Geger 3 Gudang Timbun Minyak Goreng di Sumut, Ada Puluhan Ribu Kemasan

Reporter : Cynthia Amanda Male
Minggu, 20 Februari 2022 18:48
Geger 3 Gudang Timbun Minyak Goreng di Sumut, Ada Puluhan Ribu Kemasan
Penimbun diminta untuk segera mendistribusikan minyak goreng ke masyarakat.

Dream - Belakangan ini, tengah ramai kasus penimbunan minyak goreng di beberapa daerah. Salah satunya ditemukan di gudang di kawasan Deli Serdang, Sumatera Utara.

Tak tanggung-tanggung, Tim Subdit I/Indag Dit Reskrimsus Polda Sumut dan Satgas Pangan menemukan minyak goreng yang sangat banyak dan disimpan di 3 gudang.

Tempat penyimpanan minyak goreng itu dimiliki oleh 3 perusahaan yang berbeda, yaitu PT Indormarco Prismatama, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk.

Masing-masing gudang perusahaan tersebut menimbun minyak goreng berukuran 1 liter sebanyak 1.184 kotak atau 23.680 pcs, 1.121 karton atau 22.420 pcs, dan 25.361 kotak.

1 dari 4 halaman

Minyak Goreng© Shutterstock

Ditemukannya ketiga gudang berisi timbunan minyak goreng tersebut merupakan hasil monitoring bahan pokok di wilayah Sumatera Utara yang diklaim tengah langka.

Hingga saat ini, timbunan minyak goreng tersebut masih diselidiki lebih lanjut. Pemilik gudang pun akan dimintai keterangan terkait hal tersebut.

" Iya, kita akan undang untuk klarifikasi, apakah ada indikasi penimbunan atau tidak. Tentunya jika ada indikasi pelanggaran hukum, tentu kita akan proses," ujar Direktur Reskrimsus Polda Sumut, Kombes Pol John Charles Edison Nababan pada Minggu 20 Februari 2022 dilansir dari Merdeka.com.

2 dari 4 halaman

Minyak Goreng© Shutterstock

Timbunan minyak goreng tersebut juga diminta segera didistribusikan ke toko-toko untuk bisa dikonsumsi masyarakat. Selain itu, Dit Reskrimsus Polda Sumut bersama Tim Satgas Pangan Provinsi masih memantau perkembangan harga dan ketersediaan bahan pokok.

Terutama, melakukan pemantauan seputar penimbunan bahan pokok dan memanfaatkan isu Covid-19 untuk keuntungan pribadi.

Berdasarkan penuturan John, produsen minyak goroeng telah diminta untuk mematuhi kebijakan pemerintah terkait DMO (Domestic Market Obligation) dan DPO (Domestic Price Obligation).

Sehingga, produsen minyak goreng mengutamakan kebutuhan CPO dalam negeri sebesar 20 persen. Sementara sisanya boleh diekspor keluar negeri.

Sedangkan untuk DPO, pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) per liter untuk masing-masing minyak goreng curah, kemasan sederhana, serta kemasan premium sebesar Rp11.500, Rp13.500, dan Rp14.000 per liter.

3 dari 4 halaman

Parah, Masyarakat Sampai Pinjam Bank Keliling Buat Kulakan Minyak Goreng

Dream - Kelangkaan minyak goreng mendorong masyarakat menempuh berbagai upaya untuk mendapatkannya. Bahkan muncul fenomena pinjaman bank keliling alias rentenir demi bisa beli minyak goreng dalam jumlah banyak.

Temuan ini diungkap Pendamping Masyarakat Yayasan Budaya Mandiri, Max Ohandi. Menurut dia, minyak goreng yang dibeli dengan uang pinjaman itu untuk dijual lagi.

Sidak ke Lapangan, DPR Dapat Temuan Minyak Goreng Belum Satu Harga Rp14 Ribu

" Kami menemukan warga sengaja beli minyak goreng dengan pinjam bank keliling," ujar Max.

Dari temuan yang didapat, Max menerangkan rata-rata warga meminjam ke bank keliling dengan besaran mulai Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Uang itu akan dikembalikan dengan cara dicicil 25 kali dan bunganya hampir setengah dari pokok pinjaman.

" Rata rata yang Rp500 ribu dibayar kembali menjadi Rp750 ribu. Pembayaran 25 kali bayar dan menurut mereka ini dipotong Rp150 ribu dari tabungan mereka," kata dia.

4 dari 4 halaman

Sementara, untuk bisa mendapatkan minyak murah, mereka menjalin kerja sama dengan petugas minimarket. Permintaan akan dilayani jika pembelian dilakukan dalam jumlah banyak.

" Misalnya mereka langsung menitipkan uang, ini buat minyak goreng satu minggu ke depan ke petugasnya," kata dia.

Minimarket Jual Minyak Goreng di Atas Rp14 Ribu per Liter, Adukan ke Nomor Kontak Ini

Max menilai fenomena ini memprihatinkan. Meski menjadi mudah dapat minyak goreng, masyarakat justru terjebak pinjaman dengan bunga mencekik.

Bahkan jika dilihat dari hasilnya, nilai pinjaman jadi tidak sesuai usaha yang dilakukan. Sebab, uang yang harus dikembalikan jadi lebih besar dan malah menggerus keuntungan.

" Kalau dihitung-hitung kan sama saja, sebab mereka akan mengembalikan uang pinjaman yang lebih besar," kata Max, dikutip dari Merdeka.com.

 

Beri Komentar