Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
Dream – Pada tahun 1987 silam, masyarakat digegerkan dengan kelahiran bayi kembar siam yang diberi nama Yuliana dan Yuliani. Anak pasangan Tularji dan Hartini dari Tanjung Pinang, terlahir kembar siam dempet di kepala secara vertikal atau disebut dengan kraniopagus.
Hingga akhirnya, pada usia yang baru menginjak 2 bulan 21 hari, Yuliana dan Yuliani harus menjalani operasi pemisahan kepala di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Dulu banyak yang meragukan si kembar siam Yuliana-Yuliana akan tumbuh normal, bahkan banyak pakar mengumbar pernyataan bahwa keduanya akan mengalami cacat mental. Faktanya, kini Yuliana-Yuliani berhasil berkembang sehat, cerdas, bahkan menjadi orang yang sukses. Operasi pada 21 Oktober 1987 itu jadi tonggak sejarah bidang kedokteran di Indonesia, khususnya bedah saraf.
Kini, Yualiana-Yuliani telah dewasa. Bagaimana kabar mereka sekarang?
Setelah kembar Yuliana-Yuliani dan orangtuanya pulang ke Tanjung Pinang pun, Dokter Padmosantjojo pun tetap memberikan dukungan dana untuk keperluan pendidikan kembar itu hingga kini. Terbukti, kini Yuliana-Yuliani tumbuh menjadi wanita yang hebat dan sukses dan karirnya. "Ternyata bisa, tuh, Yuliana Yuliani sampai lulus universitas. Saya senang," kata Padmosantjojo sambil tersenyum. ( Foto: Twitter/ @airin_nz)
Hak Cipta Twitter/ @airin_nz