Abdullah Bin Ahmad Al Ghurair (Mashreq Bank)
Dream - Keluarga Ghurair dikenal sebagai kreator ekonomi baru Uni Emirates Arab. Sudah ratusan miliar sumbangan keluarga ini untuk kemanusiaan.
Afrika meradang. Ribuan bocah di kawasan Tanduk Afrika meliputi Somalia, Kenya, dan Ethiopia meninggal akibat negeri yang tak terurus. Kekeringan berkepanjangan pun menyebar tanpa ada tindakan mengatasinya. Perang berebut kekuasaan pun merebak akibat perebutan akses bahan pangan dan air minum.
Puncaknya terjadi empat tahun lalu. Setidaknya 10 juta jiwa penduduk kehilangan mata pencaharian. Dampak krisis meluas. Beberapa negara tetangga seperti Sudan dan Sudan Selatan terkena dampaknya.
Pemerintah Somalia mulai angkat tangan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turun tangan dan menyatakan sebagai bencana dunia. Saat donasi diserukan, bantuan segera mengalir.
Salah satunya datang dari negeri kaya Asia yang berbatasan dengan Afrika, Uni Emirates Arab (UEA). Seorang pengusaha kaya negeri minyak itu menyumbangkan tak kurang dari 142 juta dirham atau sekitar Rp 500 miliar.
Dia adalah Abdullah bin Ahmad Al Ghurair. Lewat perusahaan yang dimilikinya, Al Ghurair Group, dia mengirimkan berton-ton makanan ke Somalia melalui lembaga PBB yang mengurus soal anak, United Nations Chidren’s Fund (UNICEF).
“ Al Ghurair merasa perlu memainkan peran dan tanggung jawabnya untuk memberikan bantuan terhadap korban peristiwa paling tragis dalam sejarah umat manusia,” kata Abdullah bin Ahmad Al Ghurair ketika penandatanganan nota kesepahaman dengan UNICEF, Oktober 2011.
Bantuan makanan itu dipasok langsung dari Al Ghurair Foods, salah satu divisi bisnis makanan milik Al Ghurair Group. Al Ghurair Foods sendiri merupakan penguasa bisnis makanan kemasan di kawasan Timur Tengah.
***
Siapakah Abdullah bin Ahmad Al Ghurair, yang dengan ringan membantu Rp 500 miliar untuk Negara lain?
Keluarga Al Ghurair memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Uni Emirat Arab (UEA). Mereka memiliki kedudukan tinggi lantaran peran besarnya dalam membangun ekonomi negeri para Emir itu.
Al Ghurair Group bergerak di beragam bidang bisnis. Mulai dari infrastruktur, properti, makanan, hingga investasi. Abdullah bin Ahmad Al Ghurair sendiri merupakan anak kedua dari Ahmad Al Ghurair. Dia dinobatkan sebagai orang terkaya nomor 4 di Kawasan Timur Tengah setelah Pangeran Al Waleed dari Arab Saudi, Joseph Safra dari Lebanon, dan Al-Amoudi dari Arab Saudi.
Abdullah Ghurair diperkirakan memiliki kekayaan US$ 6,4 miliar atau sekitar Rp 80,2 triliun. Majalah Forbes menobatkan Abdullah sebagai orang terkaya di UEA dan masuk ke dalam daftar orang kaya dunia di urutan ke-220.
Abdullah Ghurair memang mewarisi kekayaan dari ayahnya, Ahmad Al Ghurair. Warisan sang ayah kini ditangani empat orang anaknya, yaitu Saif, Abdullah, Majid, Marwan, dan Juma. Tetapi, kendali atas grup diserahkan sepenuhnya kepada anak tertuanya, Saif.
Pada 1967 Abdullah mendirikan bank swasta pertama di UEA, Mashreq Bank. Awalnya, bank ini dikenal dengan nama Bank of Oman yang beroperasi di Dubai. Bank ini berkembang dengan cukup baik hingga pada 1969 mengakuisisi Ottoman Bank. Aksi bisnis ini memperkuat aset bank baru tersebut hingga mencapai 3 juta dirham UEA, atau setara Rp10,6 triliun. Dengan aset sebesar itu, Bank of Oman menjadi bank swasta terbesar di UEA.
