Cerita Bule Rusia di Bali Ketiban Susah Karena Invasi ke Ukraina: ATM Diblokir, Berbagi Tempat Tinggal

Reporter : Okti Nur Alifia
Senin, 21 Maret 2022 09:01
Cerita Bule Rusia di Bali Ketiban Susah Karena Invasi ke Ukraina: ATM Diblokir, Berbagi Tempat Tinggal
Inilah cerita wanita rusia bernama Natalie yang harus bertahan hidup di Bali. Kondisi keuangan menjadi sulit karena invasi Rusia ke Ukraina.

Dream -  Invasi Rusia ke Ukraina membuat kehidupan warga kedua negara ini juga terpengaruh. Tak hanya warga Ukraina yang bertahan hidup negaranya, warga Rusia yang tinggal di negara lain turut merasakan imbas dari perang khusus sesuai sebutan yang dibuat Valdimir Putin.

ROntoknya kurs Rubel terhadap mata yang asing membuat kehidupan wanita asal Rusia yang saat ini hidup di Pulau Dewata, Bali ikut terimbas.

Wanita itu bernama Natalie Kambaratova. Perempuan berusia 23 tahun ini telah hidup tiga bulan di Bali. Kondisi perekonomiannya berubah, setelah adanya peperangan.

Awalnya ia mengaku kebutuhan hidup di Bali sangat murah dengan uang miliknya yang bisa digunakan untuk membeli apapun yang diinginkan. Tapi kondisi tersebut tak bertahan lama setelah Rusia melancarkan invasi ke Ukraina.

Ketika kurs uang Rubel Rusia rontok, Natalie tak bisa mengambil uang karena kartu ATM yang diblokir.

Inilah cerita bagaimana ia bertahan hidup di Bali dengan kondisi keuangan yang menjadi sulit. 

1 dari 4 halaman

ATM Diblokir, Bertahan dengan Uang Kripto

Natalie berasal dari Kota Nizhny Novgorod, Rusia. Kehidupan di Bali yang awalnya mudah, berubah ketika adanya invasi. Lebih tepatnya invasi yang mendorong banyak negara menjatuhkan sanksi telah berdampak pada kurs uang Rubel Rusia yang saat ini dimiliki Natalie.

" Awalnya di sini semuanya lebih murah, tapi sekarang jadi sedikit lebih mahal bagi saya. Karena USD naik tinggi dan kurs kami jadi lebih rendah. Tapi Bali masih lebih baik karena orang-orangnya baik," kata Natalie di Pantai Berawa, Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali, pada Jumat, 18 Maret 2022, dikutip dari merdeka.com.

Natalie memastikan nasib serupa juga dialami warga Rusia lain yang saat ini menetap di Bali. Rekan-rekannya juga tak bisa menggunakan ATM karena kartu mereka yang sudah diblokir.

2 dari 4 halaman

Patungan Sewa Kamar

Natalie Kambaratova© Natalie Kambaratova (Foto: Merdeka.com)

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Natalie kini hanya bisa mengandalkan aset digitalnya yaitu Kripto.

" Semua orang Rusia tidak bisa menggunakan ATM-nya. Waktu itu kita diberi tahu oleh bank bahwa kita tidak akan bisa menggunakan kartu kami untuk semua transaksi, dan hanya diberi waktu lima jam untuk menarik uang di ATM," ujarnya.

" Kami sangat terkejut dan harus berusaha untuk mendapat uang kami dan kami sekarang menggunakan Kripto. Rencana saya ke depannya, saya sudah bekerja di bidang online untuk mendapatkan uang dari klien saya. Dan saya juga punya Kripto dan saat ini saya mempunyai kartu lokal (ATM Indonesia)," sambungnya.

3 dari 4 halaman

Masih Ingin di Bali karena Lebih Aman

Dia kini lebih berhemat dalam memenuhi keperluan sehari-harinya. Jika dahulu Natalie dan teman-temannya sering pergi ke kafe atau tempat lainnya untuk refreshing. kebiasaan itu sudah tidak dilakukannya lagi.

Untuk menghemat pengeluarannya, Natalie bahkan berbagi kamar hotel atau menyewa satu kamar dan ditempati bersama kawan-kawannya.

" Saya harus lebih irit sekarang, share kamar hotel dengan teman, pergi ke kafe hanya sekali," ungkapnya.

Di sisi lain, walaupun kini akun Facebook, Instagram, TikTonya juga diblokir, ia masih berhubungan dengan keluarganya di Rusia dengan WhatsApp dan Telegram.

4 dari 4 halaman

Natalie mengaku belum berpikir untuk kembali ke negaranya. Wanita berambut pirang ini memilih tinggal sementara di daerah Canggu, Bali. Selain harga tiket pulang yang masih mahal, kondisi politik di Rusia menurutnya masih belum baik.

" Saya bisa kembali ke Rusia kapan saja. Tapi kondisi Rusia dengan isu politik sedang tidak bagus. Sekarang tidak punya sosmed, saya harus berusaha beradaptasi," ujarnya.

" Kakak saya seorang freelance dan dia memberi tahu bahwa akses internet semakin terbatas tiap hari, dan semua produk harganya dua kali lipat. Saya bisa saja pergi, saya sudah punya tiket, tapi saya tidak bisa pergi karena isu politik dan lebih aman tinggal di Bali," ujarnya.

(Sah, Sumber: Merdeka.com)

Beri Komentar