Anak Bermain Trampolin (Foto: Shutterstock)
Dream - Trampolin jadi salah satu mainan favorit anak-anak, terutama balita. Mainan satu ini juga banyak terdapat di playground karena sangat menyenangkan. Anak bisa melompat setinggi-tingginya sesuka hati.
Sayangnya, banyak yang tak tahu kalau permainan trampolin sebenarnya menyimpan risiko cedera yang sangat tinggi. Faktanya di Amerika Serikat sejak 2010 hingga 2014, menurut data America Academy of Orthopedic Surgeons (AAOS) terjadi kecelakaan akibat trampolin sebanyak 91.000 kasus.
" Efek dari kecelakaan bermain trampolin antara lain cedera kepala, fraktur, atau terkilir. Dampak yang paling buruk bisa lumpuh, cedera otak atau bahkan kematian. Makin kecil seorang anak bermain trampolin risiko mengalami kecelakaan semakin besar," kata Lori DeBold, M.D. dokter anak di Coast Memorial Medical Center, California.
DeBold seringkali menghadapi kasus anak yang terluka bermain trampolin. Menurut yang paling sering memicu kecelakaan adalah ketika anak-anak dalam satu area trampolin yang sama, kemudian saling membentur.
" Saat melompat di trampolin, akan sangat sulit mengontrol gerakan, apalagi anak-anak. Risiko terbentur sangat tinggi, termasuk jatuh dari area trampolin yang sangat mengerikan," kata DeBold.
Ia pun menyarankan agar para orangtua melakukan pengawasan ketat saat anaknya bermain trampolin. Permainan ini sebenarnya juga tak dianjurkan untuk anak di bawah 6 tahun. Saat bermain sebaiknya perhatikan hal-hal berikut.
- Idealnya hanya satu orang yang ada di area trampolin
- Tak boleh ada yang jungkir balik, bahkan untuk anak-anak yang lebih tua
- Pastikan trampolin berada di permukaan yang rata, jauh dari bangunan dan pepohonan
- Pastikan ada bantalan pelindung menutupi bingkai trampolin yang terbuat dari besi dan pengkait yang tajam
- Net yang berada di sekitar trampolin juga terpasang dengan baik
Sumber: Parents