Dream - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak mengecam eksekusi mati terhadap 47 terduga teroris, termasuk ulama Syiah Syeikh Nimr Al Nimr oleh pengadilan Kerajaan Arab Saudi. Dia mengatakan eksekusi merupakan urusan hukum internal Saudi.
" Eksekusi di Arab Saudi merupakan materi hukum internal. Apakah Anda setuju atau tidak, itu merupakan persoalan terpisah," ujar Erdogan dalam sebuah wawancara di televisi.
Ini merupakan reaksi pertama Erdogan dengan kontroversi yang meningkatkan tensi ketegangan antara Saudi dengan Iran.
Bulan sebelumnya, Erdogan sempat berkunjung ke Riyadh dan berbincang dengan Raja Salman dan sejumlah elit politik Saudi. Pertemuan ini merupakan titik baru menghangatnya hubungan antara Ankara dengan kerajaan.
Turki dan Saudi memiliki pandangan yang sama dalam melihat konflik di Suriah. Baik Erdogan maupun Salman, keduanya yakin, tersingkirnya Bassar Al Assad dapat mengakhiri perang saudara yang berlangsung hampir lima tahun.
Sementara, ketegangan meningkat antara Turki dengan Iran, yang menjadi sekutu Rusia mendukung Assad.
Krisis bermula pada pekan ini saat Saudi mengeksekusi Al Nimr bersama 46 terduga teroris lainnya. Hal itu memicu sejumlah reaksi dari Teheran, salah satunya aksi protes dengan unjuk rasa.
Pengunjuk rasa Iran masuk ke dalam area kantor kedutaan Saudi dan melakukan perusakan serta pembakaran gedung. Saudi, Bahrain, dan Sudan memberi tanggapan dengan memutus hubungan diplomatik dengan Iran.
Selanjutnya, Erdogan menolak eksekusi tersebut bertujuan memprovokasi ketegangan dengan Muslim Syiah. Dia juga mengatakan serangan terhadap kantor kedutaan Saudi tidak dapat dibenarkan.
" Hanya tiga (dari mereka yang dieksekusi) merupakan penganut Syiah," kata Erdogan.
Perdana Menteri Turki Ahmed Davutoglu mendesak Iran dan Saudi untuk menenangkan ketegangan. Dia mengingatkan permusuhan antara dua kekuatan Muslim hanya akan memperumit masalah dan konflik yang terjadi di Timur Tengah dapat meledak.
(Ism, Sumber: alarabiya.net)