Penyakit Difteri (Foto: Medical.net)
Dream - Penyakit difteri kini kembali merebak di berbagai provinsi di Indonesia. Bukan hanya provinsi yang cakupan imunisasinya rendah, tapi juga yang tinggi seperti DKI Jakarta.
Kementerian Kesehatan baru saja mengumumkan kalau merebaknya kembali penyakit difteri sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Sampai saat ini tercatat ada 32 orang di 20 provinsi meninggal mendunia akibat penyakit difteri. Komplikasi penyakit difteri memang sangat mematikan. Gejala awal seperti flu biasa yang membuat penderitanya lengah dan menganggap tak perlu pengobatan intensif.
Tapi jika dibiarkan, bisa berujung pada sesak napas parah hingga gagal jantung. Seperti dikutip dari Klinik Anak Online, kuman corynebacterium diptheriae bisa memicu komplikasi yang
sangat parah yang bisa memicu kematian penderitanya.
Komplikasi tersebut antara lain masalah pernapasan. Bakteri difteri akan memproduksi racun yang akan mematikan sel pernapasan yang sehat, lalu membentuk membran abu-abu yang
dapat menghambat pernapasan.
Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. Hal ini berpotensi memicu reaksi peradangan pada paru-paru sehingga fungsinya akan menurun secara drastis dan menyebabkan gagal napas.
Racun dari difteri juga berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung atau miokarditis. Komplikasi ini dapat menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang
tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak.
Pada beberapa kasus difteri juga memicu kerusakan saraf. Toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki.
Paralisis pada diafragma akan membuat pasien tidak bisa bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator.
Paralisis diagfragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami
komplikasi umumnya dianjurkan untuk tetap di rumah sakit hingga 1,5 bulan. Selengkapnya baca di sini.
© Dream
Penyakit difteri sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri corynebacterium dan sangat mudah menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun. Jika seseorang menghirup partikel udara dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi, maka dapat terkena difteri.
Banyak yang mengira difteri merupakan flu biasa, karena memang gejalanya cukup mirip. Sehingga ketika dibawa ke dokter kondisinya sudah sangat parah dan tak tertolong. Untuk itu penting mengetahui gejala-gejala khas dari penyakit difteri ini. Apa saja gejalanya?
- Demam tak begitu tinggi sekitar 38 derajat celcius
- Munculnya pseudomembran / selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan. Selaput ini mudah berdarah jika dilepaskan
- Sakit waktu menelan, kadang juga disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck
- Bisa juga disertai sesak napas dan suara mengorok
- Nafsu makan menurun dan tubuh terasa sangat lesu
- Cairan hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah
Hal yang harus diperhatikan adalah munculnya selaput putih di tenggorokan. Bisa dilihat menggunakan senter untuk lebih jelas. Jika muncul selaput tersebut, apabila orang dewasa yang mengalami harus segera memeriksakan diri ke rumah sakit.
Apabila di rumah terdapat balita dan anak-anak dan belum divaksin difteri (DPT) segera berikan vaksin. Periksakan dulu ke dokter anak untuk memastikan ia tidak tertular. Jika tertular harus diobati lebih dulu untuk kemudian diberi vaksin.
Sumber: Kementerian Kesehatan/ Ikatan Dokter Anak Indonesia
© Dream
Kasus penyakit Difteri saat ini kembali merebak di berbagai daerah di Indonesia. Seperti Nganjuk, Cianjur, Aceh dan Cianjur. Beberapa orang dilaporkan meninggal karena terkena penyakit difteri pada 2017 ini.
Penyakit difteri sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri corynebacterium dan sangat mudah menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun. Bakteri tersebut menyebarkan penyakit melalui partikel di udara, benda pribadi, serta peralatan rumah tangga yang terkontaminasi.
Jika seseorang menghirup partikel udara dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi, maka dapat terkena difteri. Gejala difteri ini mirip seperti flu biasa. Antara lain demam tidak tinggi, nafsu makan menurun, lesu, nyeri menelan dan nyeri tenggorokan, cairan hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah.
Apabila diperiksa secara detail, tampak selaput berwarna putih keabu-abuan di dinding belakang tenggorokan. Penderita harus segera memeriksakan diri ke dokterjika mengalami gejala tersebut. Jika penangannya terlambat bisa menimbulkan kematian.
Sebenarnya difteri bisa dicegah dengan vaksinasi. Namun cakupan vaksin ini di beberapa daerah di Indonesia belum maksimal. Masih banyak masyarakat yang menolak untuk melakukan vaksin.
Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) pun mengimbau agar para orangtua untuk melengkapi imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) /DT (difteri dan tetanus)/Td (vaksin lanjutan tetanus dan difteri) sesuai jadwal imunisasi anak.
Untuk imunisasi difteri lengkap adalah sebagai berikut:
- Usia kurang dari 1 tahun harus mendapatkan 3 kali imunisasi difteri (DPT).
- Anak usia 1 sampai 5 tahun harus mendapatkan imunisasi ulangan sebanyak 2 kali.
- Anak usia sekolah harus mendapatkan imunisasi difteri melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) siswa sekolah dasar (SD) kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 atau kelas 5.
- Setelah itu, imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk orang dewasa. Apabila status imunisasi belum lengkap, segera lakukan imunisasi di fasilitas kesehatan terdekat.
Imbauan IDAI selengkapnya baca di sini.