Remaja Suka Makan Pedas, Dokter Ungkap Risiko Pendarahan Lambung

Reporter : Mutia Nugraheni
Rabu, 16 November 2022 18:48
Remaja Suka Makan Pedas, Dokter Ungkap Risiko Pendarahan Lambung
Risikonya bisa juga berupa usus buntu dan peradangan di dinding lambung yang sangat menyakitkan.

Dream - Kini banyak sekali camilan dan jajanan dengan rasa pedas yang ekstrem. Biasanya, dijual berdasarkan level kepedasan dan para remaja sangat menyukai makanan ekstra pedas tersebut.

Mereka bahkan bisa mengonsumsinya dalam jumlah banyak. Ditambah, bermunculannya challenge di media sosial untuk makan makanan pedas esktrem. Bila anak remaja suka mengonsumsi makanan pedas dan ikut tantangan pedas ini, sebaiknya berhati-hati dan waspada.

Dokter Ariani, seorang spesialis anak, menemui beberapa kasus pendarahan lambung pada anak remaja. Sebelumnya, anak tersebut melakukan tantangan makan bubuk cabai level 30 dengan adiknya.

" Remaja 13 tahun challenge makan pedas dengan adiknya. Kakak menang makan cabe bubuk level 30 tapi kemudian ia nyeri perut hebat dan saat diperiksa ternyata usus buntu," tulis dr. Ariani di akun Instagramnya @dr.ariani.

1 dari 7 halaman

Menurut dokter yang praktik di RSIA Bunda Jakarta ini, untuk mengetahui sumber nyeri di perut, dilakukan prosedur endoskopi. Dari prosedur tersebut diketahui terjadi pendarahan lambung.

" Usus buntu diangkat, benar saja masih meradang tapi ia masih sakit perut hebat," ungkap dr. Ariani.

Pengobatan pun dilakukan untuk mengatasi peradangan tersebut. Setelah dirawat selama beberapa hari, keluhannya menghilang dan kondisi lambung serta ususnya membaik. Bisa jadi pelajaran bagi orangtua yang anak-anaknya suka makanan pedas.

2 dari 7 halaman

3 Hal Penting yang Orangtua Bisa Lakukan untuk Jaga Kesehatan Mental Remaja

Dream - Hingga saat ini status pandemi Covid-19 belum dicabut. Anak-anak kehilangan banyak momen yang seharusnya mereka dapatkan dalam kehidupan normal. Antara lain bersosialisasi, mendapat pendidikan yang layak dan kondisi lingkungan dan kesehatan yang stabil.

Bagi remaja, yang butuh banyak momen untuk aktualisasi diri kondisi pandemi seperti sekarang sangat berdampak pada kesehatan mentalnya. " Anak remaja telah mengalami begitu banyak selama pandemi ini, dan sementara banyak perhatian sering ditempatkan pada konsekuensi kesehatan fisiknya, kita tidak boleh mengabaikan risiko kesehatan mental," kata Lee Savio Beers, MD, dari American Academy of Pediatrics, dikutip dari Parents.

Lalu apa yang penting untuk dilakukan orangtua untuk menjaga kesehatan mental anak remajanya? Banyak remaja tidak ingin membicarakan pikiran mereka—apalagi perasaan mereka—dan ini bisa membuat percakapan sensitif menjadi sulit. Membentuk jalur komunikasi yang terbuka sangat penting.

" Penting bagi orang tua untuk berbicara secara terbuka dan konsisten tentang kesehatan mental dengan anak remaja mereka dan mengambil sikap proaktif," kata Christine Yu Moutier, M.D., kepala petugas medis di American Foundation for Suicide Prevention.

Tanyakan kabarnya
Lebih peka terhadap aktivitas dan perubahan sikapnya. Selalu tanyakan kondisi dan apa yang dirasakan anak. Bisa tanya, " Kamu hari ini ada rencana apa?" , " Apa semua baik-baik saja?, " Ada yang bisa ibu bantu" .

3 dari 7 halaman

Dengarkan baik-baik dan tanpa menghakimi

Anak bisa melakukann banyak hal dan mungkin orangtua kaget mendengarkan. Dalam situasi ini, hindari sikap responsif penuh emosi. Dengarkan dulu cerita anak dengan seksama.

" Bicaralah dengan mereka tentang apa yang mereka alami. Dengarkan dengan rasa ingin tahu dan berempati. Hindari pernyataan yang menunjukkan rasa malu dan menyalahkan," ujar Christine.

Validasi emosi anak
Akui perasaan yang anak ungkapkan. Jangan sekali-kali mengecilkannya karena situasi yang dihadapi anak dianggap bukan persoalan besar.

