Bacaan Maulid Diba dan Keutamaannya untuk Mendekatkan Diri kepada Allah SWT dan Rasulullah

Reporter : Arini Saadah
Jumat, 7 Oktober 2022 07:36
Bacaan Maulid Diba dan Keutamaannya untuk Mendekatkan Diri kepada Allah SWT dan Rasulullah
Keindahan syair dan makna di dalamnya mampu menarik perhatian pembaca untuk semakin menambah rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Dream - Islam memiliki cara-cara yang bernilai riligi ketika memuliakan kekasih Allah SWT, Nabi Muhammad SAW. Untuk memperingati hari kelahiran sosok pembawa risalah Islam atau Maulid Nabi Muhammad SAW, masyarakat Muslim mengucapkan syukur dan sholawat.

Salah satu pembacaan sholawat dan syukur yang telah mengalami perkembangan ke berbagai wilayah, khususnya Indonesia, ialah bacaan maulid diba (Maulid ad-Diba’i).

Pembacaan sholawat maulid diba tidak hanya pada 12 Rabiul Awwal saja, melainkan telah menjadi bacaan bulanan, mingguan hingga acara-acara tertentu yang diadakan oleh masyarakat.

Keindahan syair dan makna di dalamnya mampu menarik perhatian pembaca untuk semakin menambah rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Bacaan maulid diba juga menjadi sebuah media untuk mempelajari bagaimana sifat dan karakter Rasulullah SAW yang sebenarnya.

Dalam artikel kali ini, Dream akan mengulas tentang bacaan maulid diba, penyusunnya, hingga keutamaan bacaan maulid diba.

1 dari 3 halaman

Penyusun Bacaan Maulid Diba

Bacaan maulid diba disusun oleh Wajihuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Umar bin Yusuf bin Ahmad bin Umar asy-Syaibani az-Zabidi asy-Syafi’i. Ia juga terkenal dengan sebutan Ibnud Diba’. Imam Abdurrahman ad-Diba’i adalah salah satu ulama kelahiran kota Zabid, Yaman yang lahir bertepatan pada Muharram 866 H dan wafat pada Jumat 12 Rajab 944 H.

Ditinggal sang ayah sejak kecil, ia hidup di bawah asuhan kakeknya yang sangat alim dan dikenal sebagai orang saleh. Kehidupannya saat kecil tidak seperti anak muda umumnya, ia lebih fokus pada ilmu. Sejak kecil ia belajar Al-Qur’an pada Syekh Nuruddin bin Abi Bakar. Ketika usia 10 tahun ia sudah berhasil menghafal Al-Qur’an.

Karena masih haus akan ilmu, ia memperdalam ilmu fiqih kepada Syekh Taqiyuddin Abul Hafs. Selain itu juga belajar hadits kepada seorang muhaddits pada zamannya yaitu Syekh Zainuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin Ahmad asy-Syirji. Dan masih banyak lagi ilmu yang ia pelajari bersama para guru yang alim.

Dalam kitab Mil’ul Awani fi Tahqiqil Maulid Diba’i disebutkan yang artinya: “ Ibnud Diba’ adalah ulama yang sangat luas dalam Al-Qur’an dan hadits serta ilmu-ilmu keduanya, begitu juga (sangat luas) dalam ilmu fiqih dan berbagai ilmu-ilmu yang lain.”

2 dari 3 halaman

Keutamaan Bacaan Maulid Diba

Ilustrasi© Shutterstock.com

Bacaan maulid diba yang disusun oleh Imam Abdurrahman ad-Diba’i ini menampakkan rasa cinta yang mendalam kepada Rasulullah SAW dan memujinya dengan hakikat pujian yang sebenarnya. Selain itu, juga berisi ungkapan kerinduan dengan rindu yang sebenarnya, sehingga bisa menjadi penyebab untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus sebagai media untuk menambah cinta kepada-Nya, Rasulullah saw dan sahabatnya.

Di dalam bacaan maulid diba juga terdapat referensi untuk meneladani hidup Rasulullah SAW yang menjadi rahmat kepada umatnya.

Begitu dalam makna yang terkandung di dalamnya, sehingga bacaan maulid diba ini memiliki keutamaan yang tak diragukan lagi.

Jumhur Ulama sepakat dan mengamini bahwa keutamaan bacaan maulid diba tidak terhitung jumlahnya. Karena membaca maulid diba sudah dipastikan membaca Al-Quran, hadits, sholawat. Bacaan maulid diba juga menjadi media untuk mengingat dan meneladani Rasulullah SAW pada masa hidupnya.

Dalam kitab at-Ta’rîf bil Maulid disebutkan yang artinya:

“ Maulid (ini), di dalamnya terdapat rahasia yang agung, (dengan membacanya) akan mendapatkan pemahaman-pemahaman baru (tentang Rasulullah saw).”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa seolah pembaca maulid diba tidak hanya memiliki jaminan pahala dengan membacanya, namun juga akan ada jaminan penambahan pengetahuan dan kecintaan kepada Rasulullah.

3 dari 3 halaman

Bacaan Maulid Diba

Telah dijelaskan di atas bahwa bacaan maulid diba termasuk kitab sirah nabawiyah untuk meneladani sifat dan bersholawat kepadanya. Sebaiknya bacaan Maulid Diba dibaca di tempat yang layak, penuh adab dan sopan, serta dalam keadaan suci.

Sementara itu, tata cara pengamalannya secara khusus, yaitu dengan beberapa tahap sebagai berikut:

Membaca surat Al-Fatihah yang ditujukan untuk Rasulullah SAW dan Imam ad-Diba’i.

Membaca seruan dan ajakan kepada para hadirin untuk bersholawat kepada Rasulullah SAW dengan kalimat berikut:

فَيَا أَيُّهَا الرَّاجُوْنَ مِنْهُ شَفَاعَةً صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَيَا أَيُهَا الْمُشْتَقُوْنَ إِلَى رُؤْيَةِ جَمَالِهِ، صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَيَا مَنْ يَخْطُبُ وِصَالَهُ يَقْظَةً وَمَنَامًا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا  

Artinya:

“ Wahai orang-orang yang mengharapkan syafaat dari Rasulullah SAW, bersholawatlah dan ucapkanlah salam kepadanya. Wahai orang-orang yang rindu melihat ketampanannya, bersholawatlah dan ucapkanlah salam kepadanya. Wahai orang-orang yang mengharapkan pertemuan dengannya; saat sadar dan tidur, bersholawatlah dan ucapkanlah salam kepadanya.”

Kemudian disusul dengan membaca sholawat berikut:

يَا رَسُوْلَ الله سَلَامٌ عَلَيْك *** يَا رَفِيْعَ الشَّانِ وَالدَّرَجِ

 عَطْفَةً يَاجِيْرَةَ الْعَلَمِ *** يَا أُهَيْلَ الْجُوْدِ وَالْكَرَمِ

Artinya:

“ Wahai utusan Allah! Semoga keselamatan tetap padamu. Wahai orang yang berbudi luhur dan bermartabat tinggi. Rasa kasihmu wahai pemimpin tetangga. Wahai ahli dermawan dan pemurah hati.”

Setelah itu, dilanjutkan dengan membaca bacaan maulid diba seperti yang tertera di dalam Kitab Maulid Diba’ berikut.

 

Sumber: NU Online

Beri Komentar