Cegah Kluster Covid-19 di Keluarga, Pastikan Lakukan Hal Ini

Reporter : Mutia Nugraheni
Minggu, 20 September 2020 10:22
Cegah Kluster Covid-19 di Keluarga, Pastikan Lakukan Hal Ini
Tak bosan-bosan dr. Agus mengingatkan jika keluar rumah, masker tak boleh dilepas.

Dream - DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi di Indonesia. Penambahan kasus positif setiap harinya kini mencapai lebih dari 3.000.

Salah satu yang yang meningkat adalah kluster keluarga, di mana satu keluarga tertular Covid-19. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Menurut Dr. dr. Agus Dwi Susanto SpP(K) Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, dalam webinar yang digelar Komite Penanganan COVID-19 di Grahan BNPB, Jumat, 18 September 2020, hal ini karena protokol kesehatan tak dijalankan dengan baik.

" Kita masih ingat betul prinsip stay at home. Kita ingatkan keluarga untuk di rumah saja. Bila bekerja di kantor wajib mengenakan masker meskipun berada di dalam ruangan tertutup. Di DKI Jakarta, sebagian besar kasus tanpa gejala, ini justru mengkhawatirkan," kata dr. Agus.

 

1 dari 6 halaman

Masker Adalah Wajib

Tak bosan-bosan dr. Agus mengingatkan jika keluar rumah, masker tak boleh dilepas sama sekali. Pasalnya kita tak tahu orang di sekeliling dalam keadaan seahat atau tidak. Masker adalah proteksi utama.

" Jika tertular, kita membawa virus itu ke rumah. Sampai di rumah, pastikan kita cukup steril. Alat-alat yang kita bawa harus dibersihkan. Mandi, taruh baju di tempat cuci. Tetap waspada jika bertemu golongan yang rentan seperti orang yang memiliki penyakit jantung, paru-paru, manula dan anak-anak," ungkap dr. Agus.

 

2 dari 6 halaman

Jangan Berkerumun

Bila memang ragu dengan riwayat kontak selama di luar rumah, sebaiknya memisahkan diri dan jangan bercampur dengan anggota keluarga lain sampai merasa benar-benar aman. Bahkan dr. Agus juga menganjurkan untuk tetap menggunakan masker selama di rumah, jika kontak dengan orang yang rentan.

Hal yang juga sangat penting adalah jangan membuat kerumunan di rumah. Mengadakan pertemuan yang mendatangkan banyak orang atau kumpul keluarga besar. Dalam situasi tersebut virus Covid-19 akan sangat mudah menular. Terutama di dalam rumah yang tertutup.

3 dari 6 halaman

Fakta Mengejutkan Soal Jumlah Kasus Covid-19 Anak di Indonesia

Dream - Korban jiwa karena virus Covid-19 terus berjatuhan. Di banyak negara, virus ini sebagian besar memakan korban dari kalangan lanjut usia. Anak-anak yang terkena virus, cenderung lebih bisa bertahan tapi kondisinya sangat menular sehingga juga harus diisolasi.

Sementara di Indonesia, dikutip dari data yang dirangkum oleh Pandemic Talks, platform info dan data #COVID19 Indonesia dari spektrum sains dan ekosospol, mengungkap kalau kasus Covid-19 pada anak di Indonesia tembus 15.677 kasus.

Jumlah tersebut terbilang sangat tinggi dan mengkhawatirkan dan terdapat beberapa fakta mengejutkan. Apa saja? Ternyata jumlah kasus anak yang terkena Covid-19 di Indonesia lebih besar dari gabungan total kasus di negara Malaysia (9.559 cases) dan Thailand (3.447 cases)

Jika " anak-anak Indonesia" memiliki sebuah negara sendiri, maka negara tersebut berada di posisi 82 Klasemen Global Total Kasus Covid-19 Negara. Untuk bayi usia  0-1 tahun yang terinfeksi Covid-19, sebanyak 1.851 bayi. Jumlah ini termasuk sangat tinggi.

