Keinginan Terakhir Mirna Sebelum Meninggal

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Kamis, 27 Oktober 2016 18:26
Keinginan Terakhir Mirna Sebelum Meninggal
Arief dan Mirna telah menyiapkan ruang khusus...

Dream - Suami mendiang Wayan Mirna Salihin, Arief Soemarko menyebut ada keinginan terakhir sebelum sang istri mangkat. Impian yang belum juga terwujud sampai istri tercintanya itu meregang nyawa.

" Banyak sekali impian almarhumah Mirna, yang paling penting dia ingin cepat punya anak sama saya," kata Arief di sela sidang vonis kasus Mirna, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis 27 Oktober 2016.

Arief dan Mirna bahkan telah menyediakan ruang khusus untuk anaknya kelak. Tetapi, kejadian pada 6 Januari 2016 lalu telah memupus harapannya dan Mirna.

" Bahkan kami sudah menyiapkan ruang baby. Ruang baby sudah kami persiapkan dan sekarang nggak bisa diapa-apain," ucap dia sambil berkaca-kaca.

Selanjutnya, dia berharap majelis hakim dapat memutuskan kasus ini dengan seadil-adilnya. " Intinya hukum ditegakkan di persidangan ini," tegas dia.

Saat ini majelis hakim masih membacakan pertimbangan kasus dugaan pembunuhan Mirna, dengan terdakwa tunggal Jessica Kumala Wongso. Jaksa Penuntut Umum menuntut Jessica dengan hukuman 20 tahun penjara. (Ism) 

1 dari 3 halaman

Curhatan Pilu Jessica Setelah Dituntut 20 Tahun Penjara

Dream - Terdakwa kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Jessica Kumala Wongso, sangat sedih saat mendengar tuntutan 20 tahun penjara yang dibacakan jaksa di dalam persidangan.

“ Jessica hanya diam, tatapannya kosong, namun tetap meneteskan air mata,” kata pengacara Jessica, Otto Hasibuan, Senin, 10 Oktober 2016.

Otto mengaku, kala itu dia ikut merasakan apa yang tengah dialami kliennya itu. Dia mengerti betul beban berat yang dirasakan Jessica.

“ Saya betul-betul ikut merasakan beban yang luar biasa berat yang harus ditanggung seorang wanita muda seperti Jessica,” ucap dia.

2 dari 3 halaman

Naskah Vonis Jessica Setebal 377 Halaman

Dream - Majelis hakim membacakan vonis terhadap terdakwa kasus dugaan pembunuhan dengan kopi bersianida Jessica Kumala Wongso. Sidang yang dimulai sejak sekitar pukul 13.00 WIB siang tadi belum juga selesai hingga petang ini. 

Ketua Majelis Hakim Kisworo mengatakan vonis hanya dibacakan hanya pada pokok bahasan. Menurut dia, keterangan ahli tidak akan dibacakan.

" Kepada penuntut umum dan kuasa hukum, karena keputusan ini sebanyak 377 halaman, jika tidak keberatan, maka keterangan saksi ahli tidak kami bacakan. Hanya disebutkan namanya saja," kata Kisworo di ruang sidang Kusumah Atmadja 2 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis, 27 Oktober 2016.

Hakim menimbang replik jaksa untuk mengesampingkn pleidoi terdakwa dengan alasan kuat. Hakim Kisworo menyatakan keterangan ahli hukum pidana, Prof Muzakir yang dihadirkan oleh tim kuasa hukum Jessica harus dikesampingkan.

Ini lantaran keterangan tersebut menyatakan bukti-bukti yang diajukan jaksa tidak sesuai dengan Peraturan Kapolri sehingga patut dikesampingkan.

" Majelis hakim berpendapat, alasan ahli dari kuasa hukum, Prof Muzakir harus dikesampingkan yang meminta Perkap Kapolri," ujar dia.

Kisworo menjelaskan, Perkap hanya untuk internal kepolisian dan bukan untuk umum. Sehingga keterangan Muzakir dapat dikesampingkan.

" (Perkap) bukan peraturan yang sejajar dengan KUHAP. Perkap hanya untuk internal kepolisian," jelas dia.

Menurut Kisworo, keterangan saksi hanya dipertimbangkan oleh majelis hakim sebagai keterangan materiil, bukan keterangan formil.

" Dalam mendengarkan keterangan saksi, yang dicari keterangan materiil, bukan keterangan formil," ucap dia. (Ism) 

3 dari 3 halaman

Pendukung Mirna dan Jessica Gaduh, Nyaris Diusir

Dream - Ruang sidang Kusumah Atmadja 2 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dipenuhi pengunjung sidang kasus kopi bersianida. Mereka merupakan pendukung terdakwa Jessica Kumala Wongso dan keluarga Wayan Mirna Salihin.

Masing-masing pendukung mengucapkan yel-yel. Pendukung Mirna meminta Jessica dihukum mati, sementara pendukung Jessica meminta terdakwa dibebaskan.

Yel-yel itu menimbulkan kegaduhan di ruang sidang. Kapolsek Kemayoran, Kompol Adri Desas Furyanto, segera menegur para pendukung dan meminta mereka tenang.

" Semuanya tolong tenang, biarkan hakim yang memutuskan. Jangan ada orasi di dalam sini. Kalau mau orasi di luar pagar," kata Adri di PN Jakarta Pusat, Kamis 27 Oktober 2016.

Beri Komentar