Ingat, perasaan anak adalah valid apapun masalahnya. Saat kita mengecilkan perasaan anak dengan berkata seperti " begitu saja sedih, dulu ibu/ ayah lebih parah" , " banyak lebih parah/ tak seberuntung kamu" , " jangan jadi orang yang kurang bersyukur" , anak akan merasa tak didengarkan dan tak berharga.

Sejak itu, mereka akan mulai menutup rapat mulutnya, bersikap menarik diri, dan tak mau berbagi cerita apapun pada orangtuanya. Hubungan orangtua menjadi jauh, dan kesehatan mental mereka jadi taruhannya.

4 dari 7 halaman

Sulitnya Negosiasi dengan Anak Remaja, Coba 3 Cara Ini

Dream - Menghadapi anak yang beranjak remaja dan sudah memasuki usia 16 tahun ke atas, memang butuh kesabaran ekstra. Mereka sudah bisa membuat keputusan sendiri, berpikir kritis dan menyampaikan argumentasinya.

Tak suka dilarang, dan kerap mendesak orangtua untuk memberi izin melakukan hal yang kadang membuat khawatir. Orangtua dalam kondisi ini tak bisa terlalu kaku atau pun terlalu longgar.

Bila terlalu melarang atau bersikap keras, anak akan semakin menjauh bahkan kabur. Sebaliknya, bila terlalu longgar anak bisa saja mengalami hal buruk. Lalu apa yang bisa dilakukan? Negosiasi.

Sulit memang melakukan negosiasi dengan anak remaja. Chris Voss, pakar negosiasi dari FBI membagikan tiga trik bernegosiasi dasar yang bisa dilakukan. Bisa diterapkan saat menghadapi anak, pasangan atau orang lain dalam kondisi negosiasi.

 

5 dari 7 halaman

1. Mirroring

Mirroring adalah tentang mengumpulkan informasi dengan mengulangi satu hingga tiga kata yang diucapkan anak dan melakukannya dalam bentuk pertanyaan. Ini terutama bekerja dengan baik dalam percakapan konfrontatif karena membuat anak-anak merasa nyaman dan membuat mereka merasa didengar.

Misalnya, anak bertanya, “ Bolehkah aku pergi nonton bioskop jam 7 malam bareng teman-teman?” lalu respons, " Nonton malam?" anak akan menjawab, " Ya, kita mau nonton bareng" . Respons lagi " bareng teman?" , mungkin anak akan menyebut nama-nama temannya.

Jadi ketika bernegosiasi dengan anak-anak, kita harus mencerminkan mereka karena mirroring mengharuskan anak-ana untuk mendengarkan alasan mereka sendiri. Harus menjelaskan apa yang mereka inginkan secara mendetail memungkinkan kita sebagai orangtua untuk memilih pertanyaan tindak lanjut yang tepat yang membuat mereka berpikir kritis tentang suatu keputusan. Cara ini membuat anak-anak berbicara jujur dan menganalisis dan akhirnya memikirkan apa yang sebenarnya mereka inginkan.

 

6 dari 7 halaman

2. Pelabelan

Emosi selalu menjadi bagian dari negosiasi. Sangat penting agar anak-anak melabeli perasaan mereka sendiri. Saat emosi diberi label, itu memicu otak untuk meredakan emosi itu.

Saat memberi label emosi untuk mereka, bisa mengucapkan: " Sepertinya,terdengar seperti, terasa seperti ..." . Jika kita langsung mengatakan tidak, emosinya mengambil alih karena dia tidak merasa terkendali.

Bila menggunakan label emosi dan berkata, " Sepertinya kamu marah/ kesal dan kecewa" , bisa membantu meredakan reaksi emosional yang merugikan dan mengurangi penolakan terhadap saran yang diberikan. Kita mungkin memerlukan beberapa label untuk meredakan ketegangan sepenuhnya. Label emosional membangun hubungan dan meningkatkan pengaruh berbasis kepercayaan, yang kita inginkan sebagai orang tua.

 

7 dari 7 halaman

3. Mengganti "Mengapa" dengan "Bagaimana?" dan "Apa?"

Orang cenderung lebih suka dengan pertanyaan " apa" daripada pertanyaan " mengapa" . " Mengapa" memicu mekanisme pertahanan universal dan " apa" membuat orang lain merasa mereka memegang kendali, bahkan ketika mereka tidak memegang kendali.

Jika ayah/ bunda mencoba membuat anak membersihkan kamarnya, jangan katakan, “ Mengapa tidak membersihkan kamar?”. Sebaliknya, tanyakan, “ Apa yang dapat kamu lakukan untuk membersihkan kamar dalam 10 menit? Atau “ Bagaimana kalau ibu bantu untuk bersihkan kamar?”. Pertanyaan-pertanyaan ini pada akhirnya membantu membentuk pemikiran anak.

Sumber: AllProDad

Beri Komentar