 

4 dari 6 halaman

Diperkirakan Tiap Hari Ada 137 Anak Indonesia Terkena Covid-19

Sementara pada anak usia 6-17 tahun yang lebih mudah terinfeksi (72,3%), terdapat 11.763 kasus. Kasus anak yang terkena Covid-19 sebesar 28% berasal dari DKI Jakarta

Bila ditotal, jumlah kasus anak yang positif Covid-19 di DKI Jakarta melebihi total kasus di negara Thailand

Diperkirakan, rata-rata setiap harinya ada 137 anak Indonesia terinfeksi Covid-19. Pandemic Talks mengingatkan lagi para orangtua untuk menerapkan protokol kesehatan ketat demi melindungi buah hati kesayangan dari Covid-19.

Antara lain batasi pertemuan anak dengan orang lain selain orang rumah. Usahakan jangan ajak anak-anak keluar rumah. Jika terpaksa keluar rumah anak usia lebih dari 6 tahun wajib memakai masker (WHO).

Data kasus Covid-19 pada anak© Pandemic Talks

Sumber: Pandemic Talks

5 dari 6 halaman

Anak Jadi Super Spreader Covid-19, Terutama di 2 Hari Pertama Infeksi

Dream - Wacana membuka sekolah di zona hijau dan kuning penyebaran virus Covid-19 ditentang banyak pihak. Terutama dari kalangan medis dan epidemiolog.

Hal ini karena sejumlah penelitian mengungkap kalau anak merupakan super spreader atau penyebar virus Covid-19 yang sangat tinggi meskipun mereka tak memiliki gejala.

Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh tim Pusat Penelitian Imunologi dan Biologi Mukosa di Rumah Sakit Umum Massachusetts di Boston, Amerika Serikat. Mereka melakukan penelitian terhadap 192 anak, termasuk bayi baru lahir hingga orang berusia 22 tahun.

Hasilnya, 49 dinyatakan positif COvid-19 dan 18 lainnya menunjukkan gejala penyakit COVID-19. Anak-anak yang terinfeksi memiliki tingkat virus yang sangat tinggi di dalam saluran pernapasan mereka (viral load) melebihi jumlah pasien dewasa yang sakit parah yang dirawat di unit perawatan intensif.

 

6 dari 6 halaman

Penularannya Sangat Tinggi

Hal ini sangat penting diwaspadai, karena kemampuan orang yang terinfeksi untuk menularkan Covid-19 meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah virus di sistem mereka. Pada anak-anak, di dua hari pertama infeksi Covid-19, tingkat penularannya sangat tinggi.

" Saya terkejut dengan tingginya tingkat virus yang kami temukan pada anak-anak dari segala usia, terutama dalam dua hari pertama infeksi," kata pemimpin penelitian, Dr. Lael Yonker, direktur MGH Cystic Fibrosis Center.

Tim peneliti Boston sepakat bahwa dalam sebagian besar kasus, anak-anak yang terinfeksi Covid-19 cenderung hanya memunculkan gejala ringan, bahkan tanpa gejala. Bahaya sebenarnya terletak pada kontak mereka dengan orang dewasa yang lebih rentan.

Dalam studi baru, lebih dari setengah anak yang terinfeksi berasal dari komunitas berpenghasilan rendah, di mana rumah sering kali mencakup beberapa generasi - termasuk kakek-nenek yang sangat rentan terhadap COVID-19.

Studi ini memberikan fakta yang sangat dibutuhkan para pembuat kebijakan untuk membuat keputusan terbaik bagi sekolah, pusat penitipan anak dan lembaga lain yang melayani anak-anak.

" Anak-anak adalah kemungkinan sumber penyebaran virus ini, dan ini harus diperhitungkan dalam tahap perencanaan untuk membuka kembali sekolah," kata Dr. Alessio Fasano, Direktur Pusat Penelitian Imunologi dan Biologi Mukosa di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Boston.

Sumber: WebMD

 

Beri Komentar