnya diawali dengan demam, nyeri tenggorokan/menelan, nafsu makan yang menurun, dan nyeri/tidak enak badan. Setelah demam satu sampai dua hari, timbul bintik-bintik merah di rongga mulut.

1 dari 5 halaman

Benjolan Berisi Air

Umumnya berawal di bagian belakang langit-langit mulut yang kemudian pecah menjadi sariawan. Setelah 1-2 hari timbul juga ruam-ruam kulit dan bintik-bintik merah di telapak tangan dan kaki. Menurut dr. Andreas, seorang spesialis anak dalam Instagramnya @dr.andreas.spa, ada gejala lainnya yang mirip cacar yaitu muncul benjolan berisi air.

" Akhir-akhir ini banyak sekali yang terkena infeksi Flu Singapore. Nah, salah satu gejalanya adalah muncul ruam kemerahan yang di atas kemerahan tadi terdapat benjolan berisi air atau kita sering sebut VESIKEL,"  tulisnya.

HMFD disease© dr. Andreas

Ia juga memperlihatkan kondisi benjolan yang berisi air. Seringkali karena muncul benjolan tersebut, penyakit Flu Singapur dikira cacar yang juga sangat menular.

Bila si kecil mengalami gejala tersebut disertai demam tinggi lebiih dari 3 hari, segera periksakan ke dokter. Terutama jika anak kehilangan nafsu makan dan menunjukkan gejala dehidrasi.

2 dari 5 halaman

Kebiasaan Orangtua yang Harus Dihentikan Saat Anak Sakit

Dream - Mengasuh anak dan menjadi orangtua, bukan merupakan'ilmu' yang bisa didapatkan hanya berdasarkan buku saja. Informasi lainnya didapatkan dari teman, internet, orangtua, bahkan dokter anak.

Terutama soal kesehatan anak, yang di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang jadi perhatian utama para orangtua. Seringkali karena panik, orangtua tak berpikir logis sehingga mengambil keputusan yang kurang tepat.

Untuk itu Bill Bush, M.D., yang merupakan kepala dokter anak di Rumah Sakit Helen DeVos Children's di Grand Rapids, Michigan, memberi fakta seputar hal-hal yang harus berhenti untuk dilakukan orangtua, agar tak panik ketika menghadapi anak yang sakit.

1. Berhenti mencari saran medis di internet
Ketika anak memiliki gejala-gejala penyakit tertentu, kebanyakan orangtua akan langsung mencari di Internet tentang diagnosa penyakitnya, tetapi hal tersebut tidak akurat dan tidak cukup meyakinkan. Daripada berasumsi dan semakin khawatir, bawalah anak ke dokter.

" Diagnosa harus dilakukan melalui evaluasi medis dan tidak bisa sembarangan," kata Bush

3 dari 5 halaman

2. Pergi ke UGD di segala situasi

Saat anak sakit, rasanya memang ingin langsung bertemu dokter agar bisa ditangani. Padahal keluhan yang dialami anak merupakan gejala ringan. Jika memang tidak darurat, anak masih sadar, mau makan dan tak cedera parah, cobalah hubungi dulu dokter si kecil, sebelum membawanya ke UGD.

3. Meminta antibiotik

Wajar jika anak-anak kita menjadi lebih baik setelah mengkonsumsi antibiotik, tetapi Dr. Bush mengatakan antibiotik tidak harus selalu menjadi pilihan.

" Ada saat-saat ketika sangat tepat untuk memberikan antibiotik yaitu ketika terinfeksi bakteri, tetapi untuk pasien yang terinfeksi virus, itu tidak," katanya.

Pilek dan batuk tidak perlu antibiotik. Keluhan itu hanya perlu waktu untuk sembuh. Pemberian antibiotik terlalu sering dapat menyebabkan bakteri tahan dengan antibiotik, yang kemudian sulit untuk dilawan.

 

4 dari 5 halaman

4. Menolak atau Menunda Vaksin

Ironisnya, sama seperti orang tua yang terburu-buru berobat ke UGD, sebagian lain takut dengan vaksin. Banyak bukti ilmiah yang sangat kuat bahwa imunisasi mencegah banyak penyakit anak yang mematikan dan melemahkan anak.

Untuk penundaan vaksin, terutama pada bayi, dapat membuat tubuh tidak terlindungi lebih lama. Jadi, sangat menunda vaksin apalagi menolaknya.

5. Gunakan cotton bud untuk bersihkan telinga anak

Anak-anak mungkin akan mengeluh sakit telinga atau pendengaran berkurang karena telinga mereka begitu penuh dengan kotoran. Menggunakan cotton bud hanya akan mendorong kotoran kembali masuk ke dalam," kata Dr. Bush.

Cara lainnya adalah biarkan air masuk ke telinga anak saat mandi, karena kelembapan seharusnya membantu kotoran keluar dengan sendirinya. Jika dirasa ada keluhan di telinga, segera konsultasi dengan dokter spesialis telinga, hidung, tenggorokan

 

5 dari 5 halaman

6. Lewatkan kunjungan anak ke dokter

Seluruh orantua memiliki kesibukannya masing-masing, sehingga seringkali menganggap kunjungan ke dokter anak tidak lah penting dan terlewati begitu saja. Bush mengatakan itu sebuah kesalahan.

" Sebagai orangtua, kita dapat melakukan hal yang lebih baik, yaitu untuk mencegah penyakit tertentu. Penanganan penyakit pada anak berpacu denganw aktu dan momen pertumbuhannya, menundanya adalah kesalahan besar," ungkap Bush.

Laporan Raissa Anjanique/ Sumber: Parents

Beri Komentar