Sekitar 20 tahun lalu, dewan direksi membuat perubahan status Bank of Oman menjadi Mashreq Bank. Sebuah prestasi yang mampu dicatatkan oleh Abdullah adalah meningkatnya nilai saham Mashreq Bank mencapai 80 persen tahun lalu. Jika dilihat sebagaimana lazimnya, harga saham akan terpengaruh pada situasi yang terjadi seperti turunnya harga minyak dunia. Tetapi, jatuhnya harga minyak seolah tak menyentuh Mashreq Bank.
Jumlah kekayaan Abdullah Ghurair pun melonjak dengan penambahan hampir Rp19,4 triliun. Di bawah kendalinya bersama sang kakak, Saif, bisnis keluarga Al Ghurair semakin menggurita. Saif kemudian memegang kendali lini bisnis manufaktur, sedangkan Abdullah mengembangkan lini keuangan.
Selain bank, Abdullah juga mendirikan perusahaan investasi bernama Al Ghurair Invesment. Kolaborasi keduanya membuahkan hasil mencengangkan. Tahun 1991, Al Ghurair Group membuka pusat perbelanjaan mewah terbesar di Dubai, BurJuman Centre.
Al Ghurair Group juga merambah bisnis kemasan makanan. Melalui Dubai Poly Film selaku produsen polyepropylene atau plastik khusus untuk mengemas makanan dan Arabian Can Industry, grup ini merajai industri makanan di kawasan Timur Tengah.
***
Sebagai orang kaya, Abdullah bin Ahmad Al Ghurair juga terkenal dermawan. Ia bersama keluarganya selalu mengeluarkan sebagian pendapatan untuk beramal. Momen Ramadan selalu menjadi saat yang tidak pernah mereka lewatkan.
Setiap Ramadan, Abdullah bersama Al Ghurair Group selalu menyalurkan bantuan bagi muslim yang membutuhkan. Bantuan tersebut berupa paket makanan berbuka puasa yang disalurkan dengan mengerahkan petugas dari perusahaan.
Selain itu, Abdullah juga menyumbang sejumlah kebutuhan lain seperti pakaian, alat-alar rumah tangga, buku untuk pendidikan dan sejumlah bantuan lain. Bantuan tersebut disalurkan melalui kerjasama yang dijalin antara Al Ghurair Group dengan lembaga amal milik pemerintah di Dubai.
Meski demikian, bantuan yang diberikan Abdullah tidak sebatas hanya pada bulan Ramadan. Abdullah secara aktif memberikan bantuan kepada para kaum dhuafa di negara-negara berkembang melalui lembaga ‘Dubai Cares’. Melalui lembaga ini pula, Abdullah mendirikan sejumlah sekolah di beberapa negara berkembang. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi kaum dhuafa di negara-negara berkembang agar bisa merasakan pendidikan.
Tidak hanya itu, kebutuhan akan gizi mendapat perhatian yang begitu besar dari Abdullah. Nilai kematian akibat gizi buruk di negara berkembang, salah satunya Sri Lanka cukup memprihatinkan. Atas hal itu, Abdullah kemudian memberikan bantuan berupa makanan bergizi yang ditujukan untuk anak-anak usia dini dan usia sekolah.
Upaya pemberian makanan bergizi tersebut juga dibarengi dengan kampanye hidup sehat. Salah satunya dengan mulai mengkampanyekan gerakan ‘Fruit a Day’. Gerakan ini bertujuan untuk menyosialisasikan kepada masyarakat dunia berkembang pentingnya peran buah bagi metabolisme tubuh.
Abdullah merupakan potret dari sekian banyak orang kaya yang begitu menaruh perhatian bagi masyarakat dhuafa baik di dalam negerinya maupun di luar negeri. Perpaduan unik menumbuhkan keseimbangan antara bisnis yang maju pesat dan kehidupan sosial yang kian kuat terjalin.