Cerita Pemain KMGP, Dari Naik Bus Sampai Keder Lihat Preman

Reporter : Ratih Wulan
Senin, 1 Februari 2016 11:45
Cerita Pemain KMGP, Dari Naik Bus Sampai Keder Lihat Preman
Masaji Wijayanto dan Aquino Umar hadir di acara meet n great pemain film KMGP

Dream- Ratusan pengunjung Mall Pejaten Village antusias menyambut kedatangan dua pemeran film religi Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP). Dalam meet and great yang digelar Kaffah Indonesia tersebut, hadir Masaji Wijayanto dan Aquino Umar.

Keduanya tampak bersemangat menceritakan pengalaman berkesan yang dialami selama berada di asrama karantina dan proses syuting film. Dijelaskan Noi, panggilan akrab Aquino, para pemain KMGP awalnya kesulitan menyatukan pendapat dalam satu pandangan.

" Ada aku sama Aji, lalu kak Hamas Syahid dan satu lagi Izzah Ajrina," ungkap Noi di Mall Pejaten Village, Jakarta Selatan, Minggu, 31 Desember 2016.

Berbeda dengan Aji yang mengaku memiliki pengalaman seru ketika mendalami peran sebagai Yudi. Dalam film ini, ia berperan senagai anak muda yang kerap melakukan dakwah di bus-bus kota.

" Sebelumnya aku sempat survei ke lapangan coba naik bus buat menjajaki situasi. Ketemu premen dan sempet keder juga," ungkapnya seraya tertawa.

Selain itu, baik Aji maupun Noi mengaku kagum kepada Helvy Tiana Rosa, sosok yang menciptakan karakter Mas Gagah Pergi. Sebagai penulis, Helvy danggap berhasil mengarang cerita yang begitu melegenda dan epik untuk diangkat ke layar lebar.

" Awalnya ini berbentuk cerpen yang dibuat pada 1992 dan diterbitkan 1993. Lalu 1997 diterbitkan dalam bentuk novel yang sudah berhasil naik cetak 40 kali," imbuh Noi.

Berawal dari sinilah, para pembaca mencetuskan sebuah ide untuk mengangkat novel ke layar lebar dengan judul yang sama. Bahkan mereka pun dengan sukarela mengeluarkan dana patungan untuk membiayai produksi film secara independent.

" Jadi film ini mengumpulkan dana pakai sistem crowdfunding, melibatkan 30 cameo papan atas dan kami berhasil dipilih sebagai pemeran utama dari 1800 orang yang mengikuti ausdisi online," ungkap Noi menambahkan.

Mereka juga mengungkapkan kesulitan dalam mencari pemeran seperti Hamas Syahid yang mampu menghapal Alquran. Selain itu, pertimbangan lain seperti mencari nama-nama baru yang memiliki latar belakang baik di dunia hiburan.

" Nama-nama kita dianggap masih bersih karena belum punya track record jadi artis," lanjut Noi.

Selanjutnya Aji menambahkan jika film ini sudah berhasilkan menyumbang sejumlah dana besar untuk Palestina dan Indonesia bagian Timur. Masing-masing mendapat donasi sebesar 500 juta rupiah.

" Dan kalau film ini nanti sukses, kami akan menyumbang lagi 1 miliar ke Palestina tanpa dikurangi yang 500 juta ya," jelasnya.

Ditegaskan Noi ada sejarah yang melatarbelakangi kegigihan mereka dalam melakukan misi kemanuasian ke Palestina. Melalui beberapa proses screaning dan pembacaan naskah, terkuak bahwa pada tahun 1944 orang-orang Palestina menghimpun dana untuk membantu kemerdekaan Indonesia.

" Jadi sekarang waktu yang tepat untuk membalas kebaikan mereka dan meluruskan pandangan kenapa nggak beramal dulu di dalam negeri," tandas Noi.

Beri Komentar