Ilustasi (Shutterstock.com)
Dream - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, menerangkan vaksin Covid-19 harus melalui tahapan pengembangan sebelum bisa diproduksi massal. Sedikitnya ada lima tahapan yang harus dilalui.
Menurut Wiku, tahap pertama yang harus dijalankan adalah penelitian dasar. Di tahap ini, peneliti menelusuri mekanisme potensial berdasarkan ilmu yang biasa dipakai.
" Dalam penelitian dasar ini hanya fokus meneliti virus, sel-sel yang terkait virus tersebut, dan sel-sel yang diinveksi virus ini dan diperbanyak," ujar Wiku.
Tujuannya, kata Wiku, untuk melihat reaksi sel-sel yang diperbanyak dan diekstraksi virusnya dalam jumlah lebih banyak. Pada proses ini biasanya sudah mulai dilakukan pembuatan vaksin dalam jumlah terbatas.
Tahap selanjutnya uji pre-klinis. Di tahap ini, vaksin yang dibuat diuji dulu pada sel dilanjutkan ke hewan. Uji pre-klinis itu untuk memastikan vaksin ini aman apabila diujikan pada manusia.
Langkah selanjutnya yaitu uji klinis dengan tiga fase. Fase satu memastikan keamanan dosis pada manusia serta menilai farmaco kinetik dan farmaco dinamik untuk menentukan dosis aman pada manusia.
Fase dua yaitu melakukan studi pada manusia dengan jumlah sampel 100 sampai 500 orang. Studi ini untuk menilai dan memastikan keamanan pada manusia dapat tercapai dan menilai efektivitas serta menentukan rentan dan frekuensi pemberian dosis paling optimal dan efek samping jangka pendek.
Lalu masuk fase tiga dengan uji sampel 1.000 sampai 5.000 orang. Fase ini untuk memastikan keamanan, efektivitas, keuntungan yang melebihi risiko penggunaan pada populasi yang lebih besar.
Fase ini pula yang menjadi penentu layak tidaknya calon vaksin diproduksi massal. Apabila uji klinis fase tiga ini tuntas dan hasil memuaskan maka akan masuk fase persetujuan.
" Kita pastikan mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) semua proses uji ini sudah berjalan dengan baik maka bisa masuk ke dalam proses persetujuan yang dilanjutkan dengan pembuatan vaksin dalam jumlah besar," kata Wiku, dikutip dari Covid19.go.id.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream - Beberapa minggu terakhir, ditemukan adanya kluster pesantren penularan Covid-29. Potensi penularan Covid-19 di lingkungan pesantren memang sangat tinggi, ketimbang populasi umum di lingkungan rumah.
Pakar Epidemilogi dari Perhimpunan Profesi Ahli Epidemiologi Indonesia, Dr Masdalina Pane, M.Si menerangkan, santri sebagai populasi terbanyak di pesantren rentan tertular oleh dunia luar.
" Tapi kalau santri jarang terhubung dengan dunia luar, relatif aman. Saya lihat beberapa pesantren menerapkan sistem testing bahwa mereka bebas Covid," ujar Masdalina, dalam konferensi pers Kamis, 22 Oktober 2020.
Masdalina menerangkan, potensi penyebaran Covid-19 di lingkungan pesantren bisa terjadi ketika ada pengunjung yang datang.
" Pesoalannya ketika ada pengunjung yang keluar masuk. Pengunjung tentu terpapar dengan populasi yang ada di luar yang memiliki risiko," ungkapnya.
Oleh karena itu, Perhimpunan Profesi Ahli Epidemiologi Indonesia telah melakukan upaya survailance terhadap para pengunjung pesantren atau close population, dengan memeriksakan kesehatan para santri.
" Maka ada beberapa tindakan yang dilakukan oleh kita dibidang kesehatan. Misalnya survailance dan virus survei secara berkala. Karena itu kita juga mohon dukungan dari para santri dan pengurus pesantren jika ada puskesmas yang ingin melaksanakan survei untuk melihat kesehatan teman-teman," ungkapnya.
Dia meminta agar para santri bisa mendukung inisiasi tersebut. Santri juga harus segera melapor bila mengalami gejala yang mirip dengan Covid-19.
" Kalau para santri memiliki gejala, meskipun ringan, mohon untuk tidak disembunykan. Jadi laporkan kepada pengurus pesantren agar bisa dilakukan pemeriksaan," demikian Masdalina Pane.
Di tempat terpisah, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr. K.H Nasaruddin Umar, mengajak para santri untuk selalu berikhtiar melawan pandemi Covid-19.
" Segala penyakit itu berasal dari Allah SWT, tetapi ikhtiar itu juga perlu sesuai perintah Allah. Segala penyakit itu ada obatnya, berusaha mencari itu jalannya, jangan pasrah," jelas Nasaruddin.
Di masa pandemi seperti saat ini, Umar meminta agar komunitas santri tidak beriam diri untuk mencari solusi dalam mencegah penyebaran virus Corona.
" Santri itu harus proaktif seperti ketika santri melakukan komando jihad mengusir Belanda. Maka saat pandemi, santri pun harus bisa mnegusir Corona. Misalnya seperti berdoa dan menjadi contoh masyarakat untuk menerapkan porotokol kesehatan," lanjut Umar.
Advertisement